Wartatrans.com, CIANJUR — Situs megalitikum Gunung Padang di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, tengah memasuki fase baru pengembangan sebagai destinasi wisata prasejarah unggulan Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan pemugaran dengan pendekatan kehati-hatian untuk menata ulang struktur situs agar bentuk aslinya semakin terbaca, tanpa menghilangkan karakter purba yang melekat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, mengatakan pemugaran Gunung Padang tidak semata bertujuan mempercantik kawasan, melainkan memperkuat fungsi edukasi dan pelestarian. “Kami ingin menghadirkan pemahaman yang utuh tentang situs ini kepada publik, tanpa mengorbankan nilai arkeologisnya,” kata Iendra.

Salah satu penguatan utama adalah rencana pembangunan Museum Megalitikum Gunung Padang. Museum tersebut dirancang sebagai pusat interpretasi sejarah dan arkeologi, sekaligus menjadi prototipe pemahaman situs megalitikum Nusantara secara komprehensif. Selain itu, Pemprov Jawa Barat juga menjadwalkan pembenahan sistem drainase kawasan pada 2026 untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung dan keberlanjutan lingkungan situs.
Pengembangan Gunung Padang juga akan diintegrasikan dengan konsep wisata berbasis kereta api bertajuk TrainCation. Melalui kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), wisatawan nantinya dapat menikmati perjalanan tematik menggunakan KA JakaLalana yang terhubung melalui Stasiun Lampegan. Konsep ini diharapkan menghadirkan pengalaman wisata sejarah sejak perjalanan menuju lokasi.
Agar pengembangan berjalan optimal, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat mendorong Pemerintah Kabupaten Cianjur untuk berperan aktif. Dukungan tersebut meliputi penyiapan sumber daya manusia pariwisata, transportasi pendukung, peningkatan akses infrastruktur, hingga pengembangan daya tarik wisata lain di sekitar kawasan Gunung Padang.
Di tengah meningkatnya perhatian publik, pemerintah kembali menegaskan posisi ilmiah Gunung Padang. Berdasarkan hasil kajian arkeologis dan ekskavasi, situs ini dipastikan bukan piramida, melainkan punden berundak—bentuk bangunan megalitikum khas Nusantara yang pada masa lalu digunakan untuk aktivitas ritual masyarakat kuno.
Dengan berbagai rencana pengembangan tersebut, Gunung Padang kini tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang upaya menghadirkan sejarah dalam bentuk pengalaman wisata yang edukatif, berkelanjutan, dan bermakna bagi generasi masa kini.*** (Daus)









