Wartatrans.com, MAGELANG – Demi pelestarian budaya, menjelang perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE pada 31 Mei 2026, Arca Unfinished Buddha di kawasan Candi Borobudur resmi dilakukan pemindahan ke lokasi asal.
Selain pelestarian budaya, langkah ini juga sebagai penguatan fungsi spiritual kawasan, serta penataan ekosistem peribadatan yang lebih berkelanjutan.

Pemindahan arca dilakukan melalui kolaborasi lintas pihak antara lain Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB), Kementerian Agama, InJourney Destination Management, para Bhikkhu, dan komunitas masyarakat adat setempat, guna memastikan aspek pelestarian dan keberlanjutan situs cagar budaya tetap terjaga.
Kepala Museum & Cagar Budaya, Esti Nurjadin mengatakan, Arca Unfinished Buddha dipindahkan ke Lapangan Kenari yang berada di Zona I kawasan Candi Borobudur, tepatnya di area barat daya candi dan ditempatkan di antara dua pohon kenari yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi kawasan tersebut.
“Langkah ini tak hanya menjadi bagian dari pelestarian warisan budaya dunia, namun juga menghadirkan ruang spiritual yang lebih representatif dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tutur Esti ditulis Jumat (29/5/2026).
“Seluruh proses dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai pelestarian cagar budaya, menghormati Masyarakat dan adat setempat, guna memastikan tata Kelola Kawasan yang berkelanjutan agar Borobudur tetap terjaga sebagai pusat spiritual dan budaya dunia.”
Sebagai Holding di sektor aviasi dan pariwisata, InJourney menilai bahwa pemindahan ini merupakan bagian dari penataan kawasan spiritual Borobudur agar masyarakat dapat menjalankan ritual dan aktivitas peribadatan dengan lebih khusyuk.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono menjelaskan, Borobudur sebagai candi Buddha terbesar di dunia, memiliki peranan penting bagi umat Buddha namun juga sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya yang memiliki nilai spiritual dan sakral yang tinggi bagi masyarakat setempat.
“Pengembangan Borobudur sebagai destinasi spiritual dan budaya berkelas dunia harus berjalan selaras antara pelestarian warisan budaya, penguatan nilai spiritual, dan pengembangan ekosistem pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” ungkap Maya.
Melalui kolaborasi bersama pemerintah, tokoh agama, dan komunitas lokal kami ingin memastikan Borobudur tetap lestari sekaligus relevan sebagai spiritual and pilgrimage destination kelas dunia yangg memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat luas.
Prosesi pemindahan arca turut diwarnai dengan ritual adat dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai budaya, spiritualitas, dan harmoni masyarakat sekitar kawasan Borobudur.
Momentum ini sekaligus menjadi simbol penguatan hubungan antara pelestarian heritage dengan kehidupan spiritual masyarakat yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan menambahkan, pemindahan Arca Unfinished Buddha ke Kawasan Lapangan Kenari dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
“Penempatan arca di area penyangga ritual diharapkan dapat mendukung terciptanya sirkulasi kegiatan spiritual yang lebih tertata, menghadirkan ruang ibadah yang lebih representatif bagi umat, sekaligus menjaga kualitas pengalaman pengunjung,” jelas Febrina.
Sebagai bagian dari transformasi kawasan Borobudur menjadi destinasi spiritual dan pilgrimage kelas dunia, pihaknya terus mendorong pengembangan ekosistem pariwisata yang berorientasi pada pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan di kawasan strategis nasional Borobudur. (omy)





























