Menu ✖

Mode Gelap
Kendaraan di Bali Tembus 5,2 Juta, Bagaimana dengan Jangkauan Angkutan Umum? Situ Gede Tasikmalaya Mengering, 230 Hektare Sawah Terdampak dan Hampir 100 Ribu Jiwa Dilanda Krisis Air Bupati Bogor Rudy Susmanto Disorot, Teken 9 Siteplan Summarecon di Atas Tanah Warisan yang Masih Bersengketa Waduk Jatiluhur Menyusut, Dasar Waduk Jadi Kebun Warga, Ancaman Krisis Air Mengintai Jakarta KAI Daop 4 Semarang Obral Tiket Kereta Api dengan Tarif Khusus INACA Dorong Percepatan Pembebasan Pajak Suku Cadang Pesawat

RAGAM

Waduk Jatiluhur Menyusut, Dasar Waduk Jadi Kebun Warga, Ancaman Krisis Air Mengintai Jakarta

badge-check


 Waduk Jatiluhur Menyusut, Dasar Waduk Jadi Kebun Warga, Ancaman Krisis Air Mengintai Jakarta Perbesar

Wartatrans.com, PURWAKARTA — Menyusutnya permukaan air Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi perhatian serius. Bendungan yang selama puluhan tahun menjadi salah satu penyangga utama kebutuhan air Jakarta dan Jawa Barat itu mengalami penurunan muka air hingga lebih dari dua meter dalam waktu kurang dari tiga pekan.

Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan musim kemarau. Penyusutan Waduk Jatiluhur juga mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan air nasional, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan air untuk masyarakat, pertanian, industri, dan pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan data Perum Jasa Tirta II (PJT II), tinggi muka air Waduk Jatiluhur pada 31 Agustus 2026 tercatat 96,34 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, pada 18 September 2026, angkanya turun menjadi 94,32 mdpl.

Artinya, dalam waktu sekitar 18 hari, permukaan air mengalami penurunan 2,02 meter.

Meski demikian, kondisi tersebut masih berada di atas batas bawah operasi waduk yang tercatat sekitar 87,50 mdpl. Dengan demikian, penyusutan air belum dapat diartikan sebagai kondisi darurat kekeringan.

Dasar Waduk Berubah Menjadi Kebun

Fenomena menarik terlihat di kawasan Tanggul Ubrug, Jatiluhur. Sebagian area yang sebelumnya terendam air kini berubah menjadi hamparan tanah terbuka.

Warga memanfaatkan lahan yang mengering tersebut untuk bercocok tanam. Singkong, jagung, ubi, dan kacang tanah mulai ditanam di sejumlah lokasi yang sebelumnya merupakan bagian dari genangan waduk.

Pemandangan ini memperlihatkan perubahan kondisi lingkungan akibat turunnya permukaan air.

Namun, pemanfaatan lahan tersebut juga memiliki risiko. Ketika musim hujan tiba dan permukaan waduk kembali meningkat, tanaman warga berpotensi terendam.

Jakarta Bergantung pada Jatiluhur

Waduk Jatiluhur bukan sekadar bendungan pembangkit listrik atau penyedia irigasi pertanian.

Bendungan yang dikenal dengan nama resmi Bendungan Ir. H. Djuanda tersebut merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air paling strategis di Indonesia.

Jatiluhur menjadi sumber utama pasokan air baku Jakarta, dengan kontribusi yang diperkirakan mencapai sekitar 80 persen.

Selain untuk kebutuhan air minum, waduk ini juga menopang irigasi pertanian di wilayah Jawa Barat, kebutuhan industri, serta pembangkitan listrik tenaga air.

Karena itu, penurunan permukaan air Jatiluhur perlu menjadi perhatian bersama.

Apabila penyusutan berlangsung berkepanjangan, dampaknya berpotensi meluas, mulai dari terganggunya distribusi air irigasi hingga meningkatnya tekanan terhadap ketersediaan air baku perkotaan.

Kendati demikian, PJT II sebelumnya menyampaikan bahwa ketersediaan air untuk berbagai kebutuhan masih diproyeksikan mencukupi hingga akhir 2026.

Berdasarkan perhitungan neraca air yang disampaikan pada akhir Agustus, pengelola memperkirakan surplus air sekitar 976 juta meter kubik hingga penghujung tahun.

Proyeksi tersebut tentu perlu terus dievaluasi mengikuti perkembangan curah hujan dan kondisi aktual waduk.

Pemerintah Lakukan Modifikasi Cuaca

Mengantisipasi berkurangnya cadangan air, PJT II melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tahap kedua pada 18–22 September 2026.

Operasi ini dilakukan untuk meningkatkan potensi hujan di kawasan daerah aliran Sungai Citarum, terutama wilayah tangkapan air Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur.

Pelaksanaannya melibatkan koordinasi dengan sejumlah lembaga, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan cadangan air di tengah kondisi kemarau.

Sebab, ketiga waduk yang berada dalam sistem Sungai Citarum itu memiliki keterkaitan dalam pengelolaan sumber daya air Jawa Barat.

Kebutuhan Industri Menambah Tantangan

Di tengah penyusutan permukaan air, kebutuhan air untuk pengembangan kawasan industri dan pusat data juga menjadi perhatian.

Rencana pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kawasan Jatiluhur, misalnya, memunculkan diskusi mengenai kebutuhan air dalam jumlah besar.

Dalam sejumlah pembahasan, potensi kebutuhan air fasilitas tersebut disebut dapat mencapai sekitar 33 juta liter per hari apabila beroperasi pada kapasitas tertentu.

Meski angka tersebut masih merupakan estimasi kebutuhan proyek, persoalan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air ke depan menghadapi tantangan semakin kompleks.

Pemerintah perlu memastikan pertumbuhan industri tidak mengurangi prioritas pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dan sektor pertanian.

Namun, belum terdapat bukti yang menunjukkan bahwa rencana pengembangan pusat data tersebut menjadi penyebab penurunan muka air Jatiluhur saat ini.

Ketahanan Air Harus Menjadi Prioritas

Penyusutan Waduk Jatiluhur memberikan pelajaran bahwa ketahanan air tidak dapat dipandang sebagai persoalan musiman semata.

Perubahan pola curah hujan, meningkatnya kebutuhan penduduk, ekspansi industri, serta kondisi daerah tangkapan air menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan waduk.

Pemerintah pusat dan daerah dituntut memperkuat konservasi daerah aliran sungai, menjaga kawasan resapan, serta meningkatkan efisiensi distribusi air.

Pengawasan terhadap pemanfaatan air oleh sektor industri juga penting agar tidak menimbulkan ketimpangan akses terhadap sumber daya yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

Jatiluhur adalah salah satu urat nadi kehidupan Jakarta dan Jawa Barat. Ketika airnya menyusut, persoalannya bukan hanya tentang berkurangnya genangan waduk, tetapi juga menyangkut masa depan ketahanan air jutaan penduduk.

Hingga 13 Oktober 2026, data tinggi muka air terbaru yang dapat dirujuk dalam laporan ini masih berasal dari pengukuran 18 September 2026, yakni 94,32 mdpl. Karena itu, perkembangan kondisi terkini memerlukan pembaruan data resmi dari pengelola waduk.

Penyusutan yang terjadi menjadi pengingat bahwa menjaga ketersediaan air jauh lebih penting daripada menunggu krisis datang.

Sebab, ketika sumber air mulai berkurang, yang dipertaruhkan bukan hanya kepentingan industri atau pertanian, melainkan juga keberlangsungan kehidupan masyarakat.*** (Asbuy)

Baca Lainnya

Situ Gede Tasikmalaya Mengering, 230 Hektare Sawah Terdampak dan Hampir 100 Ribu Jiwa Dilanda Krisis Air

13 Oktober 2026 - 18:53 WIB

Bupati Bogor Rudy Susmanto Disorot, Teken 9 Siteplan Summarecon di Atas Tanah Warisan yang Masih Bersengketa

13 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Ditjenpas Jabar Gandeng PWI untuk Perkuat Komunikasi Publik

13 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Alam Pedang Berkibar di Takengon, Zam Zam Mubarak: Momentum Kebangkitan Identitas Historis Gayo

13 Oktober 2026 - 15:21 WIB

H. Fikri Prihatin Kenakalan Remaja Kembali Marak di Kabupaten Bogor, Semua Pihak Diminta Turun Tangan

13 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Prabowo dan El-Sisi Sepakati Empat Kerja Sama Strategis, Indonesia–Mesir Perkuat Kemitraan Ekonomi hingga Pertahanan

13 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Kabut Asap Kepung Fakfak, Warga Bertahan di Rumah, Kualitas Udara Mengancam Kesehatan

13 Oktober 2026 - 12:30 WIB

Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan

12 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

12 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

12 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Trending di ANJUNGAN