Sejarah Jakarta tidak selalu tersimpan di gedung-gedung tua, museum, atau dokumen pemerintahan. Sebagian justru hidup dalam cerita tentang manusia, warung kopi, seniman, pekerja film, kehidupan jalanan, dan percakapan yang berlangsung di sudut-sudut kota.
Wartatrans.com, JAKARTA — Salah satu rekaman penting tentang Jakarta itu tersimpan dalam karya Misbach Yusa Biran, khususnya Keadjaiban di Pasar Senen dan …Oh, Film. Dua buku yang terbit pada awal 1970-an tersebut bukan sekadar kumpulan cerita. Di dalamnya tersimpan atmosfer kehidupan Jakarta, terutama kawasan Senen, pada rentang 1950-an hingga 1970-an.
Bagi sastrawan dan budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan (CGR), kedua buku tersebut bahkan menjadi semacam pintu masuk untuk memahami wajah Jakarta dari sisi yang jarang tercatat dalam sejarah resmi.
CGR tidak hanya membaca karya Misbach Yusa Biran sekali. Ia mengulanginya berkali-kali, menelusuri tokoh, ruang, suasana, hingga kehidupan para seniman Senen yang menjadi bagian penting dari ekosistem kebudayaan Jakarta.
Dari proses panjang itu lahir cerpen “Miracolo a Senen Raja”, yang dimuat dalam Majalah Sastra Horison edisi Oktober 2013. Cerpen tersebut kemudian masuk dalam buku tunggal kedua CGR, Djali-Djali Bintang Kedjora, yang diterbitkan Penerbit Padasan pada 2026.
Yang menarik, CGR tidak berhenti pada pengolahan cerita. Ia juga menyusun peta kawasan Senen berdasarkan suasana dan ruang yang direkam Misbach. Dengan demikian, karya sastra diperlakukan bukan hanya sebagai teks, tetapi juga sebagai sumber untuk membaca kembali lanskap sosial Jakarta pada masa lalu.
Cerpen itu berkisah tentang kehidupan Seniman Senen pada akhir 1950-an. Tokoh “aku” yang tidak disebutkan namanya bergerak bersama nama-nama yang memang hadir dalam sejarah kebudayaan Senen, termasuk Misbach Yusa Biran dan SM Ardan.
Kedekatan atmosfer cerpen dengan kehidupan Misbach bahkan membuat Nani Wijaya, istri Misbach Yusa Biran, memberikan respons ketika menerima kiriman Horison dari CGR di rumahnya di Sentul, Jawa Barat.
Dalam percakapan telepon, Nani memuji kemampuan CGR membangun suasana cerita. Namun di balik pujian itu terselip keheranan:
“Kok bisa sih bikin cerpen seperti itu? Kan bukan temannya Bapak?”
Pertanyaan tersebut sekaligus memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh karya Misbach terhadap imajinasi CGR.
Ketertarikan CGR Kemudian berkembang menjadi sebuah proyek penerbitan. Melalui Penerbit Padasan yang didirikannya, ia berupaya menerbitkan kembali Keadjaiban di Pasar Senen.
CGR bahkan memperoleh hak penerbitan ulang dari Nani Wijaya. Nomor ISBN dan barcode dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga telah diperoleh pada 2014, dengan nomor 978-602-1244-01-2.
Rencana penerbitan itu semula diarahkan pada September 2015, bertepatan dengan momentum ulang tahun Misbach Yusa Biran. Iklan sampul buku bahkan telah dimuat dalam Dongeng Negeri Kita, terbitan Penerbit Padasan dan Yayasan Reboeng pada 2015.
Namun rencana tersebut belum terwujud. Persoalan pembiayaan hingga kerusakan komputer menjadi bagian dari berbagai kendala yang membuat proyek itu tertunda.
Waktu berjalan. Dan sebuah obsesi lama kembali menemukan momentumnya menjelang peringatan Lima Abad Jakarta pada 2027.
CGR kemudian menggandeng Farry Hanief Yusa Biran, anak kelima dari enam bersaudara Misbach Yusa Biran. Farry kini memimpin Sinematek Indonesia, lembaga arsip perfilman yang didirikan dan dibesarkan Misbach hingga akhir hayatnya.
Pertemuan antara CGR dan Farry menjadi semacam pertemuan dua jalur pewarisan: satu datang dari pembaca dan pengagum karya Misbach, sementara yang lain membawa garis keluarga sekaligus institusi yang ditinggalkan sang maestro.
Di titik inilah Keadjaiban di Pasar Senen tidak lagi sekadar berbicara tentang masa lalu.
Ia menjadi bagian dari upaya menghubungkan Jakarta hari ini dengan Jakarta yang pernah hidup melalui para seniman, sastrawan, wartawan, pekerja film, dan masyarakat urban pada dekade 1950-an hingga 1970-an.
Misbach Yusa Biran (22 September 1932–11 April 2012) dikenal sebagai sastrawan, wartawan, pekerja film, pekerja teater, sekaligus pendiri Sinematek Indonesia.
Meski memiliki darah Minang dari ayah dan Banten dari ibu, sebagian besar kehidupannya berlangsung di lingkungan Betawi Jakarta. Melalui tulisan dan film, Misbach merekam perubahan sosial serta kehidupan kebudayaan kota yang terus bergerak.

Keadjaiban di Pasar Senen dan …Oh, Film menjadi dua karya penting dalam membaca rekaman tersebut.
Kekuatan buku-buku itu, sebagaimana pernah dicatat Laora Arkeman, bukan hanya terletak pada bahasa yang lugas. Cerita-ceritanya juga dianggap mampu merekam kehidupan Seniman Senen dan orang film pada 1950-an hingga 1970-an, sekaligus menjadi semacam “album sejarah” Jakarta pada masa Orde Lama dan Orde Baru.
Keotentikan bahasa juga dipertahankan melalui penggunaan ejaan pada zamannya: Keadjaiban di Pasar Senen menggunakan Ejaan Suwandhi, sementara …Oh, Film menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan.
Karena itu, upaya menghadirkan kembali Keadjaiban di Pasar Senen menjelang Lima Abad Jakarta dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar proyek penerbitan ulang.
Ia merupakan usaha mengembalikan satu bagian ingatan kota kepada generasi yang tidak pernah mengalami Senen sebagaimana yang pernah direkam Misbach.
Dan bagi CGR, perjalanan panjang itu seperti sebuah lingkaran yang akhirnya kembali ke titik awal: dari membaca Misbach, menulis tentang dunia Misbach, memperoleh hak menerbitkan karya Misbach, hingga berupaya menghadirkan kembali buku yang menjadi sumber obsesinya.
Senen boleh berubah. Jakarta terus bergerak. Tetapi melalui buku, cerita, peta, dan arsip, sebuah kota masih mungkin mengingat siapa dirinya.
Selamat ulang tahun, Misbach Yusa Biran.*** (Dulloh)

























