Menu ✖

Mode Gelap
Catatan M. Mujiburrohman: Prabowo Akrobat Politik –  Ketika Oligarki Mulai Kehilangan Kendali KKP Gelar Puncak Bulan Bakti Kelautan dan Perikanan di 27 Titik Indonesia Dua Pencuri Kabel Rel di Tanah Abang Divonis 2 Tahun Penjara, KAI Soroti Ancaman Keselamatan Borong Empat Penghargaan, Terminal Teluk Lamong Perkuat Komitmen terhadap Tanggung Jawab Sosial Kenduri Maulid Berubah Jadi Tragedi di Pidie: Satu Warga Tewas, Transparansi Penanganan Insiden Dipertanyakan IPCC Tegaskan Komitmen Jaga Kinerja dan Perkuat Kepercayaan Investor Menuju 2027

RAGAM

Puisi-Puisi Bencana LK Ara

badge-check


 Puisi-Puisi Bencana LK Ara Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Selama terjadi banjir bandang di Aceh November 2025, penyair ternama asal Gayo – Aceh, LK Ara mencoba mendokumentasikan peristiwa tersebut melalui karya puisi. Berikut di antaranya:

SAWAH KAMI TENGGELAM

Sawah kami tenggelam

di kaki gunung.

Kami diam.

Tak ada yang perlu dikejar

selain menerima.

 

Beberapa hari lalu

kami menanam padi.

Kami tidak menanam banyak mimpi,

hanya cukup

untuk hidup beberapa bulan.

Kami percaya tanah

masih mengenal kami.

 

Malam tadi hujan turun.

Lama.

Tanpa suara keras.

Pagi datang

dan air sudah ada

di mana-mana.

 

Benih padi

tidak terlihat lagi.

Barangkali ia hanyut.

Barangkali ia tinggal

di dalam lumpur.

Kami tidak tahu.

Dan tidak semua

harus diketahui.

 

Gunung tetap di sana.

Sungai tetap mengalir.

Hanya arah air

yang berubah.

Kami belajar:

bukan alam yang keliru,

melainkan manusia

yang sering lupa batas.

 

Kami petani.

Kami menanam,

lalu menyerahkan.

Jika hilang,

kami belajar melepaskan.

Jika tersisa,

kami belajar bersyukur.

 

Sawah kami tenggelam.

Tapi doa

masih ada.

Ia tidak butuh sawah kering

untuk tumbuh.

Ia hanya perlu

hati

yang mau tunduk.

⸻

(Catatan pinggir:

Kehilangan mengajarkan

apa yang tidak bisa diajarkan

oleh panen.) ‎

 

TANAH YANG MENANGIS DALAM ZIKIR

Puisi Esai tentang Aceh, Amanah, dan Perlawanan Sunyi

 

Kabar itu datang

bukan seperti petir,

melainkan seperti palu

yang dipukulkan perlahan

ke kepala rakyat

agar terasa wajar.

 

Aceh akan dijadikan—

kata itu jatuh

tanpa salam,

tanpa musyawarah,

tanpa izin kepada tanah

yang telah lebih dulu mengubur

ribuan nama.

 

Dijadikan apa?

Zona.

Cadangan.

Percobaan.

 

Seolah gunung

hanya angka di peta.

Seolah hutan

bukan tempat zikir air.

Seolah banjir kemarin

sekadar cuaca,

bukan akibat

rakus yang dilegalkan.

 

Kami membaca kalimat itu

seperti membaca

surat kematian

yang ditandatangani

tanpa kehadiran keluarga.

 

Lalu kalian berkata:

ini demi negara.

 

Negara yang mana?

Yang berbicara di ruang pendingin,

atau yang menangis

di tenda darurat?

 

Wahai penguasa,

jangan ajari kami

arti cinta tanah air

jika caramu mencintai negeri

adalah menjual ibu kandungnya

atas nama pembangunan.

 

Dari layar kecil

seorang perempuan bersuara.

Tidak membawa senjata,

hanya kalimat

yang jujur dan telanjang:

 

“Wahai rakyat Aceh,

pertahankan tanahmu

bagaimanapun caranya.”

 

Kalian gelisah

mendengar kalimat itu,

karena rakyat yang sadar

lebih berbahaya

daripada rakyat yang marah.

 

Kami tidak mengangkat senjata.

Kami mengangkat ingatan.

Kami mengangkat data korban.

Kami mengangkat nama kampung

yang dihapus dari peta

agar izin tampak bersih.

 

Jika mempertahankan

disebut radikal,

maka radikalisme

lahir pertama kali

di meja-meja

yang menggadaikan tanah

tanpa menatap mata rakyat.

 

Jika mempertahankan

disebut makar,

maka makar sesungguhnya

adalah mengubah amanah

menjadi aset

yang bisa dilelang

kepada siapa saja

asal bernama investasi.

 

Kami mempertahankan

dengan zikir yang panjang,

agar sabar

tidak berubah menjadi amarah,

dan keberanian

tidak diseret

menjadi fitnah.

 

Kami mempertahankan

dengan berkata tidak

saat semua disuruh patuh.

 

Karena tanah ini

bukan milik kami saja,

melainkan titipan

untuk anak-anak

yang belum lahir,

agar mereka tidak tumbuh

di atas puing

dan kebohongan.

 

Di negeri ini,

doa lebih tua

dari undang-undang.

Zikir lebih lama hidup

daripada izin.

 

Dan tanah ini—

sedang menangis

dalam zikir yang panjang,

menunggu

siapa yang masih setia

menjadi penjaga amanah.

⸻

Catatan Pinggir (Untuk Siaran)

• Puisi ini adalah perlawanan non-kekerasan.

• Kritik diarahkan pada narasi kebijakan, bukan individu.

• “Pertahankan” dimaknai sebagai menjaga akal, ingatan, dan amanah ekologis.

• Aceh diposisikan sebagai subjek sejarah, bukan objek proyek.

 

PEREMPUAN, LUMPUR, DAN NEGARA YANG DIAM

Puisi Esai

 

Perempuan ini berdiri

di hadapan lumpur

dan di hadapan negara

yang memilih diam.

 

Ia tidak menangis.

Ia menuntut.

 

Lumpur di wajahnya

bukan sisa hujan,

melainkan bukti

bahwa negara gagal

melindungi tubuh paling dasar:

rakyatnya sendiri.¹

 

“Di mana pemerintah itu?”

bukan ratapan emosional,

melainkan pertanyaan hukum

yang menunggu jawaban.

 

Karena sebelum lumpur datang,

izin telah turun.

Sebelum rumah hanyut,

tanda tangan telah kering.

Sebelum rakyat berteriak,

negara sudah tahu

lalu memilih diam.²

 

Ini bukan bencana alam.

Ini kejahatan kebijakan

yang menyamar sebagai musibah.

 

Hujan hanya pemicu.

Perusakan adalah sebab.

Pembiaran adalah pelaku.

 

Ketika rumah runtuh,

pemerintah hadir

sebagai penonton.

Ketika rakyat menjerit,

pemerintah menjawab

dengan rapat,

dengan foto,

dengan kata: sepele.

 

Sepele—

kata yang hanya bisa lahir

dari kekuasaan

yang tidak hidup

di wilayah yang ia rusak.³

 

Perempuan ini

tidak butuh simpati.

Ia butuh keadilan.

 

Ia tidak meminta bantuan;

ia menagih tanggung jawab.

 

Jika negara tak datang

saat bencana,

maka negara sedang

menarik diri

dari kontrak moral

dengan rakyatnya.

 

Dan bila jeritan ini

tetap diabaikan,

jangan kaget

jika suatu hari

yang runtuh

bukan hanya kampung,

melainkan legitimasi kekuasaan.⁴

 

Karena sejarah selalu mencatat:

negara yang meremehkan penderitaan

akan dihukum

oleh ingatan rakyat.

⸻

Catatan Kaki

¹ Tubuh korban adalah dokumen primer kegagalan negara, lebih sah daripada laporan resmi.

² Banyak tragedi ekologis terjadi bukan karena negara tidak tahu, melainkan karena negara memilih berpihak pada modal.

³ Kata sepele adalah bahasa kekuasaan yang kehilangan empati dan etika publik.

⁴ Dalam sejarah politik, pengabaian sistematis terhadap korban kerap berujung pada krisis kepercayaan dan perlawanan sosial.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Catatan M. Mujiburrohman: Prabowo Akrobat Politik –  Ketika Oligarki Mulai Kehilangan Kendali

4 November 2026 - 21:56 WIB

KKP Gelar Puncak Bulan Bakti Kelautan dan Perikanan di 27 Titik Indonesia

4 November 2026 - 21:19 WIB

Borong Empat Penghargaan, Terminal Teluk Lamong Perkuat Komitmen terhadap Tanggung Jawab Sosial

4 November 2026 - 20:23 WIB

IPCC Tegaskan Komitmen Jaga Kinerja dan Perkuat Kepercayaan Investor Menuju 2027

4 November 2026 - 19:13 WIB

Catatan Iwan Piliang: SIGITGATE – Ketika Penyadapan Diduga Menyeret Kekuasaan ke Jurang Skandal

4 November 2026 - 18:10 WIB

Siapa Tuannya Listyo Sigit yang Sebenarnya?

4 November 2026 - 15:47 WIB

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Takengon Pelajari Sejarah dan Kebudayaan Gayo Langsung di Situs Loyang Ceruk Mendale

4 November 2026 - 12:24 WIB

KAI Services Hadirkan Milo, Mesin Pembersih Lantai Modern untuk Tingkatkan Kebersihan Stasiun

4 November 2026 - 12:24 WIB

Berkas Perkara Eks Dosen Polinef Dilimpahkan ke Kejaksaan, Tersangka DB Masih Ditahan di Polres Fakfak

4 November 2026 - 10:07 WIB

Catatan Iwan Piliang: Ketika Sistem Tak Mampu Bekerja, Tangan Tuhan yang Akan Mengerjakan

4 November 2026 - 07:44 WIB

Trending di RAGAM