Wartatrans.com, JAKARTA – Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Surakarta, Jawa Tengah, belum sepenuhnya padam hingga Sabtu (5/9/2026). Titik api masih ditemukan di kawasan timbunan, sementara pemadaman dilakukan dari darat dan udara menggunakan water bombing.
Kebakaran berlangsung sejak Rabu (2/9). Hingga Jumat (4/9), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat 2,4 hektare dari total 17 hektare kawasan terbakar.

Direktur Penanganan Sampah KLH Melda Mardalina mengatakan, api yang semula berada di zona D merambat ke zona B. Perpindahan itu disinyalir dipengaruhi El Nino, angin, serta kondisi sampah yang masih terbuka atau open dumping.
“Putri Cempo ini luasnya 17 hektare, yang sudah terbakar sekarang ada 2,4 hektare,” kata Melda di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Kebakaran sulit ditangani karena api tidak hanya berada di permukaan. Melda mengatakan gas metana terkumpul di bawah timbunan dan titik api sulit dijangkau akibat kedalaman sampah.
Kerentanan Putri Cempo bukan muncul pada 2026. Dokumen Inventarisasi Gas Rumah Kaca Kota Surakarta 2023 menyebut TPA seluas 17 hektare itu sudah overload setelah digunakan hampir 30 tahun, padahal kapasitas awalnya diproyeksikan sekitar 20 tahun.
Pola kebakaran juga berulang. Pada Juli 2019 sekitar 2,5 hektare lahan terbakar, sedangkan BPBD Surakarta menyebut kebakaran di Putri Cempo sebagai masalah laten yang hampir selalu muncul setiap musim kemarau.
Pada 2023, kebakaran kembali meluas sekitar dua hektare di Blok B dan pemerintah meminta water bombing. Tahun ini, kebakaran juga terjadi pada Juni di kawasan Putri Cempo sebelum kembali membesar pada September.
Tekanan timbunan berlanjut karena kemampuan pengolahan belum sebanding dengan volume sampah.
Kesenjangan antara timbulan dan kemampuan pengolahan membuat beban timbunan tetap tinggi. Selama sampah terus masuk sementara pengolahan belum optimal, kebakaran berpotensi kembali menjadi persoalan berulang di Putri Cempo. (Artha Tidar)






























