Menu

Mode Gelap
Sepekan, TPA Putri Cempo Surakarta 3 Kali Terbakar Kemenhub Pastikan Maskapai Taati Tarif Batas Atas di Tengah Kenaikan FS BPJS Kesehatan dan Asuransi Swasta Kini Terhubung Tokoh Dunia Bahas Dampak Teknologi AI di Bali Perlindungan ABK Diperketat, KKP Temukan Sejumlah Masalah dalam Inspeksi Kapal Perikanan 498.232 Turis Mancanegara Naik Kereta Api hingga Agustus 2026, Yogyakarta Jadi Favorit

NASIONAL

Sepekan, TPA Putri Cempo Surakarta 3 Kali Terbakar

badge-check


 Kebakaran TPA di Surakarta Perbesar

Kebakaran TPA di Surakarta

Wartatrans.com, JAKARTA – Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Surakarta, Jawa Tengah, belum sepenuhnya padam hingga Sabtu (5/9/2026). Titik api masih ditemukan di kawasan timbunan, sementara pemadaman dilakukan dari darat dan udara menggunakan water bombing.

Kebakaran berlangsung sejak Rabu (2/9). Hingga Jumat (4/9), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat 2,4 hektare dari total 17 hektare kawasan terbakar.

Direktur Penanganan Sampah KLH Melda Mardalina mengatakan, api yang semula berada di zona D merambat ke zona B. Perpindahan itu disinyalir dipengaruhi El Nino, angin, serta kondisi sampah yang masih terbuka atau open dumping.

“Putri Cempo ini luasnya 17 hektare, yang sudah terbakar sekarang ada 2,4 hektare,” kata Melda di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Kebakaran sulit ditangani karena api tidak hanya berada di permukaan. Melda mengatakan gas metana terkumpul di bawah timbunan dan titik api sulit dijangkau akibat kedalaman sampah.

Kerentanan Putri Cempo bukan muncul pada 2026. Dokumen Inventarisasi Gas Rumah Kaca Kota Surakarta 2023 menyebut TPA seluas 17 hektare itu sudah overload setelah digunakan hampir 30 tahun, padahal kapasitas awalnya diproyeksikan sekitar 20 tahun.

Pola kebakaran juga berulang. Pada Juli 2019 sekitar 2,5 hektare lahan terbakar, sedangkan BPBD Surakarta menyebut kebakaran di Putri Cempo sebagai masalah laten yang hampir selalu muncul setiap musim kemarau.

Pada 2023, kebakaran kembali meluas sekitar dua hektare di Blok B dan pemerintah meminta water bombing. Tahun ini, kebakaran juga terjadi pada Juni di kawasan Putri Cempo sebelum kembali membesar pada September.

Tekanan timbunan berlanjut karena kemampuan pengolahan belum sebanding dengan volume sampah.

Kesenjangan antara timbulan dan kemampuan pengolahan membuat beban timbunan tetap tinggi. Selama sampah terus masuk sementara pengolahan belum optimal, kebakaran berpotensi kembali menjadi persoalan berulang di Putri Cempo. (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Jelang Penerapan Zero ODOL 2027, DPR Minta Ada Roadmap Detil

5 September 2026 - 09:33 WIB

Hari Pelanggan Nasional 2026: IPC TPK Pontianak, Perkuat Sinergi Pengguna Jasa Demi Kelancaran Logistik Daerah

4 September 2026 - 22:29 WIB

Pelindo Regional 2 Perkuat Komitmen Tingkatkan Kualitas Layanan di Hari Pelanggan Nasional 2026

4 September 2026 - 17:13 WIB

BMKG-Bakamla Siapkan Integrasi InaWIS-NMSS, Perkuat Maritim Nusantara

4 September 2026 - 14:32 WIB

Menhub Dudy: Tingkatkan Kewaspadaan di Wilayah Terdampak Karhutla!

4 September 2026 - 14:23 WIB

Pertamina Patra Niaga Klarifikasi Isu STNK untuk Pembelian BBM Subsidi

4 September 2026 - 11:18 WIB

KRL Anjlok di Stasiun Jakarta Kota, Sejumlah KA Jarak Jauh Berpotensi Terlambat

4 September 2026 - 10:29 WIB

ACC Kembangkan Desa Sejahtera Astra Cibunian di Bogor

3 September 2026 - 23:52 WIB

Gelar RUPS Luar Biasa, IPCC Perkuat Struktur Pengurus Perseroan

3 September 2026 - 22:12 WIB

Satu Langkah Lebih Mudah untuk Perjalanan, Ada Cashback SPayLater di DAMRI Apps

3 September 2026 - 19:35 WIB

Trending di JALUR