Wartatrans.com, TAKENGON – Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana IAIN Takengon melaksanakan perkuliahan mata kuliah Studi Literatur Budaya Gayo dengan mengunjungi langsung situs sejarah dan budaya Loyang Ceruk Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Selasa (3/11/2026).
Perkuliahan yang diampu oleh Dr. Evanirosa, MA. tersebut berlangsung mulai pukul 14.30 hingga 16.30 WIB. Kegiatan ini mengangkat materi tentang sejarah etnis Gayo dan perkembangan kebudayaannya dengan menjadikan situs Loyang Ceruk Mendale sebagai ruang belajar langsung bagi mahasiswa.
Melalui kunjungan lapangan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh materi perkuliahan secara teoritis, tetapi juga berkesempatan mengenal lebih dekat jejak sejarah nenek moyang masyarakat Gayo melalui situs budaya yang memiliki nilai penting bagi kajian sejarah dan peradaban di Tanah Gayo.
Ketua Komisaris Letting 2026 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Unit A, Sahidinur, yang mewakili seluruh mahasiswa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada dosen pengampu, Dr. Evanirosa, MA., atas inisiatif melaksanakan perkuliahan langsung di lokasi situs sejarah tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi 26 mahasiswa MPI Unit A. Terlebih, sebagian besar mahasiswa memiliki latar belakang sebagai tenaga pendidik atau guru yang bertugas di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Ia menilai, pengalaman belajar secara langsung di situs budaya seperti Loyang Ceruk Mendale dapat menjadi sumber literasi yang nantinya dibagikan kepada para peserta didik di sekolah masing-masing.
“Literasi tidak hanya diperoleh melalui buku dan perpustakaan sekolah, tetapi juga dapat dibangun melalui pengalaman, pengamatan, serta kunjungan langsung ke tempat-tempat bersejarah dan budaya,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang mahasiswi MPI Unit A, Sabariah Musnaini, menyampaikan bahwa perkuliahan Studi Literatur Budaya Gayo memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan baru mengenai sejarah asal-usul etnis Gayo serta perkembangan kebudayaannya.
Menurutnya, pembelajaran langsung di situs Loyang Ceruk Mendale memberikan pemahaman yang lebih nyata tentang bagaimana sejarah kehidupan masyarakat masa lampau dapat ditelusuri melalui peninggalan arkeologis dan warisan budaya yang terdapat di Tanah Gayo.
Kegiatan perkuliahan lapangan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa, khususnya para calon dan praktisi pendidik, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sejarah, identitas, dan pelestarian kebudayaan Gayo.
Selain menjadi bagian dari proses akademik, kegiatan tersebut juga mempertegas bahwa lingkungan, situs sejarah, dan warisan budaya merupakan sumber pembelajaran yang penting dalam membangun budaya literasi di tengah masyarakat.*** (Jasa)






















