Menu

Mode Gelap
PTP Nonpetikemas Raih Pengakuan ISRA 2026 Kategori Sustainability Report Kemenhub Perkuat SDM Keselamatan Transportasi Jalan, Lantik 205 Lulusan PKTJ Rencana MRT Bali bakal jadi ART, Ini Tantangannya Semester I-2026, MR D.I.Y. Cetak Laba Rp590,7 Miliar KAI Services Resmikan Kantor dan Gudang Regional 8 Surabaya, Perkuat Operasional dan Layanan Pelanggan Garuda Indonesia Kembali Terbangi Rute Bandung–Bali

BANDARA

Indonesia jadi Tuan Rumah ICAO CAEP Working Group 5

badge-check


 Indonesia jadi Tuan Rumah ICAO CAEP Working Group 5 Perbesar

Wartatrans.com, BALI – Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan  menjadi tuan rumah The Fourth Meeting of ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP) Working Group 5 (WG5)dalam siklus kerja CAEP ke-14.

Pertemuan yang digelar di Bali ini, dihadiri 130 pakar bahan bakar penerbangan dari berbagai negara, baik secara luring maupun daring, untuk memperkuat kerja sama internasional dalam mendukung dekarbonisasi penerbangan global.

Sebagai anggota ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP), Indonesia, melalui Indonesia CAEP Member, Syamsu Rizal menyampaikan apresiasi kepada seluruh pakar Working Group 5 yang hadir dan menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi aktif dalam pengembangan kebijakan teknis penerbangan berkelanjutan melalui partisipasi yang konstruktif dan berbasis ilmiah.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Sokhib Al Rokhman mengatakan, gelaran Working Group 5 di Bali menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi global dalam mempercepat transformasi sektor penerbangan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Working Group 5 memiliki peran strategis melalui tiga kelompok kerjanya, yaitu Life Cycle Assessment (LCA), Sustainability, dan
Technology, dalam memperkuat landasan teknis bagi pengembangan CORSIA Eligible Fuels serta mendukung upaya dekarbonisasi penerbangan internasional.

Pertemuan ini berlangsung pada saat industri penerbangan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, dinamika geopolitik global, hingga volatilitas pasar energi.

“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa percepatan transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan bagi sektor penerbangan tidak hanya menjadi kebutuhan lingkungan, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan dan keamanan energi jangka panjang,” ujar Shokib.

Indonesia berpandangan bahwa keberhasilan implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) secara luas memerlukan pendekatan yang seimbang. Selain menjaga integritas lingkungan yang tinggi, pengembangan SAF juga harus mampu mengakomodasi keberagaman sumber daya, bahan baku (feedstock), serta jalur produksi yang dimiliki berbagai negara dan kawasan.

Tidak ada satu jenis bahan baku maupun satu teknologi yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan global sehingga inovasi dan diversifikasi harus terus didorong.

Indonesia juga menekankan bahwa seluruh pengembangan metodologi, termasuk Life Cycle Assessment, evaluasi teknologi, maupun penilaian keberlanjutan, harus tetap berlandaskan metodologi yang transparan, bukti ilmiah yang kuat, kriteria keberlanjutan yang kredibel, serta bebas dari intervensi politik.

“Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan seluruh negara anggota terhadap kerangka kerja ICAO sekaligus memastikan bahwa target pengurangan emisi dapat dicapai secara adil, objektif, dan implementatif,” urainya.

Dengan dukungan para pemangku kepentingan nasional, Indonesia terus berkomitmen memberikan kontribusi melalui masukan teknis, diskusi ilmiah, dan pendekatan berbasis bukti guna memperkuat hasil kerja Working Group 5.

Sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi udara dalam menghubungkan masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Indonesia memahami bahwa keberlanjutan dan konektivitas harus berjalan beriringan.

Oleh karena itu, kata dia, Indonesia siap mengambil peran yang lebih besar dalam mendukung tujuan ICAO sekaligus memperkuat kontribusinya bagi komunitas penerbangan internasional.

“Indonesia meyakini bahwa keberhasilan dekarbonisasi penerbangan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi internasional yang didukung oleh ilmu pengetahuan, transparansi, dan inovasi. Kami mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel melalui beragam sumber bahan baku dan teknologi yang memenuhi standar ICAO, sehingga setiap negara dapat berkontribusi sesuai potensi yang dimilikinya. Melalui forum ini, kami berharap lahir berbagai rekomendasi teknis yang memperkuat implementasi CORSIA Eligible Fuels sekaligus mendukung pertumbuhan penerbangan internasional yang berkelanjutan,” ujar Sokhib.

Melalui pertemuan ini, Indonesia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan forum sebagai wadah untuk bertukar pengetahuan secara terbuka, mempererat kerja sama internasional, serta menghasilkan solusi teknis yang praktis dan berbasis ilmiah guna mendukung pertumbuhan penerbangan internasional yang berkelanjutan bagi generasi saat ini maupun masa depan. (omy)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

PTP Nonpetikemas Raih Pengakuan ISRA 2026 Kategori Sustainability Report

7 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Semester I-2026, MR D.I.Y. Cetak Laba Rp590,7 Miliar

7 Agustus 2026 - 15:57 WIB

Garuda Indonesia Kembali Terbangi Rute Bandung–Bali

7 Agustus 2026 - 13:59 WIB

Mulai 14 Agustus 2026, Bandara Husein Siap Layani Penerbangan Jet

7 Agustus 2026 - 13:42 WIB

Top! Bandara Soekarno-Hatta Tersibuk Kedua di Asia Tenggara

7 Agustus 2026 - 12:23 WIB

Berkembangnya AI Pacu Kebutuhan Data Center

7 Agustus 2026 - 06:10 WIB

22 Penumpang Scoot Tujuan Padang Terlantar di Bandara Changi, Klaim Rugi Lebih dari Rp110 Juta

6 Agustus 2026 - 20:23 WIB

Mantap, PTP Nonpetikemas Sabet 2 Penghargaan di PR Awards 2026

6 Agustus 2026 - 20:07 WIB

PTPN I Perkuat Branding Hasil Produk Olahan

6 Agustus 2026 - 16:11 WIB

Kopi Gayo Aceh Masuk 5 Besar Biji Kopi Terbaik Dunia Versi TasteAtlas 2026

5 Agustus 2026 - 20:13 WIB

Trending di EKOBIS