Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menambah layanan pemberhentian kereta api jarak jauh di Stasiun Jatinegara, Bekasi, dan Cikarang melalui pemberlakuan Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) 2026.
Kebijakan ini ditujukan untuk mempermudah masyarakat di kawasan aglomerasi mengakses perjalanan kereta jarak jauh tanpa harus menuju Stasiun Gambir atau Pasar Senen dan juga stasiun itu terintegrasi dengan layanan KRL Commuter Line.
Vice President Corporate Communication PT KAI Anne Purba, mengatakan penyesuaian pola perjalanan tersebut didasarkan pada meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kereta api di tiga stasiun tersebut, terutama karena terhubung dengan layanan Commuter Line.
Menurut Anne, data KAI menunjukkan jumlah pengguna di Stasiun Jatinegara mengalami peningkatan sebesar 11 persen, Bekasi hampir 10 persen, dan Cikarang sekitar 4 persen. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan perusahaan untuk menambah perjalanan kereta api jarak jauh yang melayani naik dan turun penumpang di ketiga stasiun.
“Jadi saat ini yang menjadi konsep GAPEKA kita itu adalah meningkatkan kapasitas angkut, yang kedua adalah meningkatkan peran kita untuk membangun aglomerasi karena nanti akan ada beberapa stasiun yang kita tingkatkan perannya,” kata Anne.
Dalam GAPEKA 2026, KAI menambahkan pemberhentian tiga perjalanan kereta api di Stasiun Bekasi, enam perjalanan di Stasiun Cikarang, dan dua perjalanan di Stasiun Jatinegara.
Untuk Stasiun Bekasi, tiga kereta yang mendapat tambahan pemberhentian adalah KA Manahan, KA Bangunkarta, dan KA Tegal Bahari.
Sementara di Stasiun Cikarang, terdapat enam kereta yang akan melayani naik dan turun penumpang, yakni KA Manahan, KA Pangandaran, KA Parahyangan 133, KA Parahyangan 134, KA Singasari, dan KA Tawang Jaya Premium.
Adapun di Stasiun Jatinegara, dua perjalanan yang mendapat tambahan pemberhentian adalah KA Cakrabuana dan KA Gumarang.
Anne menjelaskan, penambahan titik pemberhentian tersebut berpotensi menambah waktu perjalanan kereta api, khususnya kereta yang berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen. Hal itu berkaitan dengan perubahan pola perjalanan dari jalur double-double track (DDT) menuju double track.
Ia menyebutkan, kereta api yang melintas dari Gambir dan Pasar Senen kini memiliki pola pemberhentian di Stasiun Bekasi. Waktu berhenti disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan penumpang. Untuk kereta yang tidak melayani naik turun penumpang, waktu berhenti dapat berlangsung kurang dari satu menit, sedangkan pelayanan naik turun penumpang diupayakan selesai dalam waktu sekitar tiga menit.
“Jadi sebenarnya, penambahan waktu tempuhnya itu kita upayakan selalu di bawah 10 menit, tetapi bisa memberi kemudahan, bisa memberi efisien waktu kepada teman-teman yang ada di Cikarang sekitarnya, Bekasi, dan juga Jatinegara,” ujarnya.
Anne menambahkan, kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan perjalanan kereta api jarak jauh dengan Commuter Line. Dengan demikian, masyarakat dari wilayah Bekasi dan Cikarang memiliki alternatif keberangkatan yang lebih dekat tanpa harus terlebih dahulu menuju pusat keberangkatan kereta jarak jauh di Jakarta.
Selain memperkuat konektivitas antarmoda, GAPEKA 2026 juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas angkut dan mengoptimalkan layanan. KAI mencatat adanya tambahan 39 perjalanan kereta api jarak jauh dengan potensi peningkatan kapasitas hingga 8.466 penumpang per hari.
Di sisi lain, Anne menegaskan peningkatan frekuensi perjalanan harus diimbangi dengan penguatan aspek keselamatan. KAI akan terus memastikan kesiapan prasarana, teknologi pendukung operasional, serta keselamatan di perlintasan sebidang.
Koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk terkait kesiapan rangkaian kereta baru, juga terus dilakukan agar penambahan perjalanan tidak mengurangi standar keselamatan dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.(fahmi)

























