Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat layanan Kereta Petani dan Pedagang di lintas Merak–Rangkasbitung telah melayani sebanyak 17.867 pelanggan selama periode 1 Januari hingga 11 Mei 2026.
Layanan tersebut menjadi sarana transportasi andalan bagi petani dan pedagang pasar tradisional untuk membawa hasil panen menuju pasar.

Di sejumlah stasiun sepanjang lintas Rangkasbitung–Merak, aktivitas masyarakat sudah dimulai sejak dini hari. Para petani dan pedagang datang membawa berbagai hasil pertanian seperti cabai, bawang, tomat, dan sayuran yang baru dipanen agar tetap segar saat tiba di tujuan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan layanan Kereta Petani dan Pedagang dihadirkan sebagai upaya mendukung kebutuhan transportasi masyarakat kecil dengan tarif yang terjangkau.
“Bagi petani dan pedagang kecil, selisih ongkos perjalanan sangat berarti. Saat biaya distribusi lebih ringan, mereka dapat membawa hasil panen lebih banyak, menjaga usaha tetap berjalan, dan mempertahankan penghasilan untuk keluarga,” ujar Anne dikutip Rabu (13/5/2026).
Kereta Petani dan Pedagang mulai beroperasi sejak 1 Desember 2025 dengan tarif Rp3.000 per perjalanan melalui skema Public Service Obligation (PSO). Kereta melayani rute Merak–Rangkasbitung pulang pergi setiap hari dengan total 14 perjalanan, terdiri dari tujuh perjalanan dari Merak dan tujuh perjalanan dari Rangkasbitung.
Menurut Anne, keberadaan layanan tersebut turut membantu mempercepat distribusi komoditas pertanian sehingga hasil panen dapat tiba di pasar dalam kondisi lebih segar dan memiliki nilai jual yang lebih baik.
“Ketika distribusi pangan berjalan lancar, manfaatnya dirasakan banyak pihak. Petani terbantu membawa hasil kebun, pedagang lebih mudah menjaga pasokan dagangan, dan masyarakat mendapatkan bahan pangan yang lebih segar di pasar,” katanya.
Untuk menggunakan layanan tersebut, petani dan pedagang diwajibkan melakukan registrasi di loket stasiun menggunakan KTP guna memperoleh kartu khusus pelanggan.
KAI juga menyesuaikan fasilitas kereta dengan kebutuhan pengguna yang membawa hasil pertanian dan barang dagangan. Kereta dilengkapi tempat duduk menyamping berkapasitas 73 pelanggan, pintu lebih lebar, serta ruang penyimpanan barang bawaan agar proses naik turun menjadi lebih mudah.
Anne menambahkan layanan tersebut menunjukkan peran transportasi publik dalam mendukung aktivitas pertanian dan perputaran ekonomi masyarakat di pasar tradisional.
“Di setiap perjalanan kereta ini ada hasil panen yang dirawat dengan kerja keras selama berbulan-bulan. Ada pedagang yang berangkat dini hari demi menjaga usahanya tetap hidup. Saat perjalanan menjadi lebih ringan dan distribusi semakin lancar, masyarakat dapat merasakan manfaat yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” tutup Anne.(fahmi)































