Wartatrans.com, JAKARTA – Pasar ritel Jakarta memasuki fase yang semakin selektif. Pengelola pusat perbelanjaan tidak lagi cukup menyediakan ruang, sementara retailer semakin mempertimbangkan lokasi yang mampu mendukung penjualan, citra merek, dan pertumbuhan konsumen.
Research Colliers Indonesia mencatat ruang kosong pada kuartal II 2026 paling tinggi berada di Jakarta Selatan di luar kawasan pusat bisnis atau CBD, sekitar 21 persen.

Jakarta Utara menyusul sekitar 20 persen. Kondisi tersebut menunjukkan pemulihan pasar ritel belum merata.
Kurasi pelaku usaha (tenant) kini bukan sekadar cara mengisi ruang kosong. Pengelola harus memastikan tenant yang dipilih sesuai dengan karakter pengunjung dan saling melengkapi, sementara retailer mencari lokasi yang dapat mendukung penjualan dan pertumbuhan merek.
Pada Rabu (26/8/2026), Head of Retail Services Colliers Indonesia Sander Halsema mengatakan pemilik pusat perbelanjaan perlu membangun komposisi tenant yang lebih strategis dengan mempertimbangkan profil pelanggan, pola belanja, preferensi gaya hidup, serta arah bisnis mal.
“Bagi pemilik pusat perbelanjaan, penting untuk membangun tenant mix yang lebih strategis dan sesuai dengan profil pelanggan, pola belanja, preferensi gaya hidup, serta arah atau posisi bisnis mal untuk jangka panjang,” kata Halsema.
Menurutnya, retailer juga perlu memilih lokasi yang sesuai dengan target konsumen, memiliki potensi produktivitas yang baik, dan mendukung pertumbuhan permintaan.
Di sisi konsumen, aktivitas belanja masih relatif terjaga. Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 sebesar 225,0, tumbuh 0,7 persen secara bulanan. Namun secara tahunan, IPR masih terkontraksi 3,0 persen.
Kondisi itu membuat pemilihan tenant semakin penting. Pengelola perlu menghadirkan kombinasi merek lokal dan internasional, F&B, lifestyle, layanan, serta hiburan yang sesuai dengan karakter pengunjung.
Konsep tersebut terlihat pada Extended Concourse Stasiun MRT Bundaran HI. Area multifungsi seluas sekitar 4.439 meter persegi itu memiliki area retail sekitar 1.387 meter persegi yang disiapkan untuk berbagai tenant.
Department Head Commercial MRT Jakarta Ricky Agung Kresna Putra mengatakan, komposisi tenant akan dibuat lebih beragam dan berorientasi pada tujuan kunjungan.
“Tenancy mix Extended Concourse MRT Bundaran HI akan dikembangkan dengan konsep yang lebih beragam dan destination-oriented,” kata Ricky.
Konsep tersebut mencakup F&B, lifestyle, fashion, dan services. Extended Concourse juga diarahkan menjadi bagian dari ekosistem komersial yang terintegrasi dengan aktivitas transportasi.
Persaingan mal Jakarta akhirnya bukan sekadar soal siapa memiliki ruang paling banyak. Penentunya semakin bergeser pada kemampuan memilih tenant yang tepat, membaca konsumen, dan menciptakan alasan bagi pengunjung untuk datang kembali. (Artha Tidar)































