Wartatrans.com, JAKARTA – Tak hanya menjadi salah satu ikon transportasi di ibu kota, Stasiun Gambir juga terus menunjukkan perannya sebagai gerbang utama perjalanan kereta api jarak jauh.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, stasiun yang berada di kawasan Monumen Nasional (Monas) ini melayani 2.603.087 pelanggan, atau meningkat 11,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (Persero), jumlah pelanggan yang berangkat dari Stasiun Gambir pada Januari–Mei 2026 mencapai 1.342.160 orang, naik 11,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 1.199.828 pelanggan. Sementara itu, pelanggan yang tiba di Gambir mencapai 1.260.927 orang, meningkat 12,04 persen dari sebelumnya 1.125.443 pelanggan.
Sepanjang 2025, total pelanggan yang naik dan turun di Stasiun Gambir mencapai 5.990.911 orang, menegaskan perannya sebagai salah satu simpul transportasi tersibuk di Jakarta untuk perjalanan bisnis, pemerintahan, pendidikan, wisata, hingga mudik keluarga.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan Stasiun Gambir bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga bagian penting dari sejarah perkembangan Jakarta dan perkeretaapian Indonesia.
“Stasiun Gambir adalah ruang perjalanan yang menyimpan banyak lapisan sejarah. Dari halte kecil di kawasan Koningsplein, berkembang menjadi stasiun besar, lalu bertransformasi menjadi stasiun layang modern yang sampai hari ini menjadi salah satu gerbang utama perjalanan kereta api jarak jauh,” ujar Anne.
Sejarah Stasiun Gambir bermula pada 1871 saat masih bernama Halte Koningsplein, sebuah pemberhentian sederhana di kawasan Weltevreden, Batavia. Seiring berkembangnya kota, halte tersebut berubah menjadi Stasiun Weltevreden pada 1884.
Memasuki era 1930-an, bangunan stasiun diperbarui dengan arsitektur Art Deco dan dikenal sebagai Batavia Koningsplein. Kawasan sekitarnya menjadi pusat aktivitas masyarakat dan pemerintahan yang membentuk wajah Jakarta pada masa itu.
Setelah Indonesia merdeka, nama Gambir resmi menjadi identitas stasiun yang terus melayani mobilitas masyarakat. Transformasi besar kembali terjadi pada 5 Juni 1992, ketika Stasiun Gambir diresmikan sebagai stasiun layang seiring pembangunan jalur layang Manggarai–Jakarta Kota. Bangunan baru dengan atap bergaya joglo itu menjadi simbol modernisasi layanan kereta api di pusat ibu kota.
Menurut Anne, perubahan tersebut menunjukkan bahwa stasiun memiliki peran penting dalam mendukung penataan transportasi perkotaan.
“Transformasi Gambir menunjukkan bahwa stasiun bukan hanya tempat naik dan turun pelanggan, tetapi juga menjadi bagian dari cara kota menata mobilitas. Ketika layanan semakin mudah, perjalanan masyarakat menjadi lebih efisien, aktivitas ekonomi ikut terdorong, dan pusat kota semakin terhubung dengan berbagai daerah,” katanya.
Kini, Stasiun Gambir difokuskan sebagai stasiun keberangkatan dan kedatangan kereta api jarak jauh yang melayani berbagai tujuan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.
KAI juga terus meningkatkan kualitas layanan melalui berbagai fasilitas modern, seperti Shower & Locker, Rail Transit Suite, ruang tunggu premium, area komersial, tenant makanan dan minuman, serta layanan digital melalui aplikasi Access by KAI. Pelanggan dapat memesan tiket, melakukan check-in mandiri, hingga memperoleh informasi perjalanan secara praktis.
Anne menegaskan, peningkatan fasilitas merupakan bagian dari komitmen KAI untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin nyaman bagi pelanggan.
“Bagi sebagian orang, Gambir adalah awal perjalanan kerja. Bagi yang lain, Gambir adalah jalan pulang ke keluarga. Ada juga yang datang untuk berwisata, menghadiri agenda penting, atau menjemput orang terdekat. Karena itu, KAI terus menjaga agar pengalaman pelanggan di Stasiun Gambir terasa aman, tertib, bersih, mudah dipahami, dan nyaman,” jelasnya.
KAI mengimbau pelanggan agar merencanakan perjalanan dengan baik, memastikan data diri sesuai tiket, datang lebih awal ke stasiun, serta memanfaatkan aplikasi Access by KAI untuk mengelola seluruh kebutuhan perjalanan.
“Gambir telah melewati banyak zaman, tetapi perannya tetap sama yaitu menghubungkan pelanggan dengan tujuan, keluarga, pekerjaan, dan harapan. KAI akan terus merawat nilai sejarahnya, memperkuat layanannya, dan menjaga Gambir sebagai gerbang perjalanan yang membanggakan bagi Indonesia,” tutup Anne.(fahmi)































