Wartatrans.com, JAKARTA — Rencana PT PERSIB Bandung Bermartabat membawa Persib Bandung melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema initial public offering (IPO) semakin mengarah pada tahap implementasi. Langkah tersebut ditandai dengan dimasukkannya prioritas pembelian saham ke dalam program loyalitas digital Passport Persib, yang diumumkan manajemen pada Selasa (7/7/2026).
Kebijakan itu memperkuat komitmen manajemen untuk menjadikan Persib sebagai klub sepak bola terbuka. Sebelumnya, Chief Executive Officer PT PERSIB Bandung Bermartabat, Glenn Timothy Sugita, pada Mei 2025 menyatakan bahwa pembenahan tata kelola dan manajemen telah membuka peluang bagi Persib untuk memasuki pasar modal.

Rencana tersebut juga mendapat dukungan dari kalangan investor. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menyatakan kesiapannya menginvestasikan dana sebesar Rp100 miliar guna memperkuat struktur permodalan klub berjuluk Maung Bandung itu.
Dengan basis pendukung yang diklaim mencapai 25 juta orang, Persib dinilai memiliki modal sosial yang besar untuk menarik minat investor. Meski demikian, prospek IPO klub sepak bola di Indonesia masih dibayangi tantangan, terutama karena minimnya rekam jejak emiten olahraga di pasar modal nasional.
Pengalaman PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, induk usaha Bali United dengan kode saham BOLA, menjadi salah satu referensi penting. Sejak melantai di BEI pada 17 Juni 2019, saham BOLA sempat melonjak hingga sekitar 142 persen dalam sepekan pada Agustus 2021 dan menyentuh level Rp800 per saham. Lonjakan tersebut bahkan sempat memicu suspensi perdagangan oleh otoritas bursa.
Namun, dalam jangka panjang, kinerja saham tersebut mengalami penurunan signifikan. Hingga akhir Mei 2025, harga saham BOLA tercatat berada di kisaran Rp105 per lembar, mencerminkan tingginya volatilitas dan ketidakpastian investasi pada sektor industri sepak bola.
Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai saham klub sepak bola di Indonesia masih sangat dipengaruhi sentimen suporter dibandingkan kekuatan fundamental perusahaan.
“Klub yang ingin masuk bursa harus mampu membuktikan bahwa pendapatan mereka tidak hanya bergantung pada penjualan tiket pertandingan dan sponsor musiman, tetapi juga memiliki diversifikasi bisnis yang berkelanjutan,” ujar Budi, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, keberhasilan IPO klub sepak bola tidak hanya ditentukan oleh besarnya basis penggemar, tetapi juga oleh kualitas tata kelola perusahaan, transparansi laporan keuangan, serta kemampuan menciptakan sumber pendapatan yang stabil.
Ia mengingatkan, tanpa perbaikan fundamental dan penerapan prinsip good corporate governance, klub yang melantai di bursa tetap berpotensi menghadapi fluktuasi harga saham yang tinggi sebagaimana dialami emiten sepak bola sebelumnya.***
(Artha Tidar)






























