Menu ✖

Mode Gelap
Tanzil Murda Hadirkan Ingatan Budaya Aceh Lewat Rampagoe: Peeling Time Terminal Kijing Perkuat Peran sebagai Simpul Logistik dan Perdagangan Strategis di Kalbar H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026 Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan

RAGAM

Teror Dosa dan Pencarian Pengampunan dalam Film Horor Terbaru Karya Sondang Pratama

badge-check


 Teror Dosa dan Pencarian Pengampunan dalam Film Horor Terbaru Karya Sondang Pratama Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Film horor Indonesia kembali menghadirkan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun kali ini, teror tidak semata datang dari makhluk gaib, melainkan dari dosa yang menuntut pertanggungjawaban.

Film Dosa, Penebusan atau Pengampunan karya sutradara Sondang Pratama akan mulai tayang di bioskop pada 11 Juni 2026. Diproduksi oleh HAS Pictures, film ini memadukan horor supranatural dengan drama psikologis dan refleksi spiritual tentang konsekuensi dari setiap tindakan manusia.

Di balik balutan adegan mencekam, film ini membawa pesan moral yang kuat. Kisahnya mengingatkan bahwa setiap pelanggaran, sekecil apa pun, menyisakan jejak yang suatu saat harus dipertanggungjawabkan. Larangan orang tua yang diabaikan, keputusan yang diambil dengan gegabah, hingga dosa yang disembunyikan rapat-rapat menjadi benang merah cerita.

“Film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga mengajak penonton merenungkan nilai-nilai kehidupan,” kata pengamat film dan wartawan senior Tebe saat dimintai tanggapan mengenai film tersebut.

Menjelang penayangan perdananya, para pemain dan kru menggelar gala premiere di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan. Film ini dibintangi Muhammad Riza Irsyadillah, Ratu Sofya, Revaldo, Dominique Sanda, Jennifer Eve, dan Dede.

Bagi Reza Aditya, film ini menjadi tonggak baru dalam perjalanan kariernya. Setelah dikenal sebagai aktor dan kreator konten, ia kini terlibat sebagai produser layar lebar.

“Ini bukan sekadar film horor. Kami ingin menghadirkan tontonan yang membuat penonton berpikir tentang pilihan hidup dan akibat dari setiap tindakan,” ujarnya.

Pengalaman baru juga dirasakan Irish Bella yang bertindak sebagai Executive Producer. Menurut dia, bekerja di balik layar memberinya perspektif berbeda mengenai proses kreatif dan teknis dalam produksi film.

Salah satu tantangan terbesar muncul saat pencarian lokasi syuting. Tim produksi sempat menemukan hotel yang dianggap ideal untuk kebutuhan cerita. Namun pemilik bangunan menolak karena khawatir tempat tersebut akan melekat dengan citra angker setelah film dirilis.

Alih-alih mengubah konsep, tim produksi memilih membangun replika hotel secara lengkap di dalam studio. Keputusan itu membuat proses produksi lebih rumit, tetapi memberi keleluasaan bagi sutradara dan tim artistik untuk membangun atmosfer yang sesuai dengan kebutuhan cerita.

Dalam film ini, tema dosa ditempatkan sebagai pusat konflik. Karakter-karakternya bukan hanya berhadapan dengan teror gaib, tetapi juga dengan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Menurut Revaldo, kekuatan utama film ini terletak pada pesan yang dibawanya. “Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Yang menarik adalah bagaimana seseorang menghadapi kesalahan itu dan apakah masih ada kesempatan untuk memperbaikinya,” katanya.

Cerita berpusat pada pasangan suami istri, Bima dan Ersya, yang memutuskan melakukan perjalanan ke luar kota meskipun mendapat larangan dari Nungki, ibu Bima, yang memiliki firasat buruk.

Perjalanan mereka berubah menjadi petaka setelah mengalami kecelakaan di kawasan perbukitan. Dalam kondisi terluka dan terjebak jauh dari permukiman, mereka menemukan sebuah hotel tua yang tampak menjadi satu-satunya tempat berlindung.

Namun hotel itu menyimpan misteri yang perlahan membuka rahasia masa lalu mereka. Kehadiran sosok-sosok ganjil, kemunculan kembali seorang sopir truk bernama Nanang, serta berbagai kejadian yang sulit dijelaskan membuat keduanya terperangkap dalam rangkaian teror yang semakin menyesakkan.

Semakin lama berada di tempat tersebut, Bima dan Ersya menyadari bahwa teror yang mereka hadapi bukan sekadar gangguan makhluk tak kasatmata. Semua itu berkaitan dengan dosa dan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan.

Melalui perpaduan horor, drama keluarga, dan refleksi spiritual, Dosa, Penebusan atau Pengampunan menawarkan sesuatu yang jarang hadir dalam film horor Indonesia: ketakutan yang lahir bukan hanya dari dunia gaib, tetapi juga dari nurani manusia sendiri.*** (Buyil)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir

8 Oktober 2026 - 10:59 WIB

WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026

8 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi

8 Oktober 2026 - 10:41 WIB

PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan

8 Oktober 2026 - 10:36 WIB

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Perempuan Aceh Bicara di Jakarta, Rumuskan Peta Jalan Kepemimpinan Perempuan Aceh 2045

7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Trending di RAGAM