Menu

Mode Gelap
Halimah Munawir Podcast Hadirkan “Rasa, Kata & Karya” di Kanal Sosialita TV PT Pelindo Jasa Maritim Perkuat Kompetensi SDM melalui Endorsement Pandu Batch 1 IPC TPK Panjang Perbesar Kapasitas Bongkar Muat dengan QCC Post Panamax Tim G-PEAT Pertanian UNRI Raih Medali Emas di Ajang Inovasi Internasional Malaysia Peringatan 14 Tahun SMK Nusa Mandiri: Lestarikan Budaya dan Seni di Tengah Gempuran Digital Bimbel Saufa Center Ajukan Bantuan Tandon Air Bersih untuk Warga Pedalaman Linge

EKOBIS

Petani Kopi Gayo Desak Pemerintah Hadir Nyata Pasca Bencana

badge-check


 Petani Kopi Gayo Desak Pemerintah Hadir Nyata Pasca Bencana Perbesar

Wartatrans.com, TAKENGON — Bencana hidrometeorologi dan tanah longsor yang melanda kawasan Dataran Tinggi Gayo meninggalkan luka mendalam bagi ribuan petani kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Ribuan hektar perkebunan rusak, akses jalan terputus, dan produktivitas kopi menurun drastis. Di tengah kondisi tersebut, para petani berharap pemerintah tidak sekadar hadir lewat janji dan laporan administrasi semata.

Kopi Arabika Gayo selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia yang telah menembus pasar internasional. Selain menjadi kebanggaan daerah, kopi Gayo juga menyumbang devisa negara dalam jumlah besar setiap tahunnya. Namun, ancaman terhadap keberlanjutan produksi kini semakin nyata akibat kerusakan lahan dan minimnya dukungan pemulihan di lapangan.

Pendiri Kopi Gayo sekaligus pengembang sistem tanam pagar, Adi Armiyadi, meminta pemerintah pusat memastikan bantuan benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan. Menurutnya, bantuan bibit unggul yang selama ini dijanjikan harus disertai transparansi dan pengawasan ketat.

“Kami minta kejelasan mutlak. Di mana bibit itu disimpan, siapa petani penerimanya, dan di lahan mana bibit itu ditanam. Jangan sampai bantuan hanya ramai di media atau tertulis rapi di laporan, tetapi wujudnya tidak pernah tampak di kebun petani,” kata Adi kepada Wartatrans, Jumat (16/5/2026).

Adi menilai keberadaan bibit bersertifikat menjadi kebutuhan mendesak dalam proses pemulihan perkebunan kopi pascabencana. Tanpa dukungan bibit yang memadai, produktivitas kopi Gayo dikhawatirkan terus merosot dan berdampak pada kualitas kopi yang selama ini telah diakui dunia.

Selain persoalan bibit, kelangkaan pupuk juga menjadi masalah serius yang dihadapi petani saat ini. Adi mengungkapkan, pupuk sulit diperoleh dan akses distribusinya dinilai belum merata.

“Tanah bekas longsor kehilangan unsur hara dan membutuhkan pemulihan serius. Kalau pupuk sulit didapat, sementara bibit sudah ditanam, petani akan kesulitan menghidupkan kembali kebunnya,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat banyak petani harus berjuang sendiri di tengah keterbatasan. Menurutnya, distribusi pupuk tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu, sebab seluruh petani terdampak membutuhkan akses yang sama untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.

Tak hanya itu, Adi juga menyoroti kerusakan infrastruktur yang hingga kini belum tertangani secara maksimal. Jalan menuju perkebunan rusak parah, sejumlah jembatan putus, dan akses distribusi hasil pertanian terhambat akibat longsor.

“Jalan dan jembatan adalah urat nadi ekonomi masyarakat. Apa gunanya bibit dan pupuk kalau tidak bisa masuk ke kebun? Dan apa gunanya hasil panen kalau sulit dibawa keluar?” katanya.

Ia berharap pemerintah pusat segera menetapkan perbaikan infrastruktur sebagai prioritas utama, bersamaan dengan penyaluran bantuan pertanian. Sebab tanpa akses transportasi yang memadai, biaya angkut hasil panen akan terus meningkat dan semakin membebani petani kopi di kawasan Gayo.

Di tengah berbagai persoalan itu, masyarakat Gayo tetap berupaya mempertahankan semangat “Dari Gayo untuk Indonesia”. Harapan mereka sederhana: pemerintah hadir secara nyata, mendengar suara petani, dan memastikan setiap bantuan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di lapangan.*** (Basaruddin/BSG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gerai Kekinian Karya UMKM Lokal Percantik Kawasan Danau Lut Tawar

15 Mei 2026 - 14:40 WIB

INACA Apresiasi Penyesuaian Fuel Surcharge dari Pemerintah

14 Mei 2026 - 20:45 WIB

Pendampingan Intensif PNM Dorong Kemandirian Ibu-Ibu Pelaku Usaha Mikro

14 Mei 2026 - 20:33 WIB

Gelar RUPST, Garuda Indonesia Perkuat Fokus Transformasi

14 Mei 2026 - 12:43 WIB

Jumlah Penumpang Garuda Indonesia Group Tumbuh 6,76% di Kuartal I-2026

14 Mei 2026 - 12:36 WIB

KSP Dudung Abdurachman Tinjau Langsung Pelindo, Dukung Penguatan Tata Kelola Pelabuhan Nasional

13 Mei 2026 - 19:41 WIB

PT Pelindo Solusi Maritim Modernisasi Crane Pelabuhan dengan Pembaruan Sistem Komputerisasi

13 Mei 2026 - 18:30 WIB

TPK Teluk Lamong Catat Lonjakan Arus Petikemas Internasional 91 Persen

13 Mei 2026 - 11:59 WIB

SPJM Bukukan Laba Bersih Lampaui Target RKAP pada Kuartal I 2026

13 Mei 2026 - 07:39 WIB

Bappenas Sebut PTPN I Strategis untuk Ketahanan Pangan dan Energi

13 Mei 2026 - 07:02 WIB

Trending di EKOBIS