Menu ✖

Mode Gelap
Dampak Karhutla pada Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara 15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital KAI Services Hadirkan Warteg on Train di Kereta Batavia, Penumpang Bisa Pilih Menu Rumahan KA Sangkuriang Angkut 330 Ribu Pelanggan dalam Lima Bulan, Okupansi Tembus 284 Persen Pimpin PABERSI Sulteng, Farid Podungge Bidik Prestasi Atlet di PON 2028 Gandeng EIGER, Garuda Daur Ulang Pelampung dan Pelapis Kursi Pesawat jadi Koleksi Menarik

SUMBER DAYA

Gempuran Kritik Dibalas Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Kalbar

badge-check


 Gempuran Kritik Dibalas Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Kalbar Perbesar

Wartratrans.com, KALBAR — Gelombang kritik yang mengiringi pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat berbuntut panjang. Setelah polemik penilaian pada babak final ramai diperbincangkan publik, pihak MPR RI akhirnya mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sejumlah pihak yang terlibat dalam pelaksanaan lomba, mulai dari dewan juri hingga pembawa acara atau MC.

Keputusan tersebut menjadi respons atas sorotan masyarakat terkait dugaan ketidakobjektifan penilaian dalam kompetisi yang melibatkan pelajar dari berbagai daerah di Kalimantan Barat itu. Dalam keterangannya, MPR menegaskan bahwa ajang LCC seharusnya menjunjung tinggi nilai sportivitas, keadilan, serta integritas seluruh pihak yang terlibat.

MPR juga menekankan bahwa dewan juri wajib bersikap objektif dalam memberikan penilaian kepada peserta. Karena itu, evaluasi internal dilakukan guna memastikan pelaksanaan lomba berjalan sesuai prinsip profesionalitas dan tidak mencederai semangat kompetisi.

Di tengah polemik yang berkembang, MPR turut menyampaikan apresiasi kepada para peserta, guru pendamping, serta masyarakat yang memberikan perhatian terhadap jalannya perlombaan. Menurut pihak MPR, kritik dan masukan publik menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki kualitas penyelenggaraan kegiatan di masa mendatang.

Kontroversi itu semakin ramai diperbincangkan setelah beredar potongan video yang memperlihatkan reaksi peserta dan tanggapan dari pembawa acara. Dalam video tersebut, MC LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar, Shindy Lutfiana, melontarkan pernyataan yang dinilai kurang tepat saat merespons keberatan peserta terkait penilaian.

Belakangan, Shindy menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui unggahan di media sosial Instagram. Ia mengaku menyesali ucapan yang terlontar dalam kapasitasnya sebagai pembawa acara.

“Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu ‘mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja’ yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut,” tulisnya dalam unggahan yang dilihat pada Selasa (12/5/2026).

Permintaan maaf itu pun menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menganggap langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral, sementara lainnya tetap menyoroti pentingnya profesionalitas dalam acara berskala nasional.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, membantah tudingan bahwa para juri sengaja berpihak kepada salah satu peserta.

Menurutnya, persoalan yang muncul saat perlombaan lebih banyak dipicu oleh kendala teknis, terutama gangguan pada sistem suara atau sound system yang digunakan selama babak final berlangsung.

Meski demikian, pihak MPR tetap meminta keterangan dari dua juri yang bertugas pada final LCC Empat Pilar Kalbar guna mendalami kontroversi yang berkembang di tengah masyarakat.

Siti Fauziah menegaskan bahwa MPR menghormati perhatian publik terhadap dinamika perlombaan tersebut. Ia memastikan panitia pelaksana kini sedang melakukan penelusuran internal terkait proses penilaian jawaban peserta.

Selain itu, evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan terhadap berbagai aspek teknis penyelenggaraan lomba. Langkah tersebut disebut penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada pelaksanaan kompetisi berikutnya.

Ingat, perlombaan pendidikan bukan sekadar ajang mencari pemenang. Kompetisi semestinya menjadi ruang pembelajaran tentang kejujuran, etika, dan rasa percaya terhadap proses yang adil.

Ketika integritas dipertanyakan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil lomba, melainkan juga kepercayaan publik terhadap lembaga penyelenggara.***

LONYENKRAP

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

5.000 Santri Dorong Perwali Literasi Al-Qur’an, FKTPQ Makassar Siapkan Munaqasyah Akbar

17 Oktober 2026 - 09:10 WIB

Terminal Teluk Lamong Raih Dua Penghargaan Internasional di Singapura

17 Oktober 2026 - 09:04 WIB

IPC TPK Catat Arus Barang 2,8 Juta TEUs pada Q3 2026, Efisiensi Logistik Nasional Diperkuat

17 Oktober 2026 - 08:45 WIB

Hadapi Tantangan Era Digital, Webinar Parenting Bahas Pentingnya Membangun Karakter Islami Sejak Dini

17 Oktober 2026 - 07:58 WIB

Jumlah Marine Inspector Kemenhub Bertambah 90 Personel

17 Oktober 2026 - 07:19 WIB

Pelindo Dukung Digitalisasi Koperasi TKBM, Perkuat Tata kelola dan Keselamatan Kerja di Pelabuhan Tanjung Priok

15 Oktober 2026 - 23:04 WIB

DAMRI Perkuat Kompetensi Kapten Bus melalui Pelatihan Berkelanjutan

15 Oktober 2026 - 22:53 WIB

Peduli Pendidikan, Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Salurkan Beasiswa untuk 50 Peserta Didik

15 Oktober 2026 - 19:55 WIB

KKP Dorong Pengakuan Sertifikat Pelaut Perikanan Indonesia di Portugal dan Spanyol

15 Oktober 2026 - 07:59 WIB

Menhub Dudy Lantik Sejumlah Pejabat, Tekankan Integritas dan Keselamatan

14 Oktober 2026 - 19:34 WIB

Trending di SUMBER DAYA