Menu ✖

Mode Gelap
Tanjung Perak jadi Pelabuhan Uji Coba Pertama Penertiban Kendaraan ODOL Hendak Naik Kapal Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan KSOP Muara Angke Kampanye Pemeriksaan Kapal Terkonsentrasi Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

OLAH RAGA

96 Tahun Piala Dunia: Investasi Ratusan Miliar Hanya Untuk Pelatih Asing Yang Selalu Gagal

badge-check


 96 Tahun Piala Dunia: Investasi Ratusan Miliar Hanya Untuk Pelatih Asing Yang Selalu Gagal Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Perekrutan pelatih asing telah menjadi strategi banyak federasi sepak bola untuk mengejar prestasi. Dana hingga jutaan dolar Amerika Serikat digelontorkan demi mendatangkan nama besar dengan harapan mampu membawa tim nasional menjuarai Piala Dunia. Namun, sejak turnamen pertama digelar di Uruguay pada 1930, belum pernah ada pelatih asing yang berhasil mengangkat trofi.

Kekalahan Inggris 1-2 dari Argentina pada Rabu (15/7/2026) di semifinal Piala Dunia 2026 kembali memperpanjang catatan tersebut. Juru taktik berkebangsaan Jerman, Thomas Tuchel, gagal membawa Inggris ke final, menyusul Carlo Ancelotti dari Italia yang lebih dulu tersingkir bersama Brasil. Dengan hasil itu, rekor pelatih lokal dipastikan tetap bertahan hingga final Piala Dunia 2026 karena dua finalis sama-sama ditangani pelatih yang berasal dari negara masing-masing.

Data sejarah FIFA menunjukkan tingkat keberhasilan pelatih lokal mencapai 100 persen. Alberto Suppici membawa Uruguay menjadi juara pada 1930, disusul Vittorio Pozzo bersama Italia, Mario Zagallo bersama Brasil, Didier Deschamps bersama Prancis pada 2018, hingga Lionel Scaloni yang mengantar Argentina menjadi juara pada 2022. Selama 96 tahun penyelenggaraan Piala Dunia, tidak satu pun pelatih asing berhasil mematahkan tradisi tersebut.

Nilai investasi terhadap pelatih asing terus meningkat. Saat menunjuk Sven-Göran Eriksson, arsitek tim berkebangsaan Swedia, pada 2001, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) memberinya kontrak sekitar £5 juta per tahun atau setara sekitar Rp121 miliar berdasarkan kurs saat ini. Rekor itu dipecahkan Fabio Capello dari Italia dengan bayaran sekitar £6 juta hingga £6,5 juta per tahun atau setara Rp145 miliar hingga Rp157 miliar berdasarkan kurs saat ini. Memasuki siklus Piala Dunia 2026, Brasil mengontrak Carlo Ancelotti senilai sekitar €10 juta per tahun atau sekitar Rp190 miliar berdasarkan kurs saat ini. Meski demikian, belanja besar tersebut belum pernah menghasilkan gelar juara dunia.

Kegagalan Eriksson bersama Inggris pada Piala Dunia 2002 dan 2006, Capello pada edisi 2010, serta Roberto Martínez, nakhoda berkebangsaan Spanyol, bersama Belgia menunjukkan reputasi pelatih elite belum tentu mampu diterjemahkan menjadi prestasi di level tim nasional. Berbeda dengan klub, pelatih tim nasional hanya memiliki waktu persiapan beberapa pekan sehingga faktor komunikasi, budaya, dan kedekatan emosional menjadi sangat menentukan.

Dalam kajian yang dipublikasikan Erasmus School of Economics pada November 2022, ekonom olahraga Thomas Peeters menyebut pelatih asing memang dapat meningkatkan performa tim nasional, tetapi tidak otomatis menghasilkan return on investment berupa gelar juara. Sementara itu, dalam analisis yang diterbitkan The Guardian pada Desember 2022, jurnalis dan analis sepak bola Jonathan Wilson menilai keberhasilan di Piala Dunia lebih banyak ditentukan oleh kemampuan memahami karakter pemain dan menyederhanakan taktik daripada membangun sistem permainan yang rumit

Pandangan tersebut diperkuat Simon Kuper dalam buku Soccernomics. Menurutnya, pasar pelatih tim nasional tidak bekerja seefisien sepak bola klub karena reputasi tidak selalu berbanding lurus dengan hasil di turnamen singkat. Bagi federasi sepak bola, sejarah selama 96 tahun menunjukkan investasi paling bernilai bukan semata pada kontrak pelatih asing, melainkan pada pembinaan pelatih lokal, sistem lisensi, dan pengembangan filosofi sepak bola nasional yang mampu menghasilkan prestasi secara berkelanjutan.***

(Artha Tidar)

Baca Lainnya

26 UMKM Binaan PLN UID Jakarta Raup Rp200 Juta Selama FIFA ASEAN Cup

7 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Suasana Tegang Menyelimuti Nobar Final FIFA ASEAN Cup 2026 di Kantor Gubernur Jateng

6 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Timnas Juara FIFA ASEAN Cup, Presiden Siapkan Bonus Ekstra

6 Oktober 2026 - 07:54 WIB

AFC Dorong Asian Nations League, Beban Biaya Perjalanan jadi Sorotan

5 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Indonesia 9-2 Bangladesh, FIFA ASEAN Cup Turut Dorong Ekonomi Bandung

2 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi

1 Oktober 2026 - 08:21 WIB

BNI Apresiasi Pembinaan PBSI, Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali di Asian Games 2026

30 September 2026 - 10:44 WIB

Indonesia-Malaysia Imbang 0-0 di Laga Kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026

29 September 2026 - 07:21 WIB

Pelindo Group Wilayah Makassar Sambut Hari Pelindo Lewat Turnamen Padel

28 September 2026 - 21:48 WIB

Gasak Singapura 2-0, Indonesia Full Skuad 10 Starter Naturalisasi

26 September 2026 - 07:07 WIB

Trending di OLAH RAGA