Menu ✖

Mode Gelap
Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎ KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang, 748 Petugas PJL Disertifikasi hingga Tutup 1.329 Perlintasan Liar

RAGAM

Daerah Kaligawe Km 5 Semarang Banjir Saat Kemarau Panjang, Fenomena Apa ?

badge-check


 Daerah Kaligawe Km 5 Semarang Banjir Saat Kemarau Panjang, Fenomena Apa ? Perbesar

Wartatrans.com, SEMARANG — Pada hari Senin (22/09/2026) pagi, peristiwa langka terjadi di Semarang. Di saat semua sungai mengering karena kemarau panjang, daerah Kaligawe Km 5 Semarang malah tergenang air. Banjir setinggi 20 Cm hanya terjadi di depan pintu timur RSI Sultan Agung dan sekitar terminal Terboyo.

Peristiwa ini viral di dunia maya dan berbagai tanggapan muncul. Kebanyakan warganet menduga peristiwa tidak biasa ini terjadi karena tanggul penahan air laut bocor sehingga air meluap keluar. Dari penelusuran Wartatrans.com, tidak ada tanggul yang bocor.

Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Eddy Hermawan mengatakan ada dua faktor utama terjadinya banjir di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah terutama Semarang.

Yang pertama karena kenaikan air muka laut dan yang kedua karena pemakaian air tanah yang berlebihan. Pembangunan gedung – gedung yang intensif dilakukan di kawasan Pantura Jateng membutuhkan pemakaian volume air tanah yang sangat tinggi. Tanpa disadari ini memicu terjadinya penurunan muka tanah.

“Kawasan Semarang begitu intensif, gedung-gedung besar sudah mulai dibangun. Di Jakarta ada giant sea wall tapi di Semarang belum ada. Alhasil Semarang adalah pemakai land subsidence terbesar setelah Pekalongan, Jakarta saja rangking ketiga, Semarang kedua. Ini hasil pantauan satelit selama 20 tahun,” kata Eddy.

Selanjutnya Eddy menjelaskan bahwa pergerakan semu bumi terhadap matahari juga menentukan terjadinya rob. Posisinya menentukan sekali. Kawasan yang dipanasi akan menjadikan permukaan di bawahnya menjadi pusat tekanan rendah.

Eddy juga heran dengan terjadinya rob lokal di Semarang tersebut. Ini karena posisi matahari saat ini sudah meninggalkan equator Indonesia. Menurutnya, ada mekanisme lain yang menghambat di atas Semarang sehingga air ditumpahkan di sini. Fenomena ini menarik untuk diteliti lebih mendalam.***

(Aditiya Widodo Putra)

Baca Lainnya

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Dari Control Room ke Lapangan, Peserta Magenta Intip Langsung Operasional IPC TPK

30 September 2026 - 11:13 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Kejari Langsa Sita Rp250,9 Juta, Pulihkan Kerugian Negara dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase

30 September 2026 - 02:39 WIB

Trending di RAGAM