Wartatrans.com, MAKASAR — Upaya menghidupkan kembali kejayaan rempah di Sulawesi Selatan mulai memasuki fase konkret. Terbentuknya Pengurus Wilayah Dewan Rempah Kejayaan Indonesia (DRKI) Sulsel menandai konsolidasi serius lintas pemangku kepentingan untuk menjadikan rempah sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi daerah.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan pengurus DRKI Sulsel dengan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi. Dalam kesempatan itu, Fatmawati menilai kebangkitan rempah bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan peluang nyata yang selama ini kurang mendapat perhatian.

“Sulawesi Selatan memiliki kekayaan rempah yang besar, dari lada, cengkeh, kayu manis hingga nilam. Ini bukan komoditas masa lalu, tapi aset masa depan jika dikelola serius,” ujar Fatmawati.
Ia menegaskan dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terhadap gerakan Dewan Rempah, termasuk kesiapannya menghadiri pelantikan pengurus wilayah yang dijadwalkan pada 5 Februari 2026 mendatang.
Ketua Wilayah DRKI Sulsel, Dr. Hj. Andi Nurhidayati Zainuddin, M.Si, menyatakan bahwa pembentukan kepengurusan bukan tujuan akhir, melainkan titik awal kerja nyata di lapangan. Menurutnya, rempah harus kembali ditempatkan sebagai komoditas strategis yang memberi nilai tambah bagi petani.
“Setelah dilantik, kami tidak akan berlama-lama. Kami akan langsung bergerak mendampingi petani, memperkuat hulu–hilir, dan memastikan rempah Sulsel memiliki posisi tawar yang lebih baik,” kata Nurhidayati.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi pengembangan rempah dengan sektor pangan utama lainnya. Selama ini, Sulawesi Selatan dikenal sebagai lumbung beras nasional, namun potensi rempah dinilai belum tergarap optimal.
“Sulsel bukan hanya lumbung pangan, tapi juga ladang rempah. Dua kekuatan ini harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Wilayah DRKI Sulsel, Arif Ardiansyah, mengungkapkan bahwa pelantikan pengurus akan dirangkaikan dengan agenda berskala nasional, sebagai sinyal bahwa kebangkitan rempah Sulsel merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas.
“Selain pelantikan, akan digelar Seminar Nasional Kejayaan Rempah dan Pameran Rempah. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi ruang konsolidasi gagasan dan jejaring untuk mendorong kebangkitan rempah Indonesia dari Sulawesi Selatan,” jelas Arif.
Dengan agenda tersebut, Dewan Rempah Sulsel berharap rempah tidak lagi dipandang sebagai komoditas pelengkap, melainkan sebagai kekuatan ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat identitas Sulawesi Selatan di tingkat nasional maupun global.*** (Rintoh R)
























