Wartatrans.com — Musibah selalu memaksa masyarakat untuk bertanya ulang tentang hal-hal yang selama ini dianggap mapan—termasuk seni dan tradisi. Di Tanah Gayo, banjir, longsor, dan kehilangan yang datang berulang kali bukan hanya menguji ketangguhan infrastruktur, tetapi juga ketahanan sosial dan kultural. Dalam situasi semacam itu, seni didong kerap hadir. Namun pertanyaannya bukan sekadar apakah ia masih ada, melainkan apa fungsinya ketika kenyataan sedang runtuh.
Didong selama ini dikenal sebagai seni tutur kolektif masyarakat Gayo: syair, ritme, dan suara yang berpadu dalam kebersamaan. Ia lazim dipentaskan dalam ruang-ruang perayaan atau pertemuan sosial. Tetapi ketika musibah terjadi, konteksnya berubah. Didong tidak lagi berhadapan dengan kegembiraan, melainkan dengan duka, trauma, dan ketidakpastian. Di titik inilah peran seni diuji: apakah ia tetap relevan, atau justru kehilangan pijakan.

Alih-alih menjadi pelarian dari realitas, didong justru sering berfungsi sebagai medium konfrontasi terhadap kenyataan itu sendiri. Syair-syair yang dilantunkan pasca-musibah tidak menutup-nutupi penderitaan. Mereka menyebut kehilangan, menyuarakan kegelisahan, dan mengakui keterbatasan manusia di hadapan alam dan kehendak Tuhan. Dalam konteks ini, didong tidak bekerja sebagai hiburan dalam pengertian populer, melainkan sebagai mekanisme sosial untuk mengelola rasa kehilangan.
Berbeda dengan pendekatan psikologis individual, didong bergerak pada level kolektif. Ia mengumpulkan orang-orang yang sama-sama terdampak dalam satu ruang emosional. Tidak ada pemisahan tegas antara yang berduka dan yang menghibur. Semua berada dalam posisi yang setara sebagai bagian dari komunitas yang terluka. Efeknya bukan penyembuhan instan, tetapi pemulihan perlahan atas rasa keterhubungan yang sempat rapuh.
Dari sudut pandang ini, didong dapat dibaca sebagai praktik sosial yang menopang ketahanan komunitas. Ia membantu masyarakat mempertahankan narasi bersama tentang siapa mereka, apa yang mereka alami, dan bagaimana mereka menafsirkan musibah. Ketika syair tentang bencana masuk ke dalam tradisi tutur, musibah tidak lagi menjadi peristiwa yang terisolasi, melainkan bagian dari sejarah kolektif yang diingat dan dipelajari.
Namun, penting pula untuk melihat batasannya. Didong tidak dapat menggantikan peran negara, kebijakan publik, atau bantuan material. Ia tidak menyelesaikan persoalan struktural yang sering memperparah dampak bencana. Akan tetapi, menilai seni hanya dari kemampuannya menyelesaikan masalah fisik adalah kekeliruan. Di wilayah yang sering diabaikan—batin, makna, dan rasa kebersamaan—didong justru bekerja paling efektif.
Dalam konteks masyarakat pasca-musibah, keberadaan didong menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari beton dan anggaran, tetapi dari kemampuan komunitas untuk tetap berbicara satu sama lain. Seni ini menjaga agar duka tidak menjadi pengalaman yang terfragmentasi dan sunyi. Ia menahan masyarakat agar tidak tercerai-berai oleh trauma yang tak terucap.
Dengan demikian, pertanyaan tentang peran didong seharusnya tidak berhenti pada fungsi menghibur atau tidak. Yang lebih penting adalah memahami bahwa didong adalah bagian dari cara masyarakat Gayo merespons krisis: dengan merawat ingatan, menjaga solidaritas, dan menegaskan bahwa penderitaan tidak dihadapi sendirian. Di tengah situasi darurat yang sering menuntut kecepatan dan hasil terukur, didong mengingatkan bahwa ada proses pemulihan yang berjalan lebih lambat—namun tidak kalah penting—yakni pemulihan makna.*** (LK Ara)





























