Wartatrans.com, SEMARANG — Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), kembali bermasalah. Baru beberapa hari berjalan setelah libur semester, puluhan siswa SMK Negeri 11 Semarang mengalami dugaan keracunan makanan.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 8 Januari 2026. Sedikitnya 75 siswa melaporkan keluhan kesehatan berupa mual, muntah, pusing, hingga sakit perut. Gejala mulai dirasakan sekitar pukul 16.00 WIB, beberapa jam setelah para siswa menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Jawa Tengah, Haris Wahyudi, membenarkan kejadian tersebut. Seluruh siswa yang terdampak berasal dari SMK Negeri 11 Semarang.
“Sekitar pukul 16.00 WIB ada beberapa siswa yang mengeluh mual dan pusing. Dari pendataan sementara, tercatat 75 siswa melaporkan keluhan,” kata Haris saat ditemui di Semarang, Jumat, 9 Januari 2026.
Dari jumlah tersebut, empat siswa sempat dirawat di Rumah Sakit Hermina Banyumanik. Dua siswa telah diperbolehkan pulang pada Jumat, sementara sisanya menjalani perawatan mandiri di rumah masing-masing.
Haris menjelaskan, total siswa SMK Negeri 11 Semarang mencapai sekitar 1.400 orang dan seluruhnya mengonsumsi menu MBG pada hari kejadian. Namun, hanya sebagian kecil yang mengalami gangguan kesehatan.
Beberapa siswa, kata Haris, mengaku mencium bau tidak sedap dari makanan yang dibagikan—berbeda dari menu MBG pada hari-hari sebelumnya. Dugaan awal mengarah pada lauk ayam suwir yang kemungkinan tidak dalam kondisi layak konsumsi.
Adapun menu MBG yang disajikan saat itu terdiri atas nasi, oseng labu, perkedel tahu, ayam suwir, dan buah semangka. Hingga berita ini diturunkan, hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti keracunan masih belum keluar.
Program Makan Bergizi Gratis di SMK Negeri 11 Semarang sendiri telah berjalan sejak Agustus 2025. Insiden ini menjadi kasus keracunan pertama sejak program tersebut diterapkan di sekolah tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pendidikan Jawa Tengah memutuskan menghentikan sementara penyaluran MBG di sekolah tersebut. Evaluasi akan dilakukan bersama pihak terkait, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.
“Sementara kita hentikan dulu sambil dilakukan evaluasi dan pencarian penyebabnya. Ini masih dugaan awal,” ujar Haris.
Ia memastikan pihak sekolah dan dinas terkait telah bergerak cepat membawa siswa yang mengalami gejala keracunan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.***
(Slamet Widodo)
























