Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

EKOBIS

Catatan Iwan Piliang: Toke Sawit dan Mental Takut Miskin

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Toke Sawit dan Mental Takut Miskin Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Di banyak daerah penghasil sawit, ada gejala lama yang terus berulang: ketika muncul isu kebijakan baru, ketika ada kabar perubahan pajak, atau sekadar rumor pasar global, para toke tandan sawit buru-buru menurunkan harga beli ke petani. Belum apa-apa, harga sudah dipotong Rp300 sampai Rp1.000 per kilogram.

Cepat sekali mereka panik. Cepat sekali mereka menghukum petani.

Padahal, kalau kita membaca keadaan secara utuh, harga CPO dunia sedang tinggi. Permintaan ekspor masih kuat. Kebutuhan dalam negeri juga meningkat karena kebijakan B-50 yang membutuhkan pasokan sawit lebih besar. Secara logika pasar, mestinya petani ikut menikmati momentum ini. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: petani kembali dijadikan bantalan pertama setiap ada kekhawatiran.

Inilah watak dagang yang menurut saya bermasalah. Mental takut miskin.

Mereka sudah bertahun-tahun menikmati kekayaan dari tanah, dari kebun, dari keringat para petani kecil. Badan makin tambun, gudang makin penuh, kendaraan makin mahal. Tetapi rasa takut rugi tetap menjadi watak utama. Bahkan sebelum rugi benar-benar datang, mereka lebih dahulu menginjak warga di bawah.

Yang dipikirkan bukan bagaimana berbagi risiko, melainkan bagaimana menyelamatkan margin sendiri secepat mungkin.

Padahal ekonomi daerah tidak akan sehat jika rantai niaga dikuasai mental seperti ini. Petani selalu ditekan saat harga turun, tetapi tidak pernah benar-benar ikut menikmati saat harga naik. Ketika untung besar datang, keuntungan menumpuk di segelintir tangan. Namun ketika ada potensi tekanan pasar, rakyat kecil yang pertama diminta menanggung beban.

Lalu kita heran mengapa ketimpangan di daerah penghasil sawit tidak pernah selesai.

Karena itu saya sering mengatakan: jangan sampai pejabat daerah, anggota DPRD, atau elite lokal ikut latah menjadi “cemen” seperti ini. Jabatan publik bukan alat untuk ikut menjaga ketakutan para pemodal, melainkan memastikan keadilan ekonomi tetap berjalan.

Negara harus hadir membaca situasi secara jernih. Kalau harga global bagus, kalau permintaan meningkat, maka petani juga berhak menikmati harga yang layak. Jangan setiap ada desas-desus kebijakan, yang langsung dipotong justru penghasilan rakyat kecil.

Keberanian ekonomi itu diuji saat situasi belum pasti. Bukan dengan buru-buru menekan yang lemah.

Sebab daerah yang kuat bukan daerah yang hanya kaya sumber daya, melainkan daerah yang punya keberanian moral untuk tidak terus-menerus membebankan ketakutan elite kepada rakyatnya.***

Jakarta – 2026.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

ADEXCO Dorong Industrialisasi Kebencanaan dari Hulu ke Hilir, Dukung Penanganan Kahutla

25 Agustus 2026 - 08:42 WIB

Garuda Indonesia dan Citilink  Sabet Rating Keselamatan Tertinggi

25 Agustus 2026 - 07:51 WIB

Citilink Raih Sertifikasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan

24 Agustus 2026 - 11:09 WIB

Cilegon Jadi Klaster Industri Baru, Proyeksi Pabrik Kendaraan Listrik Rp10 Triliun

24 Agustus 2026 - 05:51 WIB

Kapasitas Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta Ditarget Naik 75% usai Revitalisasi

24 Agustus 2026 - 05:43 WIB

Tol HBR II Setinggi 38 Meter, Ditargetkan Rampung Awal 2028

23 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Angkut Bantuan dengan Kapal PELNI, Kemenhub Beri Potongan Harga 100 Persen

21 Agustus 2026 - 19:07 WIB

Ciputra Life Catat Kinerja Positif 2025 dan Berlanjut di Semester I-2026

21 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Rumput Laut dan Agar-agar Indonesia Bebas Tarif Tambahan AS, Peluang Pasar Ekspor Makin Terbuka

21 Agustus 2026 - 14:17 WIB

Kemenhub Perkuat Pengelolaan Keuangan 2026

21 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Trending di EKOBIS