Wartatrans.com, JAKARTA – Perekrutan pelatih asing telah menjadi strategi banyak federasi sepak bola untuk mengejar prestasi. Dana hingga jutaan dolar Amerika Serikat digelontorkan demi mendatangkan nama besar dengan harapan mampu membawa tim nasional menjuarai Piala Dunia. Namun, sejak turnamen pertama digelar di Uruguay pada 1930, belum pernah ada pelatih asing yang berhasil mengangkat trofi.
Kekalahan Inggris 1-2 dari Argentina pada Rabu (15/7/2026) di semifinal Piala Dunia 2026 kembali memperpanjang catatan tersebut. Juru taktik berkebangsaan Jerman, Thomas Tuchel, gagal membawa Inggris ke final, menyusul Carlo Ancelotti dari Italia yang lebih dulu tersingkir bersama Brasil. Dengan hasil itu, rekor pelatih lokal dipastikan tetap bertahan hingga final Piala Dunia 2026 karena dua finalis sama-sama ditangani pelatih yang berasal dari negara masing-masing.

Data sejarah FIFA menunjukkan tingkat keberhasilan pelatih lokal mencapai 100 persen. Alberto Suppici membawa Uruguay menjadi juara pada 1930, disusul Vittorio Pozzo bersama Italia, Mario Zagallo bersama Brasil, Didier Deschamps bersama Prancis pada 2018, hingga Lionel Scaloni yang mengantar Argentina menjadi juara pada 2022. Selama 96 tahun penyelenggaraan Piala Dunia, tidak satu pun pelatih asing berhasil mematahkan tradisi tersebut.
Nilai investasi terhadap pelatih asing terus meningkat. Saat menunjuk Sven-Göran Eriksson, arsitek tim berkebangsaan Swedia, pada 2001, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) memberinya kontrak sekitar £5 juta per tahun atau setara sekitar Rp121 miliar berdasarkan kurs saat ini. Rekor itu dipecahkan Fabio Capello dari Italia dengan bayaran sekitar £6 juta hingga £6,5 juta per tahun atau setara Rp145 miliar hingga Rp157 miliar berdasarkan kurs saat ini. Memasuki siklus Piala Dunia 2026, Brasil mengontrak Carlo Ancelotti senilai sekitar €10 juta per tahun atau sekitar Rp190 miliar berdasarkan kurs saat ini. Meski demikian, belanja besar tersebut belum pernah menghasilkan gelar juara dunia.
Kegagalan Eriksson bersama Inggris pada Piala Dunia 2002 dan 2006, Capello pada edisi 2010, serta Roberto Martínez, nakhoda berkebangsaan Spanyol, bersama Belgia menunjukkan reputasi pelatih elite belum tentu mampu diterjemahkan menjadi prestasi di level tim nasional. Berbeda dengan klub, pelatih tim nasional hanya memiliki waktu persiapan beberapa pekan sehingga faktor komunikasi, budaya, dan kedekatan emosional menjadi sangat menentukan.
Dalam kajian yang dipublikasikan Erasmus School of Economics pada November 2022, ekonom olahraga Thomas Peeters menyebut pelatih asing memang dapat meningkatkan performa tim nasional, tetapi tidak otomatis menghasilkan return on investment berupa gelar juara. Sementara itu, dalam analisis yang diterbitkan The Guardian pada Desember 2022, jurnalis dan analis sepak bola Jonathan Wilson menilai keberhasilan di Piala Dunia lebih banyak ditentukan oleh kemampuan memahami karakter pemain dan menyederhanakan taktik daripada membangun sistem permainan yang rumit
Pandangan tersebut diperkuat Simon Kuper dalam buku Soccernomics. Menurutnya, pasar pelatih tim nasional tidak bekerja seefisien sepak bola klub karena reputasi tidak selalu berbanding lurus dengan hasil di turnamen singkat. Bagi federasi sepak bola, sejarah selama 96 tahun menunjukkan investasi paling bernilai bukan semata pada kontrak pelatih asing, melainkan pada pembinaan pelatih lokal, sistem lisensi, dan pengembangan filosofi sepak bola nasional yang mampu menghasilkan prestasi secara berkelanjutan.***
(Artha Tidar)






























