Menu

Mode Gelap
KAI Perkuat Safety at Scale di Tengah Pertumbuhan Pelanggan 8,32 Persen Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Jakarta Butuh Hub Logistik Dirjen Perhubungan Udara Tinjau Bandara Terdampak Gempa NTT Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan Sempat Memanas Gegara Lagu, Valdy Nyonk dan Ecko Show Akhirnya Berdamai

SENI BUDAYA

Didong di Tengah Musibah: Ketika Seni Diuji oleh Luka Kolektif

badge-check


 Didong di Tengah Musibah: Ketika Seni Diuji oleh Luka Kolektif Perbesar

Wartatrans.com — Musibah selalu memaksa masyarakat untuk bertanya ulang tentang hal-hal yang selama ini dianggap mapan—termasuk seni dan tradisi. Di Tanah Gayo, banjir, longsor, dan kehilangan yang datang berulang kali bukan hanya menguji ketangguhan infrastruktur, tetapi juga ketahanan sosial dan kultural. Dalam situasi semacam itu, seni didong kerap hadir. Namun pertanyaannya bukan sekadar apakah ia masih ada, melainkan apa fungsinya ketika kenyataan sedang runtuh.

Didong selama ini dikenal sebagai seni tutur kolektif masyarakat Gayo: syair, ritme, dan suara yang berpadu dalam kebersamaan. Ia lazim dipentaskan dalam ruang-ruang perayaan atau pertemuan sosial. Tetapi ketika musibah terjadi, konteksnya berubah. Didong tidak lagi berhadapan dengan kegembiraan, melainkan dengan duka, trauma, dan ketidakpastian. Di titik inilah peran seni diuji: apakah ia tetap relevan, atau justru kehilangan pijakan.

Alih-alih menjadi pelarian dari realitas, didong justru sering berfungsi sebagai medium konfrontasi terhadap kenyataan itu sendiri. Syair-syair yang dilantunkan pasca-musibah tidak menutup-nutupi penderitaan. Mereka menyebut kehilangan, menyuarakan kegelisahan, dan mengakui keterbatasan manusia di hadapan alam dan kehendak Tuhan. Dalam konteks ini, didong tidak bekerja sebagai hiburan dalam pengertian populer, melainkan sebagai mekanisme sosial untuk mengelola rasa kehilangan.

Berbeda dengan pendekatan psikologis individual, didong bergerak pada level kolektif. Ia mengumpulkan orang-orang yang sama-sama terdampak dalam satu ruang emosional. Tidak ada pemisahan tegas antara yang berduka dan yang menghibur. Semua berada dalam posisi yang setara sebagai bagian dari komunitas yang terluka. Efeknya bukan penyembuhan instan, tetapi pemulihan perlahan atas rasa keterhubungan yang sempat rapuh.

Dari sudut pandang ini, didong dapat dibaca sebagai praktik sosial yang menopang ketahanan komunitas. Ia membantu masyarakat mempertahankan narasi bersama tentang siapa mereka, apa yang mereka alami, dan bagaimana mereka menafsirkan musibah. Ketika syair tentang bencana masuk ke dalam tradisi tutur, musibah tidak lagi menjadi peristiwa yang terisolasi, melainkan bagian dari sejarah kolektif yang diingat dan dipelajari.

Namun, penting pula untuk melihat batasannya. Didong tidak dapat menggantikan peran negara, kebijakan publik, atau bantuan material. Ia tidak menyelesaikan persoalan struktural yang sering memperparah dampak bencana. Akan tetapi, menilai seni hanya dari kemampuannya menyelesaikan masalah fisik adalah kekeliruan. Di wilayah yang sering diabaikan—batin, makna, dan rasa kebersamaan—didong justru bekerja paling efektif.

Dalam konteks masyarakat pasca-musibah, keberadaan didong menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari beton dan anggaran, tetapi dari kemampuan komunitas untuk tetap berbicara satu sama lain. Seni ini menjaga agar duka tidak menjadi pengalaman yang terfragmentasi dan sunyi. Ia menahan masyarakat agar tidak tercerai-berai oleh trauma yang tak terucap.

Dengan demikian, pertanyaan tentang peran didong seharusnya tidak berhenti pada fungsi menghibur atau tidak. Yang lebih penting adalah memahami bahwa didong adalah bagian dari cara masyarakat Gayo merespons krisis: dengan merawat ingatan, menjaga solidaritas, dan menegaskan bahwa penderitaan tidak dihadapi sendirian. Di tengah situasi darurat yang sering menuntut kecepatan dan hasil terukur, didong mengingatkan bahwa ada proses pemulihan yang berjalan lebih lambat—namun tidak kalah penting—yakni pemulihan makna.*** (LK Ara)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sempat Memanas Gegara Lagu, Valdy Nyonk dan Ecko Show Akhirnya Berdamai

30 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah

30 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Aset Master Lagu Diduga Dialihkan Tanpa Izin, Valdy Nyong Somasi Label Ide Timur 

30 Agustus 2026 - 08:50 WIB

Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan

29 Agustus 2026 - 22:23 WIB

Pelindo Regional 2 Banten Perkuat Kolaborasi dengan Pengguna Jasa melalui Voice of Customer

28 Agustus 2026 - 20:11 WIB

“Jakarta Kulminasi”, Lima Bola Besar Tandai Momentum 500 Tahun Jakarta

28 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar

28 Agustus 2026 - 12:19 WIB

Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara

27 Agustus 2026 - 20:22 WIB

PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman

27 Agustus 2026 - 11:16 WIB

“Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

26 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Trending di SENI BUDAYA