Wartatrans.com, JAKARTA – Indonesia AirAsia menyesuaikan jadwal penerbangan beberapa rute baik domestik maupun internasional dalam beberapa hari terakhir ini.
Pihaknya menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami penumpang terkait penyesuaian jadwal penerbangan pada beberapa rute tersebut.

“Penyesuaian ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan layanan di tengah dinamika operasional yang sedang berlangsung,” tutur Plt. Direktur Utama Indonesia AirAsia, Capt. Achmad Sadikin, Senin (6/4/2026).
Pihaknya memahami situasi yang dihadapi penumpang dan berjanji terus berupaya memberikan penanganan terbaik.
“Kami memahami ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang dan menyampaikan permohonan maaf atas situasi ini. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan setiap penumpang tetap mendapatkan opsi penanganan yang sesuai,” ungkapnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen kepada pelanggan yang terdampak, Indonesia AirAsia telah menerapkan Service Recovery Options (SRO) bagi seluruh penumpang terdampak.
Meliputi perubahan jadwal tanpa biaya (free reschedule) dalam periode 30 hari, pemberian credit account melalui AirAsia MOVE yang dapat digunakan untuk transaksi
selanjutnya, pengembalian dana secara penuh (full refund).
“Indonesia AirAsia akan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan layanan penerbangan tetap berjalan dengan baik serta memberikan kenyamanan bagi seluruh penumpang,” ujar dia.
Indonesia AirAsia kata Capt. Sadikin juga menyampaikan apresiasi atas langkah responsif Pemerintah dalam menjaga keseimbangan industri penerbangan nasional di tengah tekanan biaya yang meningkat.
Kebijakan penyesuaian fuel surcharge, dan pemberian fasilitas pembebasan bea masuk untuk suku cadang pesawat merupakan langkah strategis yang memberikan ruang bagi maskapai untuk mempertahankan keberlangsungan operasional.
“Di sisi lain, kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11% untuk tiket pesawat kelas ekonomi domestik juga berperan penting dalam menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat,” katanya.
Sejalan dengan dukungan tersebut, industri penerbangan masih menghadapi tekanan biaya yang signifikan, terutama akibat kenaikan harga avtur dan komponen operasional lainnya.
Meski penyesuaian fuel surcharge hingga sekitar 38% telah diperhitungkan sebagai bagian dari langkah mitigasi, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan biaya yang ada.
“Oleh karena itu, rasionalisasi kapasitas dan penyesuaian operasional secara bertahap tetap diperlukan, khususnya pada rute-rute dengan margin terbatas, guna memastikan keberlanjutan layanan serta menjaga stabilitas operasional maskapai,” imbuh dia. (omy)






























