Wartatrans.com, JAKARTA — Sebuah koper tua tidak selalu berbicara tentang perjalanan. Di tangan perupa Jimmy Silaen, koper justru menjadi ruang untuk membaca kehidupan kota: tentang pembangunan, permukiman, perjuangan, hingga kehilangan tempat tinggal.
Gagasan itu terasa dalam dua karya yang diberi judul “Koperjuangan” dan “Kopergusuran”. Keduanya menggunakan koper sebagai medium, tetapi menghadirkan cerita yang berbeda tentang manusia dan ruang hidupnya.
Dalam karya tersebut, koper tidak lagi sekadar benda untuk membawa pakaian atau barang-barang pribadi. Ia berubah menjadi semacam “rumah kecil” yang mempertemukan manusia dengan berbagai persoalan perkotaan.
“Kopergusuran”, misalnya, menghadirkan gambaran permukiman, manusia, alat berat, aparat, kayu, seng, kawat dan cahaya dalam ruang koper yang terbatas. Di dalamnya tersimpan gambaran kehidupan warga yang berada di kawasan permukiman padat dan menghadapi perubahan ruang kota.
Di sinilah koper memperoleh makna baru
Sebuah penggusuran tidak hanya berarti memindahkan bangunan secara fisik. Bagi penghuni, perpindahan dapat bersinggungan dengan pekerjaan, sekolah anak, hubungan dengan tetangga, warung langganan, kebiasaan sehari-hari, hingga ingatan tentang tempat yang selama bertahun-tahun disebut rumah.
Karya Jimmy seolah mengajak penonton melihat persoalan tersebut bukan dari kejauhan, melainkan dari jarak yang lebih dekat.
Permukiman yang dari jalan besar mungkin hanya terlihat sebagai kawasan padat, dari dalam kehidupan penghuninya merupakan ruang yang penuh cerita. Di sana ada dapur yang mengepul, anak-anak yang berangkat sekolah, pekerja yang pulang malam, pedagang yang membuka lapak, serta tetangga yang saling berbagi kabar dan pertolongan.
Karena itu, rumah tidak semata-mata dapat diukur melalui luas bangunan atau nilai tanah.
Ada kehidupan yang ikut tumbuh di dalamnya. Sementara itu, “Koperjuangan” membawa suasana berbeda. Koper berdiri dengan gambaran manusia, kendaraan dan tangan-tangan yang mengepal. Jika “Kopergusuran” menghadirkan situasi ketika ruang hidup terancam hilang, “Koperjuangan” menggambarkan manusia yang masih mempertahankan ruang kehidupannya.
Namun Jimmy juga memberikan catatan kritis. Perjuangan tidak selalu berjalan dalam ruang yang sepenuhnya bersih dari kepentingan. Catatan “Ketika perjuangan demi kepentingan saja. Adudomba” menjadi semacam pengingat bahwa sebuah gerakan dapat memiliki banyak kepentingan dan suara yang tidak selalu seragam.
Begitu pula ungkapan “Rakusmakusbrutus” pada “Kopergusuran”, yang terasa sebagai kritik terhadap kemungkinan hadirnya kepentingan-kepentingan yang melihat ruang bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai peluang.
Dua karya itu kemudian membawa persoalan lebih luas: bagaimana sebuah kota memandang ruang dan manusia yang hidup di dalamnya.
Kota terus berubah. Jalan diperlebar, bangunan bertambah tinggi, kawasan lama berganti wajah, pusat perdagangan dan perkantoran berkembang. Pembangunan menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan dalam berbagai sisi kehidupan perkotaan.
Namun pada saat yang sama, terdapat kelompok masyarakat yang menjalani perubahan tersebut dari posisi berbeda.
Bagi sebagian pihak, sebidang tanah dapat berarti investasi atau bagian dari pengembangan kawasan. Bagi warga yang tinggal di atasnya, ruang yang sama bisa berarti rumah, tempat bekerja, akses menuju sekolah, lingkungan sosial dan sejarah keluarga.

Perbedaan cara memandang ruang itulah yang menjadi salah satu kekuatan simbolik karya Jimmy Silaen.
Koper menjadi benda yang sederhana, tetapi mampu menyimpan dua pengalaman yang bertolak belakang. Ada koper yang dibawa seseorang karena ingin melakukan perjalanan dan menemukan tempat baru. Namun ada pula koper yang dipakai karena seseorang harus meninggalkan tempat tinggalnya.
Benda yang sama, tetapi alasan keberangkatannya berbeda. Melalui “Koperjuangan” dan “Kopergusuran”, kota seolah tidak hanya dibaca dari gedung tinggi, jalan raya dan pusat bisnis. Kota juga dibaca dari gang sempit, rumah berdinding seng, asap dapur, suara anak-anak dan pintu rumah yang setiap hari dibuka untuk menyambut kehidupan.
Dari perspektif itu, karya Jimmy tidak berhenti sebagai cerita tentang penggusuran atau permukiman. Ia menjadi refleksi tentang bagaimana manusia mempertahankan rasa memiliki terhadap sebuah ruang di tengah kota yang terus berubah.
Sebab, dari atas, sebuah permukiman mungkin hanya terlihat sebagai kepadatan. Tetapi dari dekat, ia adalah rumah.
Di sanalah seseorang memasak, tidur, membesarkan anak, bekerja, bercakap dengan tetangga dan membangun kenangan.
Pada akhirnya, dua koper tersebut seperti memperlihatkan dua perjalanan manusia di tengah perkembangan kota: perjalanan menuju tempat baru dan perjalanan karena harus meninggalkan tempat lama.
Dan di antara keduanya terdapat satu hal yang tetap dipertahankan manusia: harapan bahwa setelah perjalanan panjang, masih ada tempat yang dapat disebut sebagai rumah.*** (Emi Suy)


























