Menu

Mode Gelap
Menhub Dudy: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Terus Dimonitor, Keselamatan Tetap Utama Bandara Soekarno-Hatta Prioritaskan Pelayanan Bagi Penumpang Terdampak Penutupan Abu Gunung Anak Krakatau Berdampak Tanding Sepak Bola, Klub Ubah Rute Pulang Persija dan Persebaya Catatan Halimah Munawir: Narosan – Ketika Tradisi Menjadi Jalan Menuju Keluarga Pasca Pelantikan, Dewan Pakar PKS Kabupaten Bogor Siap Bergerak Sesuai Panduan Haji Fikri Imbau Warga Kabupaten Bogor Waspadai Abu Vulkanik Anak Krakatau

PERISTIWA

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Status Aktivitas Level III

badge-check


 Gunung Anak Krakatau Perbesar

Gunung Anak Krakatau

Wartatrans.com, JAKARTA  – Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai terjadi Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04.40 WIB. Erupsi disertai semburan menyerupai lava fountain, lontaran batu pijar dan aliran lava, sementara status aktivitas gunung berada pada Level III atau Siaga.

Aktivitas ini menghidupkan kembali pertanyaan yang tidak pernah lepas dari Anak Krakatau sejak tsunami Selat Sunda 2018: seberapa besar perubahan aktivitas gunung dapat mengubah risiko di kawasan sekitarnya.

Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung.

Ahli vulkanologi Surono menjelaskan, mekanisme tersebut penting untuk membedakan erupsi biasa dengan kondisi yang dapat memicu tsunami.

“Tsunami pada tahun 2018 terjadi akibat longsoran tubuh gunung ke laut, bukan akibat ledakan erupsi itu sendiri,” kata Surono, Sabtu (5/9/2026).

Menurutnya, karakter Anak Krakatau saat ini masih menunjukkan perilaku gunung api muda dengan sistem yang terbuka.

“Sangat kecil kemungkinan terjadi erupsi besar atau dahsyat selama sistemnya masih terbuka dan tidak ada penyumbatan lava di lubang letusan,” ujarnya.

Penjelasan itu membuat perubahan morfologi tubuh gunung menjadi indikator penting.

Badan Geologi menyatakan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Erupsi Anak Krakatau juga memperlihatkan bahwa energi letusan tidak berhenti di sekitar gunung. Gelombang akustik berfrekuensi sangat rendah atau infrasound dapat merambat jauh melalui atmosfer, dan fenomena ini menjadi salah satu penjelasan atas laporan dentuman yang terdengar hingga Kota Bandung.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, mengatakan, “Pada saat Cekungan Bandung tertutupi lapisan inversi, seolah terbentuk ‘lorong raksasa.”

Namun, penjelasan mengenai dentuman tersebut masih memiliki pembacaan berbeda. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi mengatakan,

“Tapi kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau,” kata Suaidi.

Ketahanan Selat Sunda juga tidak hanya bergantung pada status operasi kapal dan pesawat. Dalam kajian yang diterbitkan pada 2021, Prof. Radianta Triatmadja dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan gaya hidrodinamik tsunami berbeda dari gelombang angin dan dapat menimbulkan tekanan besar terhadap struktur perlindungan pantai.

Sementara itu, dalam kajian yang diterbitkan pada 2017, Dyan Primana Sobaruddin dan tim mengenai Traffic Separation Scheme di ALKI I menempatkan pengaturan alur pelayaran sebagai bagian dari ketahanan wilayah Selat Sunda, termasuk untuk mengurangi bahaya navigasi dan memperkuat keselamatan pelayaran.

Dengan kondisi saat ini, konektivitas masih berjalan normal dan tubuh Anak Krakatau belum menunjukkan potensi keruntuhan pemicu tsunami.

Namun, pengalaman 2018 membuat ketahanan Selat Sunda harus diukur bukan hanya dari apakah kapal dan pesawat tetap bergerak, melainkan dari seberapa cepat sistem membaca perubahan aktivitas gunung, atmosfer, laut, navigasi dan infrastruktur pesisir. (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Abu Vulkanik GAK Terpantau di Sejumlah Stasiun, Operasional Commuter Line Tetap Normal

6 September 2026 - 16:00 WIB

Dampak Aktivitas Anak Krakatau, KAI Tambah Perjalanan KA Arah Jakarta

6 September 2026 - 14:45 WIB

KAI Pastikan Operasional Kereta Api Tetap Aman di Tengah Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau

6 September 2026 - 14:35 WIB

Sepekan, TPA Putri Cempo Surakarta 3 Kali Terbakar

5 September 2026 - 15:31 WIB

KRL Anjlok di Stasiun Jakarta Kota, Sejumlah KA Jarak Jauh Berpotensi Terlambat

4 September 2026 - 10:29 WIB

13 Hari Hilang di Laut, Awak KM El Malika Ditemukan Selamat di Palau

31 Agustus 2026 - 20:00 WIB

9.870 Gempa Susulan Flores, Ada Sumber di Luar Sesar Utama

31 Agustus 2026 - 08:58 WIB

Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah

30 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Bupati Aceh Tengah Temukan Siswa SMKN 1 Takengon Main Domino dan Merokok Saat Jam Belajar

28 Agustus 2026 - 20:15 WIB

KKP Tangkap Kapal Diduga Pelaku Bom Ikan di Perairan Spermonde

28 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Trending di NASIONAL