Wartatrans.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) menyiapkan integrasi Indonesian Weather Information for Shipping (InaWIS) dengan National Maritime Security System (NMSS) untuk memperkuat pemanfaatan data dalam keselamatan dan keamanan maritim.
Langkah tersebut akan ditindaklanjuti melalui pembahasan teknis, termasuk perumusan integrasi kedua sistem.

Urgensi penguatan informasi maritim terlihat dari risiko pelayaran dan luasnya aktivitas pengawasan laut.
Laporan BMKG mencatat 10 kecelakaan kapal di perairan Indonesia sepanjang Juni-Agustus 2025, sedangkan Bakamla pada Semester I-2025 memeriksa 548 kapal melalui patroli gabungan dan mandiri serta mencatat 11 tangkapan.
Kedua lembaga memiliki jenis data yang berbeda tetapi saling melengkapi. BMKG menguasai informasi meteorologi dan oseanografi, sementara Bakamla memiliki informasi keamanan serta pergerakan kapal melalui Automatic Identification System (AIS).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pertukaran data timbal balik menjadi bagian penting yang perlu diperkuat untuk mendukung efektivitas operasi dan keselamatan laut.
“Ke depan, pertukaran data secara timbal balik menjadi ruang kolaborasi yang sangat penting untuk diperkuat demi efektivitas operasi serta keselamatan laut,” ujar Faisal, Senin (31/8/2026).
Dalam skema yang dibahas, data cuaca dan kondisi laut dapat dipadukan dengan informasi posisi serta pergerakan kapal. Kombinasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi kapal yang berada di wilayah berisiko, membantu perencanaan patroli, dan memperkuat peringatan dini berbasis lokasi kapal.
Penguatan tidak hanya menyasar pertukaran data digital. BMKG dan Bakamla juga membahas peluang sinergi High-Frequency Radar (HF Radar) dengan Over-the-Horizon Radar (OTHR) untuk saling melengkapi informasi mengenai dinamika laut dan deteksi objek.
Plt. Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra menilai perkembangan teknologi telah memperluas kemampuan pengamatan maritim.
“Sekarang dengan teknologi sekarang, data AIS dan sebagainya, lompatan 20 tahun yang lalu dengan sekarang, teknologi kelautan ini sudah luar biasa maju,” ungkap Agie.
Dari sisi kemampuan observasi, BMKG memiliki 40 Vessel Automatic Weather Stations yang ditempatkan pada kapal dengan jalur pelayaran rutin. BMKG juga memiliki kapasitas komputasi 5 petaflops di Kemayoran untuk mendukung pemodelan atmosfer-laut dan sedang menyiapkan generasi terbaru InaWIS yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan operasional Bakamla.
Kepala Bakamla Irvansyah menyatakan terdapat banyak ruang kolaborasi yang dapat dimanfaatkan kedua lembaga dalam mendukung tugas di wilayah laut.
“Saya lihat materinya banyak sekali yang bisa kita kolaborasikan. Itu sangat bermanfaat pasti, karena kita mainnya di air juga,” ujar Irvansyah.
Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman BMKG-Bakamla yang ditandatangani pada Agustus 2024.
Fondasi integrasi sebelumnya antara lain terlihat dari integrasi Warning Receiver System Indonesia National Tsunami Early Warning System (InaTEWS) untuk mendukung Sistem Informasi Keamanan Laut Nasional yang disebut Bakamla telah terlaksana pada Desember 2025.
Pengembangan InaWIS-NMSS dengan demikian berada dalam pola kerja sama yang sudah memiliki pengalaman pertukaran dan pemanfaatan informasi.
Tahap berikutnya adalah menentukan bentuk integrasi, kebutuhan teknis, serta data yang dapat digunakan untuk mendukung operasi Bakamla.
Dorongan terhadap interoperabilitas juga muncul dalam pengawasan parlemen. Dalam RDP dengan Bakamla pada 19 Januari 2026, Komisi I DPR mendorong penguatan integrasi sistem pengawasan maritim, percepatan implementasi NMSS, serta peningkatan interoperabilitas antarkementerian dan lembaga.
Dari sisi infrastruktur, Bakamla sebelumnya mengusulkan tambahan sekitar Rp5,6 triliun untuk pembangunan NMSS di 35 titik, dengan target jangka panjang 70 titik.
Angka tersebut merupakan usulan tambahan untuk pembangunan NMSS, bukan anggaran khusus integrasi InaWIS-NMSS yang telah disahkan.
Bila interoperabilitas dapat diwujudkan, integrasi InaWIS-NMSS akan mempertemukan informasi cuaca dan kondisi laut dengan posisi kapal serta informasi keamanan dalam satu ekosistem data. Kemampuan tersebut berpotensi mempercepat pengambilan keputusan operasional, memperkuat respons terhadap risiko pelayaran, dan meningkatkan efektivitas pengawasan wilayah maritim Indonesia. (Artha Tidar)
































