Menu ✖

Mode Gelap
H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026 Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan Dedit Cahyo Ponadi Terpilih sebagai Spark KAI Services September 2026 Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP

Uncategorized

Juara Pilah Sampah Dapat Potongan Pajak: Strategi Baru DKI Tekan 40% Sampah dari Hotel, Restoran, Kafe

badge-check


 Juara Pilah Sampah Dapat Potongan Pajak: Strategi Baru DKI Tekan 40% Sampah dari Hotel, Restoran, Kafe Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA —- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan insentif pajak bagi hotel, restoran, dan kafe yang menjadi juara kompetisi pilah sampah.

Kebijakan ini bagian dari dorongan Gubernur Pramono Anung agar pengelolaan sampah mandiri tidak berhenti jadi wacana, tapi masuk ke budaya usaha sehari-hari.

Langkah itu diambil saat volume sampah Jakarta terus menekan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir Bantar Gebang. Data Dinas Lingkungan Hidup DKI 2025 mencatat timbulan sampah harian Jakarta mencapai 7.500-7.800 ton.

Sekitar 60% berasal dari rumah tangga, sisanya dari sektor komersial termasuk hotel, restoran, kafe Horeka. Jika pilah dari sumber tidak masif, TPA akan overload jauh sebelum target zero waste 2030 tercapai.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan kompetisi pilah sampah sengaja dipakai karena efeknya langsung ke perilaku. “Yang terbaik, juara hadiahnya insentif pajak,” jelas Pramono.

Insentif pajak yang dimaksud mengarah pada pengurangan atau potongan Pajak Bumi dan Bangunan PBB, Pajak Restoran, dan retribusi terkait pengelolaan sampah daerah.

Skema teknis serta besaran potongan masih dimatangkan Badan Pendapatan Daerah Bapenda dan Dinas LH.

Menurut Pramono, pendekatan kompetisi lebih efektif dibanding imbauan biasa. “Kami akan lombakan untuk itu supaya ini menjadi gerakan yang masif, yang memberikan dampak manfaat bagi masyarakat,” kata Pramono.

Dengan skema ini, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sekadar kewajiban administratif, tetapi jadi gerakan bersama yang memberi insentif nyata ke pelaku usaha.

*Data dan target insentif pajak sampah Jakarta*

Insentif ini menyasar pelaku usaha Horeka yang mengikuti kompetisi pilah sampah di tingkat kota dan kecamatan.

Penilaian akan berbasis tiga indikator utama: tingkat pemilahan, besarnya pengurangan timbulan sampah dari sumber, serta konsistensi pelaporan ke Dinas LH melalui sistem digital.

Pemenang tiap wilayah nantinya diajukan ke Bapenda untuk pencairan potongan pajak. Bentuk insentif yang disiapkan Pemprov berupa pengurangan pajak daerah, terutama PBB dan Pajak Restoran, ditambah kemudahan retribusi kebersihan.

Durasi insentif dirancang fleksibel 1-3 tahun tergantung capaian kinerja usaha. Angka pastinya masih difinalisasi, tapi arahnya jelas: semakin besar kontribusi pemilahan, semakin besar keringanan pajak yang diterima.

Dari sisi urgensi, data DLH menunjukkan Jakarta masih menghasilkan rata-rata 7.500 ton sampah per hari pada 2025. Sektor komersial menyumbang sekitar 40% dari total itu.

Pemprov menghitung, jika pilah dari sumber berhasil menekan 20% timbulan, maka beban sampah ke Bantar Gebang bisa berkurang 1.500 ton per hari.

Untuk konteks usaha, 1 hotel bintang 4 yang menerapkan komposter dan bank sampah berpotensi memotong 30-40% sampah organiknya sebelum sampai ke TPA.

Jika efek itu dikalikan ke ribuan hotel, restoran, dan kafe di Jakarta, dampaknya akan signifikan terhadap pengurangan beban lingkungan. Tujuan jangka panjangnya bukan sekadar mengejar angka.

“Saya ingin benar-benar gerakan pilah sampah ini bukan menjadi gerakan yang hanya musiman karena adanya instruksi gubernur, tetapi sudah menjadi gerakan kebersamaan yang ada di masyarakat seluruh lapisan, mulai dari hotel, restoran, kafe sampai dengan masyarakat terbawah,” tegas Pramono.

Dinas LH DKI nantinya akan menurunkan kurator dan membangun sistem pelaporan digital untuk memverifikasi kinerja peserta.

Hotel, restoran, kafe, wajib mencatat berat sampah terpilah, jenis, dan mitra daur ulang.

Dengan insentif pajak ini, Pemprov DKI berharap muncul efek domino: pelaku usaha berlomba efisiensi biaya sekaligus menekan pencemaran.

Jika gerakan masif terbentuk, beban TPA berkurang, dan Jakarta bisa lebih cepat mengejar target kota rendah karbon.***

(Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir

8 Oktober 2026 - 10:59 WIB

WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026

8 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi

8 Oktober 2026 - 10:41 WIB

PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan

8 Oktober 2026 - 10:36 WIB

Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP

8 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Trending di ANJUNGAN