Wartatrans.com, JAKARTA — Pemerintah mulai merealisasikan transformasi Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati menjadi pusat industri dirgantara nasional melalui relokasi bertahap empat portofolio bisnis PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PTDI dan PT BIJB Kertajati di Jakarta, pada Rabu (15/7/2026).
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pengembangan Kertajati merupakan strategi pemerintah membangun ekosistem aviasi nasional yang terintegrasi. Kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai pusat manufaktur pesawat, fasilitas maintenance, repair, and overhaul (MRO), aerostructure, serta engineering services. Sementara itu, fasilitas PTDI di Bandung tetap difungsikan sebagai pusat riset, desain, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

PTDI akan memindahkan empat portofolio bisnis secara bertahap ke lahan seluas 150 hingga 200 hektare di kawasan Kertajati. Relokasi itu diawali dengan pemindahan seluruh aktivitas uji terbang (flight test) mulai Agustus 2026 karena landasan pacu Bandara Husein Sastranegara dinilai tidak lagi mampu mengakomodasi kebutuhan pengujian sejumlah pesawat yang diproduksi perusahaan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan mengatakan perusahaan juga akan membangun puluhan hanggar MRO di Kertajati. Menurut dia, fasilitas tersebut diperlukan untuk meningkatkan kapasitas perawatan pesawat nasional sekaligus menjaga tingkat kesiapan armada (fleet readiness) yang saat ini berada di kisaran 80 persen.
Relokasi PTDI menjadi bagian dari pengembangan Kertajati Aerospace Park, kawasan industri yang mengintegrasikan manufaktur, MRO, logistik, pendidikan, dan rantai pasok industri kedirgantaraan di wilayah Rebana Metropolitan. Tahap awal proyek mencakup pembangunan fasilitas MRO seluas 84,2 hektare dengan target transaksi komersial pertama pada Oktober 2026. Pemerintah juga menyiapkan restrukturisasi pendanaan melalui konversi utang menjadi penyertaan modal serta membuka peluang masuknya investor strategis dengan proyeksi modal dasar mencapai Rp10 triliun.
Prospek pasar menjadi dasar pemerintah mempercepat pengembangan kawasan tersebut. Industri penerbangan Asia Pasifik diproyeksikan membutuhkan lebih dari 19 ribu pesawat baru hingga 2044 dengan nilai pasar sekitar 138 miliar dolar Amerika Serikat, atau setara sekitar Rp2.200 triliun. Di saat yang sama, sekitar 46 persen kebutuhan perawatan pesawat Indonesia masih dikerjakan di luar negeri sehingga potensi nilai tambah industri dan devisa belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri. Kehadiran pusat MRO di Kertajati diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap layanan luar negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri dirgantara regional.
Transformasi tersebut juga didorong oleh kebutuhan memperbaiki kinerja BIJB. Hingga akhir 2025, pendapatan operasional bandara belum mampu menutup biaya operasional. BIJB masih menanggung liabilitas jangka pendek sekitar Rp474 miliar dan liabilitas jangka panjang sekitar Rp1,5 triliun. Diversifikasi usaha melalui industri dirgantara dipandang menjadi langkah strategis untuk menciptakan sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan pemanfaatan aset bandara.
Secara terpisah, Pengamat kebijakan publik Alvin Lie mengatakan saat dihubungi Rabu malam bahwa relokasi PTDI merupakan keputusan yang logis karena Kertajati memiliki ruang pengembangan yang jauh lebih luas dibandingkan fasilitas di Bandung. Namun, menurut dia, keberhasilan proyek sangat bergantung pada kesiapan konektivitas kawasan Rebana dengan Pelabuhan Patimban, Jalan Tol Cisumdawu, serta kawasan industri di sekitarnya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 14 persen terhadap produk domestik bruto, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara di Asia Tenggara. Kondisi tersebut menjadi tantangan agar relokasi PTDI tidak sekadar memindahkan fasilitas produksi, tetapi benar-benar melahirkan ekosistem dirgantara yang efisien, mampu menarik investasi, menciptakan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, serta menjadikan Kertajati sebagai pusat industri aviasi nasional yang berdaya saing di tingkat regional.***
(Artha Tidar)
































