Menu

Mode Gelap
Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket

Uncategorized

Menyeruput Senyap di Tepi Nil

badge-check


 Menyeruput Senyap di Tepi Nil Perbesar

Wartatrans.com, KAIRO — Sore jatuh perlahan di Kairo. Di sebuah kafe Hotel Hilton yang menghadap Sungai Nil, udara dingin berembus halus, memisahkan ruang ini dari panas kota yang siang hari bisa menyengat hingga di atas 35 derajat Celsius. Di tangan, secangkir kopi latte mengepul. Hangat. Menenangkan.

Dari balik kaca, Sungai Nil mengalir tanpa tergesa. Kapal-kapal kecil melintas satu per satu, membawa wisatawan yang ingin melihat Kairo dari air, atau warga lokal yang sekadar menikmati sore. Nil, sungai terpanjang di dunia dengan panjang lebih dari 6.650 kilometer, telah mengalirkan peradaban selama ribuan tahun. Di sepanjang bantaran sungai inilah Mesir kuno tumbuh—pertanian, kota, dan kekuasaan lahir dari limpahan airnya.

Kini, gedung-gedung tinggi berdiri berderet di tepi sungai. Beton dan kaca menggantikan papirus dan batu kapur. Kairo berubah menjadi megapolitan dengan lebih dari 20 juta penduduk. Namun Nil tetap sama: mengalir, diam-diam, setia pada arahnya.

Dari dalam kafe, denting piano terdengar samar. Musik itu menyusup pelan, berpadu dengan suara air yang berkejaran di kejauhan. Ruang ini terasa seperti jeda—tempat waktu dipersilakan berhenti sejenak. Hilton, salah satu hotel internasional tertua di pusat kota, kerap menjadi titik temu pelancong dunia: diplomat, pebisnis, seniman, hingga jurnalis. Tapi sore itu, tak ada yang penting selain hening.

Kopi latte diseruput perlahan. Rasanya kuat, pahit, dengan jejak susu yang lembut. Udara dingin menyentuh kulit, tapi kehangatan menetap di dada. Dalam suasana seperti ini, pikiran menjadi jernih. Tak ada agenda. Tak ada keharusan. Hanya ada sungai, kopi, dan kesadaran bahwa hidup, seperti Nil, terus mengalir.

Di tepi sungai yang telah menyaksikan jatuh bangunnya dinasti dan kekuasaan, manusia hari ini hanya penikmat singgah. Duduk sebentar, lalu pergi. Namun ketenangan yang singkat itu cukup untuk mengingatkan: tidak semua perjalanan harus tergesa.

Sore itu, di kafe Hilton, bersama secangkir kopi latte, Nil mengajarkan satu hal sederhana—bahwa diam pun bisa menjadi bentuk perjalanan, dalam bait puisi, yang aku goreskan:

Puisi Tepi Nil

Di tepi Nil, cafe Hilton yang sejuk
Udara dingin, dada terasa lapang
Secangkir kopi latte hangat di tangan
Resto yang nyaman, suasana yang tenang

Kapal kecil satu-satu bersileweran
Di sungai Nil yang bersejarah
Gedung-gedung berbaris di tepi sungai
Gemericik air, denting piano menyapa

Nuansa tenang mulai menyelimuti
Hati yang damai, pikiran yang jernih
Di tempat ini, aku merasa bebas
Bersama kopi latte, di tepi Nil yang megah

Ku seruput kopi latte, perlahan-lahan
Dingin oleh sejuk udara, tapi hangat di dada
Rasa kopi yang kuat, aroma yang harum
Membuatku semakin nyaman, di tempat yang tenang. 

_____________

Pagi di Tepi Nil

Di lantai 26, kamar no 27 hotel Hilton
Tepi sungai Nil, Kairo yang megah
Sesudah mandi pagi, pandangan mataku
Menelusuri sungai yang luas, aku terpesona

Pagi di musim dingin, suasana hening
Sinar matahari, memantul di air
Setelah dinginnya udara, tambah kabut
Sedikit menutup pandangan, tak menggangguku

Sungai Nil yang bersejarah
Membawa kenangan, membawa cerita
Aku di sini, menikmati pagi
Bersama kamu, kekasih, di tempat yang Agung
Bersama buah cinta kita, yang tumbuh subur

– Nil 28 Desember 2025

_____ Catatan Perjalanan wartawan Wartatrans.com: Muzafal Syah, dari Kairo.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops

16 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Trending di RAGAM