Menu ✖

Mode Gelap
Menperin Lantik Pengurus Pusat Iperindo Periode 2026–2030 Dampak Karhutla, 3 Laga Bola Isenmulang Pindah Lokasi Menembus Bukit Sejak Zaman Kolonial, Ini 10 Terowongan Kereta Api Tertua Hingga September, Penumpang Transjakarta-MRT-LRT Jakarta Tembus 368,4 Juta MRA Indonesia–Portugal Buka Peluang Awak Kapal Perikanan Indonesia Bekerja di Level Global KAI Layani 394 Juta Pelanggan, Integrasi Kereta dan Transportasi Kota Makin Luas

SENI BUDAYA

Sejarah Komunitas Kartunis Indonesia: Dari Pakyo hingga Lahirnya Pakarti

badge-check


 Sejarah Komunitas Kartunis Indonesia: Dari Pakyo hingga Lahirnya Pakarti Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Perjalanan seni kartun di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran komunitas-komunitas yang tumbuh sejak akhir 1970-an. Dari ruang-ruang sederhana hingga panggung internasional, para kartunis Indonesia membangun ekosistem kreatif yang kuat dan berpengaruh.

Sejumlah nama seperti Pramono Pramujo, Dwi Koendoro, GM Sudarta, hingga Jaya Suprana menjadi bagian dari generasi yang ikut membesarkan dunia kartun nasional.

Tonggak awal komunitas kartunis di Indonesia ditandai dengan berdirinya Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta) pada 1979. Kelompok ini dipimpin Azwar An bersama Anwar Rosyid, Ashady, dan FX Subroto, serta didukung sejumlah anggota aktif.

Perkembangan kemudian berlanjut pada 1981 dengan lahirnya Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu) di bawah pimpinan Darminto M. Sudarmo, serta Brigade Kelompok Kecil di Wonogiri yang dipimpin Mayor Haristanto.

Pada 1982, Semarang mulai menunjukkan perannya melalui berdirinya Wak Semar dan Secac (Semarang Cartoonists Club). Secac kemudian berkembang pesat dengan ratusan anggota aktif dan menjadi motor penggerak komunitas kartunis di berbagai daerah.

Keunikan Secac adalah kebiasaan para anggotanya mencantumkan nama organisasi dalam setiap karya yang dimuat di media. Hal ini menjadi inspirasi bagi kartunis di berbagai daerah untuk membentuk komunitas serupa.

“Waktu itu, setiap kartun yang dimuat selalu membawa nama komunitas. Dari situ muncul rasa bangga dan kebersamaan, lalu banyak daerah ikut membentuk kelompok,” ungkap Jan Praba.

Dari semangat tersebut, lahirlah berbagai kelompok kartunis di Indonesia, termasuk Perkara di Jakarta yang kemudian melahirkan Kelompok Kartunis Senja (Seniman Jakarta) yang digawangi oleh Jan Praba.

Selain itu, pada 1991 berdiri KAPOK (Kelompok Kartunis Depok) yang dimotori oleh Putra Gara, yang saat itu masih duduk di bangku SMP—menjadi bukti bahwa semangat berkartun juga tumbuh kuat di kalangan generasi muda.

“Dulu kalau kirim kartun ke media cetak, saya selalu pake surat pengantar berlogo KAPOK, biar dikira profesional dan organisatoris. Padahal waktu itu saya masih sekolah SMP. Tapi redaktur medianya pasti nggak tahu kalau yang kirim itu anak madih ABG,” cerita Gara sambil tertawa.

Dinamika dan pertumbuhan berbagai komunitas kartunis di seluruh Indonesia pada akhirnya bermuara pada terbentuknya wadah yang lebih besar, yaitu Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia) yang didirikan pada 13 Desember 1989.

PAKARTI dibentuk sebagai wadah pemersatu para kartunis Indonesia, yang pada awalnya beranggotakan berbagai organisasi kartun daerah dan kartunis individu.

Wadah ini bertujuan menjadi “rumah besar” bagi para kartunis untuk mengembangkan kreativitas, solidaritas, dan menyuarakan kritik sosial melalui media kartun.

Saat ini PAKARTI diketua oleh Abdullah Ibnu Thalhah, ia terpilih sebagai nahkoda PAKARTI untuk periode 2025–2030, dengan fokus pada penguatan organisasi dan wacana perwujudan Museum Kartun Indonesia.

Daru berbagai kelompok itu, akhirnya muncul kesadaran bahwa kartunis Indonesia perlu satu wadah bersama. Pakarti menjadi titik temu sekaligus simbol persatuan,” ujar Non O, salah satu tokoh kartunis yang namanya cukup mencer didunia perkartunisan.

Secara historis, Pakarti mulai terbentuk pada akhir dekade 1980-an hingga awal 1990-an, seiring semakin intensnya interaksi antar komunitas melalui pameran, lomba, dan temu kartunis nasional.

Sebelum lahirnya wadah nasional tersebut, Semarang telah lebih dahulu mencatat sejarah penting dengan menggelar Temu Kartunis Nasional dan Pameran Kartun Nasional pertama pada 1984.

Puncaknya terjadi pada 1987 melalui penyelenggaraan Candalaga Mancanegara International Cartoon Festival, yang diikuti 31 negara. Festival ini menjadi yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara, bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia saat itu.

“Ini bukan sekadar pameran, tapi momentum pembuktian bahwa kartunis Indonesia mampu berbicara di level dunia,” ujar Priyo, salah satu kartunis Semarang yang kini menetap di Magelang.

Karya para peserta dipamerkan di Semarang pada Januari hingga Februari 1988, kemudian dilanjutkan ke Padang dalam rangka Hari Pers Nasional. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Menteri Penerangan saat itu, Harmoko.

Kesuksesan berbagai kegiatan nasional dan internasional tersebut membuat Semarang dijuluki sebagai “Ibu Kota Kartunis Indonesia”. Dukungan organisasi seperti Pertamor yang dipimpin Jaya Suprana turut memperkuat ekosistem tersebut.

Hingga kini, semangat komunitas tetap hidup dan menjadi fondasi bagi perkembangan kartun Indonesia.

“Kalau dulu kita bergerak dengan alat sederhana, sekarang peluang lebih besar. Tinggal bagaimana semangat kebersamaan itu tetap dijaga,” kata Non O mengakhiri.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Setelah Vakum Sejak 2010, Dewan Kesenian Aceh Tengah Diupayakan Aktif Kembali

21 Oktober 2026 - 19:41 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Apresiasi Semarak Kebudayaan Kabupaten Bogor, Dorong Pelestarian Budaya dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

21 Oktober 2026 - 12:56 WIB

BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua

21 Oktober 2026 - 08:51 WIB

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Trending di SENI BUDAYA