Menu

Mode Gelap
Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000 Pegawai KSOP Utama Tanjung Priok Raih Medali Emas ISKA, Harumkan Nama Kemenhub

SENI BUDAYA

Sejarah Komunitas Kartunis Indonesia: Dari Pakyo hingga Lahirnya Pakarti

badge-check


 Sejarah Komunitas Kartunis Indonesia: Dari Pakyo hingga Lahirnya Pakarti Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Perjalanan seni kartun di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran komunitas-komunitas yang tumbuh sejak akhir 1970-an. Dari ruang-ruang sederhana hingga panggung internasional, para kartunis Indonesia membangun ekosistem kreatif yang kuat dan berpengaruh.

Sejumlah nama seperti Pramono Pramujo, Dwi Koendoro, GM Sudarta, hingga Jaya Suprana menjadi bagian dari generasi yang ikut membesarkan dunia kartun nasional.

Tonggak awal komunitas kartunis di Indonesia ditandai dengan berdirinya Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta) pada 1979. Kelompok ini dipimpin Azwar An bersama Anwar Rosyid, Ashady, dan FX Subroto, serta didukung sejumlah anggota aktif.

Perkembangan kemudian berlanjut pada 1981 dengan lahirnya Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu) di bawah pimpinan Darminto M. Sudarmo, serta Brigade Kelompok Kecil di Wonogiri yang dipimpin Mayor Haristanto.

Pada 1982, Semarang mulai menunjukkan perannya melalui berdirinya Wak Semar dan Secac (Semarang Cartoonists Club). Secac kemudian berkembang pesat dengan ratusan anggota aktif dan menjadi motor penggerak komunitas kartunis di berbagai daerah.

Keunikan Secac adalah kebiasaan para anggotanya mencantumkan nama organisasi dalam setiap karya yang dimuat di media. Hal ini menjadi inspirasi bagi kartunis di berbagai daerah untuk membentuk komunitas serupa.

“Waktu itu, setiap kartun yang dimuat selalu membawa nama komunitas. Dari situ muncul rasa bangga dan kebersamaan, lalu banyak daerah ikut membentuk kelompok,” ungkap Jan Praba.

Dari semangat tersebut, lahirlah berbagai kelompok kartunis di Indonesia, termasuk Perkara di Jakarta yang kemudian melahirkan Kelompok Kartunis Senja (Seniman Jakarta) yang digawangi oleh Jan Praba.

Selain itu, pada 1991 berdiri KAPOK (Kelompok Kartunis Depok) yang dimotori oleh Putra Gara, yang saat itu masih duduk di bangku SMP—menjadi bukti bahwa semangat berkartun juga tumbuh kuat di kalangan generasi muda.

“Dulu kalau kirim kartun ke media cetak, saya selalu pake surat pengantar berlogo KAPOK, biar dikira profesional dan organisatoris. Padahal waktu itu saya masih sekolah SMP. Tapi redaktur medianya pasti nggak tahu kalau yang kirim itu anak madih ABG,” cerita Gara sambil tertawa.

Dinamika dan pertumbuhan berbagai komunitas kartunis di seluruh Indonesia pada akhirnya bermuara pada terbentuknya wadah yang lebih besar, yaitu Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia) yang didirikan pada 13 Desember 1989.

PAKARTI dibentuk sebagai wadah pemersatu para kartunis Indonesia, yang pada awalnya beranggotakan berbagai organisasi kartun daerah dan kartunis individu.

Wadah ini bertujuan menjadi “rumah besar” bagi para kartunis untuk mengembangkan kreativitas, solidaritas, dan menyuarakan kritik sosial melalui media kartun.

Saat ini PAKARTI diketua oleh Abdullah Ibnu Thalhah, ia terpilih sebagai nahkoda PAKARTI untuk periode 2025–2030, dengan fokus pada penguatan organisasi dan wacana perwujudan Museum Kartun Indonesia.

Daru berbagai kelompok itu, akhirnya muncul kesadaran bahwa kartunis Indonesia perlu satu wadah bersama. Pakarti menjadi titik temu sekaligus simbol persatuan,” ujar Non O, salah satu tokoh kartunis yang namanya cukup mencer didunia perkartunisan.

Secara historis, Pakarti mulai terbentuk pada akhir dekade 1980-an hingga awal 1990-an, seiring semakin intensnya interaksi antar komunitas melalui pameran, lomba, dan temu kartunis nasional.

Sebelum lahirnya wadah nasional tersebut, Semarang telah lebih dahulu mencatat sejarah penting dengan menggelar Temu Kartunis Nasional dan Pameran Kartun Nasional pertama pada 1984.

Puncaknya terjadi pada 1987 melalui penyelenggaraan Candalaga Mancanegara International Cartoon Festival, yang diikuti 31 negara. Festival ini menjadi yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara, bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia saat itu.

“Ini bukan sekadar pameran, tapi momentum pembuktian bahwa kartunis Indonesia mampu berbicara di level dunia,” ujar Priyo, salah satu kartunis Semarang yang kini menetap di Magelang.

Karya para peserta dipamerkan di Semarang pada Januari hingga Februari 1988, kemudian dilanjutkan ke Padang dalam rangka Hari Pers Nasional. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Menteri Penerangan saat itu, Harmoko.

Kesuksesan berbagai kegiatan nasional dan internasional tersebut membuat Semarang dijuluki sebagai “Ibu Kota Kartunis Indonesia”. Dukungan organisasi seperti Pertamor yang dipimpin Jaya Suprana turut memperkuat ekosistem tersebut.

Hingga kini, semangat komunitas tetap hidup dan menjadi fondasi bagi perkembangan kartun Indonesia.

“Kalau dulu kita bergerak dengan alat sederhana, sekarang peluang lebih besar. Tinggal bagaimana semangat kebersamaan itu tetap dijaga,” kata Non O mengakhiri.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA