Wartatrans.com, BALI – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan gelar 5th In-Person Meeting on Regional Data Sharing Initiative di Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, Bali, Senin (20/4/2026).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut komitmen bersama melalui Memorandum of Understanding (MoU) Regional Aviation Safety Data and Information Sharing Initiative, yang disepakati pada tahun 2024, sekaligus memperkuat harmonisasi proses dan standardisasi data keselamatan antarnegara.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan negara-negara di kawasan dalam penerapan pertukaran data keselamatan guna memperkuat pengawasan berbasis data (data-driven safety oversight) di kawasan Asia Pasifik.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Sokhib Al Rokhman menegaskan pentingnya kolaborasi regional dalam meningkatkan keselamatan penerbangan.
“Seiring perkembangan industri penerbangan, data menjadi instrumen penting dalam mendukung pengawasan yang efektif. Melalui inisiatif ini, kita mengambil langkah konkret menuju pendekatan keselamatan yang lebih terkoordinasi dan berbasis data,” ujar Sokhib di sela pembukaan acara.
Pertemuan ini dihadiri perwakilan regulator penerbangan lima negara ASEAN, yakni Indonesia sebagai tuan rumah, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina.
Turut hadir pula International Air Transport Association (IATA) dan European Union Aviation Safety Agency (EASA).
Sokhib, yang didampingi Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Bali dan Ketua Kantor Pelaksana State Safety Programme Indonesia, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antarnegara dalam pengumpulan dan pertukaran data keselamatan, termasuk pengembangan dashboard yang menampilkan tren keselamatan regional dan global.
“Kolaborasi ini menunjukkan apa yang dapat kita capai ketika bekerja bersama. Upaya kolektif dalam pengelolaan dan analisis data telah menghasilkan wawasan bermakna untuk mendukung peningkatan keselamatan penerbangan,” ucapnya.
Pertemuan membahas berbagai isu strategis keselamatan penerbangan yang termuat dalam laporan wajib (Mandatory Occurrence Report/MOR), termasuk analisis kejadian Ground Proximity Warning System (GPWS), pertukaran metodologi pemantauan Safety Performance Indicators (SPI), serta pengembangan dashboard analisis data keselamatan.
“Kami juga menyambut baik semakin luasnya partisipasi dalam inisiatif ini, yang memperkaya perspektif serta memperkuat kapasitas kolektif dalam meningkatkan keselamatan penerbangan,” ujar Sokhib.
Melalui pertemuan ini, Indonesia menegaskan komitmen untuk terus mendorong kolaborasi regional dan membangun sistem keselamatan penerbangan yang lebih kuat, terintegrasi, dan proaktif.
“Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga kesempatan untuk saling belajar dan merumuskan langkah konkret ke depan dalam meningkatkan keselamatan penerbangan,” tutupnya.
Kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antarnegara dan pemangku kepentingan, serta mendukung terciptanya sistem keselamatan penerbangan yang berkelanjutan di tingkat regional maupun global.
Kegiatan dilaksanakan secara hybrid dengan partisipasi langsung dan daring dari para pemangku kepentingan penerbangan. (omy)































