Wartatrans.com, TASIKMALAYA – Kekeringan yang melanda Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, berdampak serius terhadap lingkungan, pertanian, dan kehidupan masyarakat. Situ Gede, salah satu ikon wisata sekaligus sumber pengairan pertanian, mengalami penyusutan debit air hingga sebagian kawasan danau berubah menjadi hamparan rumput dan tanah kering.
Kondisi ini tidak hanya memukul sektor pariwisata, tetapi juga mengancam produktivitas pertanian dan memperburuk persoalan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Situ Gede yang terletak di Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, memiliki luas sekitar 47 hektare. Kawasan ini selama ini menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kota Tasikmalaya sekaligus memiliki fungsi penting bagi pengairan lahan pertanian di sekitarnya.
Berdasarkan laporan yang dipublikasikan pada Juli 2026, luas permukaan danau yang masih tergenang air diperkirakan hanya sekitar 20 hektare. Penyusutan tersebut dikaitkan dengan kemarau berkepanjangan dan terhentinya pasokan air dari saluran irigasi Cibanjaran.
230 Hektare Sawah Terdampak
Dampak kekeringan juga dirasakan sektor pertanian. Laporan Media Indonesia pada 3 September 2026 menyebutkan sekitar 230 hektare lahan pertanian terdampak kekurangan air.
Sejumlah petani menghadapi risiko gagal panen, bahkan sebagian lahan dilaporkan mengalami puso. Kekurangan pasokan air membuat petani kesulitan mempertahankan tanaman dan mengolah lahan pertanian.
Situasi ini menunjukkan bahwa penyusutan air Situ Gede bukan sekadar persoalan pemandangan danau yang berubah, melainkan berkaitan langsung dengan keberlangsungan produksi pangan dan pendapatan masyarakat.
Jika kekeringan berlangsung lebih lama, tekanan terhadap petani berpotensi semakin besar, terutama bagi mereka yang sangat bergantung pada jaringan irigasi.
Wisata Perahu Terhenti, Pendapatan Warga Menurun
Sektor pariwisata turut merasakan dampaknya. Menyusutnya permukaan air menyebabkan aktivitas wisata perahu terganggu, bahkan terpaksa dihentikan ketika kedalaman air tidak lagi memadai.
Para pelaku usaha wisata yang selama ini mengandalkan kunjungan wisatawan menghadapi penurunan pendapatan. Situ Gede yang biasanya menjadi tempat rekreasi keluarga kini memperlihatkan kondisi berbeda dengan munculnya hamparan tanah dan rumput di bagian danau yang mengering.
Meski sebagian pengunjung masih datang untuk menikmati pemandangan dan berfoto, perubahan kondisi tersebut menjadi peringatan mengenai kerentanan kawasan wisata yang bergantung pada ketersediaan air.
Krisis Air Bersih Berdampak pada Hampir 100 Ribu Jiwa
Persoalan kekeringan di Tasikmalaya juga meluas ke permukiman warga.
Laporan Media Indonesia pada 8 Oktober 2026 menyebutkan krisis air bersih di Kota Tasikmalaya telah berdampak terhadap 97.683 jiwa atau 31.128 kepala keluarga.
Kekeringan dilaporkan melanda 49 kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan. Untuk membantu masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan distribusi air bersih melalui 452 rit pengiriman ke 224 titik.
Angka tersebut merupakan data dampak kekeringan di Kota Tasikmalaya secara keseluruhan, bukan jumlah warga yang secara khusus terdampak oleh mengeringnya Situ Gede.
Meski demikian, besarnya jumlah warga yang mengalami kesulitan air bersih memperlihatkan bahwa kekeringan telah berkembang menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan serius dan terkoordinasi.
Perlu Evaluasi Pengelolaan Sumber Daya Air
Selain kemarau panjang, kondisi Situ Gede memunculkan pertanyaan mengenai faktor lingkungan yang dapat memperparah penyusutan air, seperti sedimentasi, berkurangnya daerah resapan, dan perubahan kondisi daerah tangkapan air.
Namun, kontribusi masing-masing faktor tersebut masih memerlukan kajian teknis dari instansi terkait. Karena itu, penyebab kekeringan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan pengamatan visual terhadap permukaan danau.
Pemerintah daerah bersama instansi pengelola sumber daya air perlu mengevaluasi kondisi saluran pemasok air, tingkat sedimentasi, fungsi daerah resapan, serta sistem pengelolaan danau.
Langkah tersebut penting untuk mengetahui apakah penyusutan air terutama disebabkan faktor musim atau terdapat persoalan lain yang membutuhkan penanganan jangka panjang.
Situ Gede dan Ancaman Krisis Lingkungan
Mengeringnya Situ Gede menjadi pengingat bahwa danau bukan sekadar kawasan wisata, melainkan bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.
Ketika debit air menyusut, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor, mulai dari pertanian, pariwisata, hingga pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Pemerintah perlu menyiapkan langkah penanganan jangka pendek berupa bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak, sekaligus strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Pemulihan daerah tangkapan air, pemeliharaan saluran irigasi, pengendalian sedimentasi, serta pemantauan debit air secara berkala perlu menjadi bagian dari upaya tersebut.
Situ Gede yang mengering bukan hanya persoalan danau kehilangan air, tetapi juga peringatan tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan menjamin ketersediaan air bagi masyarakat.*** (Asbuy)






















