Menu ✖

Mode Gelap
H. Fikri Prihatin Kenakalan Remaja Kembali Marak di Kabupaten Bogor, Semua Pihak Diminta Turun Tangan Prabowo dan El-Sisi Sepakati Empat Kerja Sama Strategis, Indonesia–Mesir Perkuat Kemitraan Ekonomi hingga Pertahanan Kabut Asap Kepung Fakfak, Warga Bertahan di Rumah, Kualitas Udara Mengancam Kesehatan Kemenhub Optimistis Zero ODOL Dimulai 1 Januari 2027 Kabut Asap Selimuti Fakfak, Penerbangan di Bandara Siboru Dihentikan Sementara SCI Apresiasi Pelaku Usaha Lewat Indonesia Logistics Awards 2026

BANDARA

Indonesia jadi Tuan Rumah ICAO CAEP Working Group 5

badge-check


 Indonesia jadi Tuan Rumah ICAO CAEP Working Group 5 Perbesar

Wartatrans.com, BALI – Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan  menjadi tuan rumah The Fourth Meeting of ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP) Working Group 5 (WG5)dalam siklus kerja CAEP ke-14.

Pertemuan yang digelar di Bali ini, dihadiri 130 pakar bahan bakar penerbangan dari berbagai negara, baik secara luring maupun daring, untuk memperkuat kerja sama internasional dalam mendukung dekarbonisasi penerbangan global.

Sebagai anggota ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP), Indonesia, melalui Indonesia CAEP Member, Syamsu Rizal menyampaikan apresiasi kepada seluruh pakar Working Group 5 yang hadir dan menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi aktif dalam pengembangan kebijakan teknis penerbangan berkelanjutan melalui partisipasi yang konstruktif dan berbasis ilmiah.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Sokhib Al Rokhman mengatakan, gelaran Working Group 5 di Bali menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi global dalam mempercepat transformasi sektor penerbangan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Working Group 5 memiliki peran strategis melalui tiga kelompok kerjanya, yaitu Life Cycle Assessment (LCA), Sustainability, dan
Technology, dalam memperkuat landasan teknis bagi pengembangan CORSIA Eligible Fuels serta mendukung upaya dekarbonisasi penerbangan internasional.

Pertemuan ini berlangsung pada saat industri penerbangan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, dinamika geopolitik global, hingga volatilitas pasar energi.

“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa percepatan transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan bagi sektor penerbangan tidak hanya menjadi kebutuhan lingkungan, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan dan keamanan energi jangka panjang,” ujar Shokib.

Indonesia berpandangan bahwa keberhasilan implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) secara luas memerlukan pendekatan yang seimbang. Selain menjaga integritas lingkungan yang tinggi, pengembangan SAF juga harus mampu mengakomodasi keberagaman sumber daya, bahan baku (feedstock), serta jalur produksi yang dimiliki berbagai negara dan kawasan.

Tidak ada satu jenis bahan baku maupun satu teknologi yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan global sehingga inovasi dan diversifikasi harus terus didorong.

Indonesia juga menekankan bahwa seluruh pengembangan metodologi, termasuk Life Cycle Assessment, evaluasi teknologi, maupun penilaian keberlanjutan, harus tetap berlandaskan metodologi yang transparan, bukti ilmiah yang kuat, kriteria keberlanjutan yang kredibel, serta bebas dari intervensi politik.

“Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan seluruh negara anggota terhadap kerangka kerja ICAO sekaligus memastikan bahwa target pengurangan emisi dapat dicapai secara adil, objektif, dan implementatif,” urainya.

Dengan dukungan para pemangku kepentingan nasional, Indonesia terus berkomitmen memberikan kontribusi melalui masukan teknis, diskusi ilmiah, dan pendekatan berbasis bukti guna memperkuat hasil kerja Working Group 5.

Sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi udara dalam menghubungkan masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Indonesia memahami bahwa keberlanjutan dan konektivitas harus berjalan beriringan.

Oleh karena itu, kata dia, Indonesia siap mengambil peran yang lebih besar dalam mendukung tujuan ICAO sekaligus memperkuat kontribusinya bagi komunitas penerbangan internasional.

“Indonesia meyakini bahwa keberhasilan dekarbonisasi penerbangan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi internasional yang didukung oleh ilmu pengetahuan, transparansi, dan inovasi. Kami mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel melalui beragam sumber bahan baku dan teknologi yang memenuhi standar ICAO, sehingga setiap negara dapat berkontribusi sesuai potensi yang dimilikinya. Melalui forum ini, kami berharap lahir berbagai rekomendasi teknis yang memperkuat implementasi CORSIA Eligible Fuels sekaligus mendukung pertumbuhan penerbangan internasional yang berkelanjutan,” ujar Sokhib.

Melalui pertemuan ini, Indonesia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan forum sebagai wadah untuk bertukar pengetahuan secara terbuka, mempererat kerja sama internasional, serta menghasilkan solusi teknis yang praktis dan berbasis ilmiah guna mendukung pertumbuhan penerbangan internasional yang berkelanjutan bagi generasi saat ini maupun masa depan. (omy)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kabut Asap Selimuti Fakfak, Penerbangan di Bandara Siboru Dihentikan Sementara

13 Oktober 2026 - 12:19 WIB

SCI Apresiasi Pelaku Usaha Lewat Indonesia Logistics Awards 2026

13 Oktober 2026 - 11:33 WIB

Kemenhub Terus Awasi Operasional Penerbangan di Tengah Dampak Karhutla

13 Oktober 2026 - 07:29 WIB

Kemenhub Pantau Dampak Insiden di Riyadh, Penerbangan Langsung Indonesia-Arab Saudi Beroperasi Normal

13 Oktober 2026 - 07:27 WIB

30 Hektare Lahan Meikarta Disiapkan untuk Rumah Subsidi

12 Oktober 2026 - 05:01 WIB

Estafet Kepemimpinan Garuda Indonesia, Menilik Kiprah Fadjar dan Glenny Mengawal Pemulihan

11 Oktober 2026 - 20:05 WIB

Executive Director 4 Pelindo Paparkan Peran Hukum dalam Bisnis BUMN di FH Unhas

11 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026

11 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Hadir di Multifinance Day 2026, ACC Dukung Inklusi Keuangan OJK

11 Oktober 2026 - 00:29 WIB

Elektrifikasi Truk Logistik: Investasi Mahal, Efisiensi Dipertaruhkan

10 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Trending di EKOBIS