Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

SUMBER DAYA

Gempuran Kritik Dibalas Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Kalbar

badge-check


 Gempuran Kritik Dibalas Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Kalbar Perbesar

Wartratrans.com, KALBAR — Gelombang kritik yang mengiringi pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat berbuntut panjang. Setelah polemik penilaian pada babak final ramai diperbincangkan publik, pihak MPR RI akhirnya mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sejumlah pihak yang terlibat dalam pelaksanaan lomba, mulai dari dewan juri hingga pembawa acara atau MC.

Keputusan tersebut menjadi respons atas sorotan masyarakat terkait dugaan ketidakobjektifan penilaian dalam kompetisi yang melibatkan pelajar dari berbagai daerah di Kalimantan Barat itu. Dalam keterangannya, MPR menegaskan bahwa ajang LCC seharusnya menjunjung tinggi nilai sportivitas, keadilan, serta integritas seluruh pihak yang terlibat.

MPR juga menekankan bahwa dewan juri wajib bersikap objektif dalam memberikan penilaian kepada peserta. Karena itu, evaluasi internal dilakukan guna memastikan pelaksanaan lomba berjalan sesuai prinsip profesionalitas dan tidak mencederai semangat kompetisi.

Di tengah polemik yang berkembang, MPR turut menyampaikan apresiasi kepada para peserta, guru pendamping, serta masyarakat yang memberikan perhatian terhadap jalannya perlombaan. Menurut pihak MPR, kritik dan masukan publik menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki kualitas penyelenggaraan kegiatan di masa mendatang.

Kontroversi itu semakin ramai diperbincangkan setelah beredar potongan video yang memperlihatkan reaksi peserta dan tanggapan dari pembawa acara. Dalam video tersebut, MC LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar, Shindy Lutfiana, melontarkan pernyataan yang dinilai kurang tepat saat merespons keberatan peserta terkait penilaian.

Belakangan, Shindy menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui unggahan di media sosial Instagram. Ia mengaku menyesali ucapan yang terlontar dalam kapasitasnya sebagai pembawa acara.

“Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu ‘mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja’ yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut,” tulisnya dalam unggahan yang dilihat pada Selasa (12/5/2026).

Permintaan maaf itu pun menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menganggap langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral, sementara lainnya tetap menyoroti pentingnya profesionalitas dalam acara berskala nasional.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, membantah tudingan bahwa para juri sengaja berpihak kepada salah satu peserta.

Menurutnya, persoalan yang muncul saat perlombaan lebih banyak dipicu oleh kendala teknis, terutama gangguan pada sistem suara atau sound system yang digunakan selama babak final berlangsung.

Meski demikian, pihak MPR tetap meminta keterangan dari dua juri yang bertugas pada final LCC Empat Pilar Kalbar guna mendalami kontroversi yang berkembang di tengah masyarakat.

Siti Fauziah menegaskan bahwa MPR menghormati perhatian publik terhadap dinamika perlombaan tersebut. Ia memastikan panitia pelaksana kini sedang melakukan penelusuran internal terkait proses penilaian jawaban peserta.

Selain itu, evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan terhadap berbagai aspek teknis penyelenggaraan lomba. Langkah tersebut disebut penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada pelaksanaan kompetisi berikutnya.

Ingat, perlombaan pendidikan bukan sekadar ajang mencari pemenang. Kompetisi semestinya menjadi ruang pembelajaran tentang kejujuran, etika, dan rasa percaya terhadap proses yang adil.

Ketika integritas dipertanyakan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil lomba, melainkan juga kepercayaan publik terhadap lembaga penyelenggara.***

LONYENKRAP

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting

25 Agustus 2026 - 16:00 WIB

KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor

25 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Pelindo Regional 2 dan BNN Jakarta Utara Perkuat Edukasi Bahaya Narkoba bagi Generasi Muda

24 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Pelindo Semai Harapan di Langowan melalui Relawan Bakti BUMN Batch IX

24 Agustus 2026 - 16:36 WIB

IPCC Layani Sepenuh Hati, Dukung Pengiriman Bantuan Kemanusiaan PMI ke Nusa Tenggara Timur

22 Agustus 2026 - 21:21 WIB

Dukung Keandalan dan Keselamatan Perjalanan KA, KAI Logistik Lakukan Pengeceran Balas Secara Bertahap

21 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Pelindo–Pelni Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT

21 Agustus 2026 - 21:13 WIB

Mulai Rp215 Ribu, DAMRI Buka Layanan Kalianda–Jakarta via Lintas Sumatera

21 Agustus 2026 - 18:33 WIB

Posko Bersama Dibuka, Kemenhub-Pelindo-PELNI Perkuat Respons Kemanusiaan untuk NTT

21 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Peduli Kesehatan Masyarakat, Pelindo dan IHC Gelar Pemeriksaan Gratis bagi Balita dan Lansia

21 Agustus 2026 - 17:15 WIB

Trending di RAGAM