Menu ✖

Mode Gelap
Road to IMOS 2026, FIFGROUP Berikan Pengalaman Wisata Edukatif bagi 34 Anak Panti Asuhan Jalin Kerja Sama dengan RS Pusat Pertamina, DAMRI Perkuat Layanan Kesehatan Bagi Karyawan Pelindo Regional 4 Peduli, Salurkan Air Bersih untuk Warga Pesisir Makassar Hadapi Libur Nataru, Menhub Dudy Ingatkan 6 Faktor Utama Ini Kemenhub Pastikan Fuel Surcharge Penerbangan Domestik November 2026 Tetap 40% Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media

JALUR

Rel Layang Solusi Permanen Atasi Banjir di Semarang dan Pekalongan

Avatar photobadge-check


 Rel terdampak banjir di Pekalongan (BKIP Kemenhub) Perbesar

Rel terdampak banjir di Pekalongan (BKIP Kemenhub)

Penulis: Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Wartatrans.com, SEMARANG – Pembangunan rel layang (elevated railway) di Kota Semarang dan Pekalongan bukanlah sekadar proyek estetika, melainkan kebutuhan mendesak.

Keberadaannya untuk mengatasi dua masalah utama yang melumpuhkan kawasan jalur pantura Jawa, yaitu banjir dan kemacetan kronis di perlintasan sebidang.

Kota Semarang

Pembangunan rel layang (elevated railway) ini membentang sepanjang 7,4 km dan dilengkapi dengan dua stasiun layang utama, yaitu Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol.

Sementara itu, jalur rel di bawahnya (at grade) tetap dipertahankan untuk mendukung operasional kereta barang menuju Pelabuhan Tanjung Emas, konektivitas ke Container Yard Ronggowarsito, serta jalur utama logistik lintas Jakarta–Surabaya.

Pembangunan rel layang di Semarang kini menjadi kebutuhan mendesak akibat penurunan muka tanah (land subsidence) di wilayah pesisir yang terus terjadi.

Sebagai langkah mitigasi banjir rob, infrastruktur ini menjadi solusi atas lumpuhnya jalur kereta nasional lintas Jakarta–Surabaya yang kerap terendam di kawasan Kaligawe.

Dengan mengangkat rel jauh di atas permukaan air, perjalanan kereta api kini dapat dipastikan tetap aman dan lancar tanpa harus memutar ke jalur selatan.

Sebagai urat nadi logistik di Pulau Jawa, gangguan pada jalur kereta api di Semarang berdampak langsung pada stabilitas rantai pasok nasional.

Selama ini, upaya peninggian rel secara berkala oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (rata-rata 30 cm) terbukti hanya menjadi solusi jangka pendek.

Rel layang hadir sebagai solusi permanen yang memisahkan infrastruktur kereta api sepenuhnya dari ancaman genangan air laut dan penurunan tanah di masa depan.

Berdasarkan data dari Daop 4 Semarang PT KAI (2025), saat ini terdapat 13 titik perlintasan sebidang di Kota Semarang yang menjadi fokus perhatian.

Sebanyak tujuh titik di antaranya dikelola langsung oleh PT KAI, meliputi Jalan Bandara Jend. A. Yani, Empu Tantular, Kampung Sleko, Layur, Petek, Ronggowarsito, hingga Kaligawe Raya.

Selain itu, terdapat lima titik yang tidak terjaga, yaitu di Jalan Jembawan Raya, Stasiun Jrakah, Tegalrejo, Tanggungrejo Raya, dan Tenggang Raya, serta satu perlintasan tidak resmi atau swadaya masyarakat yang berada di kawasan Tlogosari.

Kota Pekalongan

Sedangkan untuk Kota Pekalongan, kondisi perlintasan sebidangnya memang lebih sedikit secara jumlah dibandingkan Semarang, namun dampaknya terhadap urat nadi kota sangat fatal karena jalur kereta api membelah tepat di tengah pusat aktivitas masyarakat.

Selain sebagai langkah mitigasi banjir yang kerap melanda, pembangunan rel layang di Kota Pekalongan memiliki urgensi besar untuk mengurai simpul kemacetan di pusat kota.

Infrastruktur ini menjadi solusi mutlak dalam membebaskan mobilitas warga dari hambatan perlintasan sebidang.

Bila di Semarang fokus utamanya adalah penanganan banjir rob, maka tantangan di Pekalongan lebih ditekankan pada tingginya frekuensi perjalanan kereta api pada jalur ganda (double track) yang memotong jalan-jalan protokol kota secara langsung.

Titik paling krusial terletak pada JPL 112 di Jalan KH Mas Mansyur. Sebagai urat nadi bagi kendaraan besar dan arus utama lalu lintas kota, pintu perlintasan ini bisa tertutup hingga puluhan kali dalam sehari.

Dampaknya, antrean kendaraan sering kali mengular panjang dan tidak hanya melumpuhkan aktivitas ekonomi, tetapi juga menghambat akses krusial layanan darurat, seperti ambulans dan pemadam kebakaran yang tengah berpacu dengan waktu.

Selain Jalan KH Mas Mansyur, simpul kepadatan juga kerap terjadi di Jalan Bendan dan kawasan Tirto.

Kehadiran rel layang akan menghapus hambatan di titik-titik kritis ini sepenuhnya. Dengan begitu, arus lalu lintas dari sisi utara ke selatan kota, maupun sebaliknya, dapat mengalir lancar tanpa lagi terinterupsi oleh jadwal perjalanan kereta api yang padat.

Tak hanya di Jalan KH Mas Mansyur, titik kepadatan juga sering terjadi di Jalan Bendan dan kawasan Tirto. Kehadiran rel layang nantinya akan menghapus hambatan di titik-titik kritis tersebut secara permanen.

Dengan demikian, arus lalu lintas dari sisi utara menuju selatan kota, maupun sebaliknya, dapat mengalir lancar tanpa lagi terinterupsi oleh padatnya jadwal perjalanan kereta api. (omy)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Hadapi Libur Nataru, Menhub Dudy Ingatkan 6 Faktor Utama Ini

2 November 2026 - 19:28 WIB

Ditjen Hubdat Temukan Pelanggaran Bus AntarKota Didominasi Penyimpangan Trayek

2 November 2026 - 14:00 WIB

Naik Kereta Saat Hamil Ada Aturannya, KAI Wajibkan Surat Kesehatan dan Pendamping

2 November 2026 - 10:46 WIB

Ananda Omesh Punya Banyak Cerita dengan Kereta, Jadi Brand Ambassador Kampanye Ayo Naik Kereta

2 November 2026 - 10:29 WIB

Truk Molen Diduga Rem Blong Tabrak Kerumunan di Bekasi, 6 Orang Tewas

1 November 2026 - 21:42 WIB

KAI Buka Pemesanan Tiket Kereta untuk Keberangkatan 1 Desember 2026, Cek Jadwal Baru GAPEKA

1 November 2026 - 17:22 WIB

Percaya Diri dan Disiplin Antar Andika Ageng Pamungkas Terpilih Jadi Spark KAI Services Oktober 2026

1 November 2026 - 06:55 WIB

Tiket KA Keberangkatan 1 Desember 2026 Mulai Dijual 1 November, KAI Terapkan GAPEKA Baru

31 Oktober 2026 - 23:21 WIB

Bukan Sekadar Transportasi Murah, Ini Alasan Commuter Line Jadi Pilihan Warga

31 Oktober 2026 - 13:01 WIB

KAI Commuter Luncurkan KMT Edisi Khusus Comifuro 23, Dibanderol Rp60 Ribu

31 Oktober 2026 - 12:02 WIB

Trending di PERON