Wartatrans, ACEH TENGAH — Banjir bandang akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, menyisakan luka sekaligus harapan. Di Desa Nosar—yang mencakup Kampung Bamil Nosar, Bale Nosar, dan Mude Nosar—sebanyak 123 kepala keluarga atau sekitar 400 jiwa terdampak langsung. Kebun dan tanaman hortikultura rusak parah. Namun, sebagian area persawahan masih menyisakan peluang untuk ditanami padi.
Di tengah kondisi pascabencana itu, Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Aceh Tengah bersama PT Bio Energi Rimba menginisiasi demplot optimalisasi lahan persawahan seluas 60 hektare di Kampung Mude Nosar. Program ini diharapkan menjadi tumpuan ketahanan pangan warga yang kehilangan sumber penghidupan lain.


Penasehat Tani Merdeka Kabupaten Aceh Tengah Pengecekan Irigasi yang di sapu Banjir Bandang
Ketua Dewan Pengurus Daerah Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Tengah, Eka Saputra, ST, bersama jajaran pengurus, penasihat, dan anggota TMI, melakukan monitoring lahan pada pertengahan Januari 2026. Kegiatan tersebut turut didampingi Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Iwan Sejahtera, S.IP., M.Si, yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina TMI Aceh Tengah.
Menurut Eka Saputra, dukungan pascabencana sangat menentukan keberhasilan pengolahan sawah. “Optimalisasi lahan persawahan harus menjadi perhatian khusus untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat, terutama di Kampung Nosar,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Dewan Pengurus Wilayah Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh. Ketua DPW Aceh, Cut Muhammad, menyampaikan bahwa PT Bio Energi Rimba telah menyalurkan bantuan berupa pupuk cair organik guna menunjang pengolahan lahan sawah yang terdampak banjir.
Sementara itu, Reje Kampung Mude Nosar, Sirwan Yoga, mengatakan masyarakat bergerak secara swadaya untuk memulihkan saluran air persawahan yang rusak akibat banjir. Penanaman padi yang semula direncanakan pada awal Desember 2025 terpaksa gagal akibat bencana.
“Yang sangat dibutuhkan petani saat ini adalah perbaikan irigasi, bantuan bibit, pupuk, serta alat dan mesin pertanian seperti traktor agar pengolahan sawah bisa segera dilakukan,” kata Sirwan.

Ketua Kelompok bersama Ketua Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah
Melalui Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Tengah, para petani menitipkan harapan agar pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian segera turun tangan. Mereka berharap bantuan dapat direalisasikan secepatnya.
Bagi warga Kampung Nosar, sawah kini menjadi satu-satunya tumpuan hidup. Setelah masa tanggap darurat berakhir, hasil persawahan diharapkan mampu menopang ketahanan pangan keluarga, di tengah kebun dan tanaman hortikultura yang telah hancur diterpa bencana hidrometeorologi.*** (Jasa)
























