Wartatrans.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan berkomitmen mendorong pengembangan transportasi publik yang bersih, cerdas, terintegrasi, terhubung, dan berkelanjutan guna mendukung mobilitas kawasan ASEAN.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Muiz Thohir saat menjadi keynote speaker dalam Busworld Southeast Asia Conference 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Tema kegiatannya “Driving the Future of ASEAN Mobility: Clean, Smart, and Connected Buses”.
“Bagi banyak kota di kawasan ASEAN, keberhasilan transformasi transportasi berkelanjutan sangat ditentukan oleh kemampuan menghadirkan sistem layanan bus yang andal, efisien, terjangkau, dan inklusif bagi masyarakat. Untuk itu kami berkomitmen terus mendorong pengembangan sistem transportasi publik yang berorientasi pelayanan masyarakat,” jelas Muiz.
Dia mengatakan, layanan angkutan bus dapat menjadi moda transportasi yang strategis untuk mendukung konektivitas harian masyarakat dan layanan bus juga memiliki kemampuan pengembangan yang tinggi dalam mendukung sistem transportasi perkotaan maupun regional.
Oleh karena itu, saat ini Kemenhub terus melakukan upaya memperkuat sistem transportasi publik nasional, salah satunya dengan mengembangkan proyek Bus Rapid Transit (BRT) bersama World Bank di wilayah Cekungan Bandung (BRT Bandung Basin Metropolitan Area) dan BRT di wilayah Sumatera Utara mencakup Medan, Binjai, Deli Serdang (Mebidang).
“Kami terus berupaya mengembangkan sistem dan layanan transportasi publik melalui pengembangan angkutan massal perkotaan, sistem BRT, serta integrasi antarmoda. Saat ini kami bekerjasama dengan World Bank untuk mengembangkan pilot project BRT Sumatera Utara dan BRT di Bandung dengan dedicated lane, halte, termasuk pengembangan ITS untuk mensupport operasional,” kata Muiz.
Menurutnya, Kemenhub juga tengah memperluas sinergi dengan pemerintah daerah, pelaku industri, mitra pembangunan, dan operator transportasi.
Langkah ini guna mewujudkan transportasi publik yang semakin andal, terintegrasi, dan mampu menjadi pilihan utama masyarakat dalam mendukung mobilitas sehari-hari.
“Jadi konsep yang kita kembangkan di BRT Bandung maupun Medan adalah kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah pusat akan membangun infrastruktur untuk BRT sedangkan penyediaan sarananya, bus termasuk bus listrik menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah, jadi itu bentuk kolaborasi kita dan komitmen kita bersama,” imbuhnya.
Dia menambahkan, transformasi mobilitas yang lebih bersih, cerdas, terhubung, dan inklusif dapat direalisasikan melalui kerja sama semua pihak.
Muiz bilang, sinergi dan kolaborasi pemerintah dengan stakeholder serta masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan masa depan mobilitas di ASEAN.
“Bila kita ingin kota yang lebih bersih, maka perlu sistem transportasi lebih ramah lingkungan, bila ingin mobilitas yang lebih efisien, diperlukan sistem transportasi yang lebih cerdas. Bila kita menginginkan perjalanan yang semakin terhubung, seamless, maka diperlukan konektivitas yang semakin kuat antarmoda dan antarwilayah yang dapat diwujudkan dengan kolaborasi,” tutup Muiz. (omy)






























