Oleh: Presti Febriana
Wartatrans.com, JAKARTA – Bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa atau wilayah barat Indonesia, rasanya tidak sulit untuk memilih moda transportasi.

Mau naik motor? Ada. Kereta? Tersedia. Pesawat? Frekuensinya relatif tinggi. Bahkan mau naik transportasi online pun tinggal sentuh layar ponsel kita.
Namun, begitu melangkah ke Indonesia Timur, kondisinya jelas berbeda. Di sana, daratan bukan lagi hamparan luas, tapi pulau-pulau yang terpisah oleh lautan sejauh mata memandang.
Jarak yang jauh, penduduknya tersebar, menjadikan laut satu-satunya jalan. Dan transportasi laut bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan.
Di sinilah negara hadir melalui penyediaan subsidi angkutan laut perintis.
Program ini memberikan porsi layanan perintis lebih besar bagi kawasan timur Indonesia.
Bukan tanpa alasan, karena di sanalah kehadiran kapal perintis paling dirindukan. Ini menjadi bentuk nyata bahwa pemerintah berpihak pada mereka yang berada jauh dari pusat kota.
Kapal perintis
Kementerian Perhubungan mencatat, pada periode Januari hingga Juni 2026, terdapat 107 kapal perintis yang melayani 107 trayek dan menyinggahi 486 pelabuhan.
Lebih dari setengahnya, 54 trayek atau sekitar 51 persen beroperasi di wilayah timur Indonesia. Sementara itu, 41 trayek atau 38 persen berada di wilayah tengah, dan 12 trayek atau 11 persen melayani wilayah barat Indonesia.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cermin dari kebutuhan yang nyata akan akses transportasi.
Karena itu, rasanya keliru kalau kita hanya memandang subsidi kapal perintis sebagai “belanja negara”. Ini lebih tepat disebut “investasi”.
Investasi untuk masa depan, untuk konektivitas, dan untuk kehidupan.
Kapal perintis tidak hanya mengangkut penumpang dan barang saja. Lebih dari itu, kapal perintis berlayar mengangkut harapan.
Bagi masyarakat di pulau terpencil, kapal ini adalah jembatan ke pusat pemerintahan, ke sekolah, ke rumah sakit yang berada di pulau seberang.
Ketika kapal merapat di dermaga kecil, yang terjadi bukan sekadar bongkar-muat.
Anak-anak berlarian menyambut, ibu-ibu mulai membuka dagangan, dan seluruh kampung seolah bernapas lega. Di saat itulah, roda ekonomi berputar.
Kehadiran kapal perintis adalah wujud nyata bahwa negara hadir di tengah keterbatasan.
Ia datang di tempat-tempat yang tidak dilewati kapal komersial karena dianggap tidak menguntungkan.
Maka, wajar bila kapal perintis dijuluki primadona transportasi di Indonesia Timur.
Bukan karena si paling cepat, bukan karena paling modern, namun karena ia tetap hadir ketika pilihan transportasi lain belum tentu tersedia.
Ke depan, tantangannya bukan lagi “Apakah kapal perintis masih diperlukan?” Jawabannya sudah jelas, sangat diperlukan.
Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana membuat layanan kapal perintis menjadi lebih baik, lebih aman, lebih nyaman, dan tentu saja dengan harga tiket tetap terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Karena selama masih ada masyarakat yang menggantungkan hidup pada kedatangan kapal, selama itu pula kapal perintis akan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia sebagai negara kepulauan.
*Penulis adalah ASN Kementerian Perhubungan



