Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Kondisi warga Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, masih memprihatinkan setelah akses utama desa berupa jembatan terputus akibat bencana hidrometeorologi pada 26 September 2026 sekitar pukul 21.00 WIB.
Situasi semakin membuat masyarakat khawatir pada 1 Oktober 2026, setelah beredar informasi mengenai adanya dugaan bendungan alami atau sumbatan material di bagian hulu sungai yang berada di atas Desa Reje Payung.
Informasi tersebut memicu kepanikan warga. Sebagian masyarakat mulai meninggalkan desa dan mengungsi ke wilayah yang dianggap lebih aman dan memiliki elevasi lebih tinggi.
Diperkirakan sekitar 89 kepala keluarga (KK) warga Reje Payung kini berpindah dan tersebar di tiga desa terdekat, yakni Desa Jamat, Desa Delung Sekinel, dan Kute Reje.
Sejak informasi tersebut beredar, warga mulai memindahkan barang-barang berharga, perabot rumah tangga, hingga membongkar sebagian bangunan rumah untuk dipindahkan ke lokasi yang lebih tinggi.
Sebagian warga bahkan memilih membongkar bagian dapur rumah untuk kemudian dibangun kembali secara sederhana di tempat pengungsian.
Ketua Pemuda Desa Reje Payung, Mulia Rizki, mengatakan warga saat ini berupaya menyelamatkan barang-barang mereka dengan kemampuan seadanya.

“Kami buat bangun seadanya, Bang, supaya barang-barang di rumah aman. Kalau tiba-tiba air naik karena bendungan, barang-barang rumah sudah aman,” ujar Mulia.
Menurutnya, kondisi warga semakin sulit karena akses keluar-masuk desa saat ini harus dilakukan menggunakan perahu akibat terputusnya akses utama.
“Sekarang kami kalau mau menyeberang harus pakai perahu, Bang. Susah mau ke sana-sini,” katanya.
Relawan Turun Salurkan Bantuan
Melihat kondisi tersebut, Yayasan Rumah Bumi bersama Posko Rakyat dan DMC Dompet Dhuafa (DMC DD) melakukan respons kebencanaan di Desa Reje Payung.
Respons dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak, khususnya kebutuhan air bersih serta akses pelayanan bagi warga.
Dalam kegiatan tersebut, tim membuka dapur umum untuk mendukung kebutuhan konsumsi masyarakat terdampak.
Selain itu, tim juga melakukan penyaluran air bersih bekerja sama dengan PDAM Takengon kepada masyarakat yang terdampak dan warga yang saat ini berada di lokasi pengungsian.
Penyaluran bantuan ini menjadi salah satu upaya untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi di tengah kondisi akses yang masih terbatas.
Informasi Bendungan Alami Belum Terverifikasi
Di tengah kepanikan warga, informasi mengenai adanya bendungan alami di bagian hulu hingga saat ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Informasi mengenai dugaan sumbatan material di hulu tersebut sebenarnya telah muncul sejak kejadian bencana hidrometeorologi pada tahun sebelumnya. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti lokasi, kondisi, maupun luas material yang disebut sebagai bendungan alami tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian karena masyarakat membutuhkan kepastian informasi mengenai tingkat ancaman yang mereka hadapi.
Pemerintah dan pihak terkait dinilai perlu segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi hulu untuk memastikan apakah benar terdapat bendungan alami, seberapa besar material yang menumpuk, serta potensi risiko apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Kepastian informasi tersebut penting agar masyarakat tidak hanya mengandalkan kabar yang beredar dan dapat menentukan langkah evakuasi berdasarkan informasi kebencanaan yang akurat.
Warga Kini Terpencar
Hingga saat ini, warga Desa Reje Payung masih berpindah dan tersebar di tiga wilayah, yakni Desa Jamat, Desa Delung Sekinel, dan Kute Reje.
Sebagian warga memilih membawa barang-barang penting dan tinggal sementara di tempat yang lebih tinggi, sementara sebagian lainnya masih bertahan di sekitar desa dengan kondisi akses yang terbatas.
Di tengah situasi tersebut, kebutuhan masyarakat tidak hanya sebatas bantuan logistik. Warga juga membutuhkan kepastian informasi mengenai kondisi di bagian hulu, akses yang aman, serta langkah mitigasi apabila ancaman banjir bandang kembali terjadi.
Respons dari Yayasan Rumah Bumi, Posko Rakyat, DMC DD, dan PDAM Takengon diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus menjadi bagian dari upaya penanganan kondisi darurat yang sedang dihadapi warga Reje Payung.** * (Jasa/Aling)






















