Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

EKOBIS

Petani Kopi Gayo Desak Pemerintah Hadir Nyata Pasca Bencana

badge-check


 Petani Kopi Gayo Desak Pemerintah Hadir Nyata Pasca Bencana Perbesar

Wartatrans.com, TAKENGON — Bencana hidrometeorologi dan tanah longsor yang melanda kawasan Dataran Tinggi Gayo meninggalkan luka mendalam bagi ribuan petani kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Ribuan hektar perkebunan rusak, akses jalan terputus, dan produktivitas kopi menurun drastis. Di tengah kondisi tersebut, para petani berharap pemerintah tidak sekadar hadir lewat janji dan laporan administrasi semata.

Kopi Arabika Gayo selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia yang telah menembus pasar internasional. Selain menjadi kebanggaan daerah, kopi Gayo juga menyumbang devisa negara dalam jumlah besar setiap tahunnya. Namun, ancaman terhadap keberlanjutan produksi kini semakin nyata akibat kerusakan lahan dan minimnya dukungan pemulihan di lapangan.

Pendiri Kopi Gayo sekaligus pengembang sistem tanam pagar, Adi Armiyadi, meminta pemerintah pusat memastikan bantuan benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan. Menurutnya, bantuan bibit unggul yang selama ini dijanjikan harus disertai transparansi dan pengawasan ketat.

“Kami minta kejelasan mutlak. Di mana bibit itu disimpan, siapa petani penerimanya, dan di lahan mana bibit itu ditanam. Jangan sampai bantuan hanya ramai di media atau tertulis rapi di laporan, tetapi wujudnya tidak pernah tampak di kebun petani,” kata Adi kepada Wartatrans, Jumat (16/5/2026).

Adi menilai keberadaan bibit bersertifikat menjadi kebutuhan mendesak dalam proses pemulihan perkebunan kopi pascabencana. Tanpa dukungan bibit yang memadai, produktivitas kopi Gayo dikhawatirkan terus merosot dan berdampak pada kualitas kopi yang selama ini telah diakui dunia.

Selain persoalan bibit, kelangkaan pupuk juga menjadi masalah serius yang dihadapi petani saat ini. Adi mengungkapkan, pupuk sulit diperoleh dan akses distribusinya dinilai belum merata.

“Tanah bekas longsor kehilangan unsur hara dan membutuhkan pemulihan serius. Kalau pupuk sulit didapat, sementara bibit sudah ditanam, petani akan kesulitan menghidupkan kembali kebunnya,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat banyak petani harus berjuang sendiri di tengah keterbatasan. Menurutnya, distribusi pupuk tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu, sebab seluruh petani terdampak membutuhkan akses yang sama untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.

Tak hanya itu, Adi juga menyoroti kerusakan infrastruktur yang hingga kini belum tertangani secara maksimal. Jalan menuju perkebunan rusak parah, sejumlah jembatan putus, dan akses distribusi hasil pertanian terhambat akibat longsor.

“Jalan dan jembatan adalah urat nadi ekonomi masyarakat. Apa gunanya bibit dan pupuk kalau tidak bisa masuk ke kebun? Dan apa gunanya hasil panen kalau sulit dibawa keluar?” katanya.

Ia berharap pemerintah pusat segera menetapkan perbaikan infrastruktur sebagai prioritas utama, bersamaan dengan penyaluran bantuan pertanian. Sebab tanpa akses transportasi yang memadai, biaya angkut hasil panen akan terus meningkat dan semakin membebani petani kopi di kawasan Gayo.

Di tengah berbagai persoalan itu, masyarakat Gayo tetap berupaya mempertahankan semangat “Dari Gayo untuk Indonesia”. Harapan mereka sederhana: pemerintah hadir secara nyata, mendengar suara petani, dan memastikan setiap bantuan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di lapangan.*** (Basaruddin/BSG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

ADEXCO Dorong Industrialisasi Kebencanaan dari Hulu ke Hilir, Dukung Penanganan Kahutla

25 Agustus 2026 - 08:42 WIB

Garuda Indonesia dan Citilink  Sabet Rating Keselamatan Tertinggi

25 Agustus 2026 - 07:51 WIB

Citilink Raih Sertifikasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan

24 Agustus 2026 - 11:09 WIB

Cilegon Jadi Klaster Industri Baru, Proyeksi Pabrik Kendaraan Listrik Rp10 Triliun

24 Agustus 2026 - 05:51 WIB

Kapasitas Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta Ditarget Naik 75% usai Revitalisasi

24 Agustus 2026 - 05:43 WIB

Tol HBR II Setinggi 38 Meter, Ditargetkan Rampung Awal 2028

23 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Angkut Bantuan dengan Kapal PELNI, Kemenhub Beri Potongan Harga 100 Persen

21 Agustus 2026 - 19:07 WIB

Ciputra Life Catat Kinerja Positif 2025 dan Berlanjut di Semester I-2026

21 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Rumput Laut dan Agar-agar Indonesia Bebas Tarif Tambahan AS, Peluang Pasar Ekspor Makin Terbuka

21 Agustus 2026 - 14:17 WIB

Kemenhub Perkuat Pengelolaan Keuangan 2026

21 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Trending di EKOBIS