Wartatrans.com, JAKARTA – Pelita Air sebut pentingnya perawatan pesawat demi keandalan dan kenyamanan penumpangnya.
Seringkali, bagi penumpang, pengalaman terbang sering kali dinilai dari hal-hal yang langsung terlihat: keberangkatan yang tepat waktu, kabin yang nyaman, dan senyum ramah awak kabin.
Namun sesungguhnya, ada langkah penting yang dijaga, di dalam hanggar, berlangsung pekerjaan sunyi yang justru turut menentukan kelancaran penerbangan.
Di sanalah keandalan armada dirawat dengan presisi tinggi melalui pekerjaan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).
Proses pemeliharaan, perbaikan, dan perawatan pesawat secara menyeluruh ini membutuhkan perencanaan jangka panjang, tenaga ahli, serta ketersediaan fasilitas dan suku cadang.
Kesiapan inilah yang menjadi salah satu tulang punggung Pelita Air dalam menjaga ketepatan waktu (On-Time Performance/OTP).
Komitmen kepada pelanggan tersebut diwujudkan Pelita Air dengan memperkuat ekosistem perawatan armada Airbus A320 bersama dua mitra global, MTU Maintenance dan KarbonMRO.
Melalui kesepakatan yang diresmikan dalam ajang MRO Asia-Pacific 2026 baru-baru ini di Singapura, Pelita Air memadukan kebutuhan pemeliharaan mesin dengan pengembangan kapabilitas teknis masa depan.
“Setiap pihak memiliki kompetensi yang dapat saling melengkapi,” jelas Direktur Utama PT Pelita Air Service, Faik Fahmi, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, dengan memperluas akses terhadap keahlian, fasilitas, dan dukungan teknis yang mumpuni, pihaknya ingin memastikan armada pesawat Pelita Air selalu dalam kondisi prima demi keselamatan dan kenyamanan pelanggan.
Kerja sama dengan MTU Maintenance disepakati untuk jangka waktu tiga tahun ke depan.
Fokusnya adalah merawat mesin CFM56-5B yang menggerakkan 16 pesawat Airbus A320 Pelita Air.
“Kami bangga dapat menghadirkan keahlian global kami untuk mendukung Pelita Air,” ujar Gert Wagner, President & CEO MTU Maintenance.
Pertumbuhan pasar penerbangan di Asia-Pasifik perlu diiringi dengan peningkatan perhatian perusahaan terhadap kebutuhan pelanggannya.
“Kami menantikan kerja sama yang erat dengan tim Pelita Air untuk memastikan keandalan armadanya,” katanya.
Bila kolaborasi dengan MTU Maintenance berfokus pada dukungan perawatan mesin, kesepahaman dengan KarbonMRO membuka ruang pengembangan sumber daya manusia, pertukaran keahlian, pemanfaatan fasilitas dan dukungan suku cadang untuk mesin CFM56.
“Melalui nota kesepahaman ini, kami melihat peluang untuk memadukan kemampuan Pelita Air dan KarbonMRO yang saling melengkapi guna mendukung pengembangan kapabilitas pemeliharaan mesin pesawat di kawasan ini,” ujar Co-Founder & Managing Director KarbonMRO Kevin Teoh.
Kevin juga menyoroti pentingnya pengembangan tenaga ahli di balik kerja sama teknis tersebut.
“Selain kerja sama teknis dan operasional, kami berharap dapat bekerja bersama Pelita Air untuk memajukan pengembangan sumber daya manusia dan pertukaran pengetahuan, sekaligus membantu menyiapkan generasi penerus tenaga profesional yang terampil dalam pemeliharaan mesin pesawat,” katanya.
Bagi Pelita Air, maskapai anak perusahaan PT Pertamina (Persero), investasi di balik pintu hanggar ini bermuara pada satu hal mendasar: kepercayaan pelanggan.
“Pelita Air mengerti bahwa yang dibutuhkan pelanggan bukan sekadar tiket terbang, tapi kepastian dan ketenangan dalam perjalanan. Kami ingin mereka tahu bahwa setiap perjalanan didukung oleh armada yang andal. Karena itu, kesiapan pesawat terus kami jaga agar pelanggan bisa menjalankan rencananya dengan tenang,” imbuh Faik.
Dari kursi penumpang, ada rangkaian pekerjaan yang mungkin tidak terlihat.
Namun, pemeriksaan dan perawatan mesin pesawat, kesiapan talenta, serta kolaborasi global terus mengawal setiap penerbangan. (omy)




























