Wartatrans.com, DEPOK — Pemerintah Kota Depok menghapus insentif bagi 2.000 pembimbing rohani (bimroh) pada 2026. Kebijakan itu diambil dengan alasan efisiensi anggaran. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk bimroh kini dialihkan kepada 630 guru ngaji atau guru lekar.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, Syihabuddin Ahmad, mengatakan pihaknya tengah melakukan proses seleksi dan verifikasi terhadap para penerima insentif tersebut. “Insya Allah sebelum akhir April sudah selesai,” kata Syihabuddin dalam acara Halal Bihalal Idulfitri 1447 Hijriah sekaligus rapat pleno dan koordinasi MUI Kota Depok, Senin, 13 April 2026.

Menurut dia, verifikasi terhadap guru ngaji akan dilakukan secara berkala setiap tahun. Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan program berjalan tepat sasaran.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Depok, Supian Suri, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut tidak semata-mata soal efisiensi. Ia menyebut adanya pengurangan pembiayaan dari pemerintah pusat mencapai Rp 380 miliar turut memengaruhi kebijakan anggaran daerah.
“Ini bukan hanya efisiensi, tetapi ada prioritas program yang harus dipenuhi,” ujar Supian.
Salah satu prioritas itu adalah peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan siswa sekolah dasar. Berdasarkan evaluasi pemerintah kota, dari sekitar 32 ribu siswa SD di Depok, hanya sekitar 30 persen yang mampu membaca Al-Qur’an.
“Kondisinya masih memprihatinkan. Banyak anak SD yang belum bisa membaca Al-Qur’an,” kata Supian.
Ia menambahkan, program guru lekar sebelumnya dinilai belum berjalan optimal karena tidak semua tokoh agama yang terlibat fokus pada kegiatan pengajaran. Evaluasi program, menurut dia, menjadi langkah wajar untuk memperbaiki efektivitas kebijakan ke depan.*** (Septiadi)

























