Menu

Mode Gelap
KAI Hadirkan Rail Clinic di Garut, Subang, dan Bandar Lampung, Perluas Akses Layanan Kesehatan Warga Catatan Iwan Piliang: Ketika Portugal dan Spanyol Mengajarkan Arti Sepak Bola Eksodus 11 Pemain Naturalisasi ke Liga Indonesia Picu Perdebatan soal Kualitas Timnas Banjir Limbah 57.000 Ton Baterai Bekas: Hantu Pasar Gelap dan Ancaman bagi Industri Nikel Indonesia KAI Catat KA Makassar-Parepare Layani Lebih dari 1 Juta Penumpang Sejak Beroperasi, Semester I 2026 Meningkat 15,44 Persen Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Teguhkan Komitmen Pelayanan Melalui Penandatanganan Maklumat Pelayanan

OLAH RAGA

Catatan Iwan Piliang: Ketika Portugal dan Spanyol Mengajarkan Arti Sepak Bola

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Ketika Portugal dan Spanyol Mengajarkan Arti Sepak Bola Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada pertandingan yang hanya menghasilkan pemenang. Ada pula pertandingan yang meninggalkan pelajaran. Duel Portugal melawan Spanyol pada Piala Dunia 2026 ini adalah yang kedua.

Saat laga baru dimulai, istri saya, Sandra, bertanya, “Ayah jagokan mana?”

Saya tersenyum lalu menjawab, “Keduanya.”

Sandra bahkan sempat menyarankan agar saya mengenakan jersey Spanyol. Namun, di sudut hati, saya tetap mengagumi penampilan Cristiano Ronaldo—seorang legenda yang terus menunjukkan dedikasi luar biasa meski usianya tak lagi muda.

Di lapangan, Portugal dan Spanyol memperlihatkan wajah sepak bola yang sesungguhnya: permainan cepat, disiplin, penuh teknik, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas. Tidak ada kebencian yang mengalahkan rasa hormat. Tidak ada kemenangan yang menghapus penghargaan kepada lawan.

Di sisi lain, dunia juga menyaksikan pertemuan dua generasi. Cristiano Ronaldo, ikon yang telah mengukir sejarah sepak bola selama lebih dari dua dekade, berhadapan dengan Lamine Yamal, bintang muda Spanyol yang sedang bersinar. Pertandingan itu bukan sekadar soal hasil, melainkan estafet kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Terima kasih, Portugal. Terima kasih, Spanyol. Kalian telah memperlihatkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi tentang keberanian, kualitas, serta penghormatan kepada lawan.

Terima kasih pula kepada Cristiano Ronaldo, yang terus membuktikan bahwa kerja keras dan kecintaan kepada negara tidak mengenal usia. Dan kepada Lamine Yamal, masa depan sepak bola dunia tampaknya berada di tangan yang tepat.

Sebagai pencinta sepak bola, saya hanya bisa berharap semoga Indonesia segera menyusul tampil di panggung Piala Dunia. Sebab, setiap bangsa berhak bermimpi, dan setiap mimpi membutuhkan kerja keras, pembinaan yang berkelanjutan, serta keyakinan bahwa suatu hari Garuda akan terbang di pentas tertinggi sepak bola dunia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Eksodus 11 Pemain Naturalisasi ke Liga Indonesia Picu Perdebatan soal Kualitas Timnas

7 Juli 2026 - 08:43 WIB

Lewat Car Free Day, FIFGROUP Gaungkan Kampanye “Perempuan Berperan” untuk Mendorong Kesetaraan Gender

5 Juli 2026 - 10:45 WIB

Tahun Ini Asia Babak Belur, FIFA Masih Pertimbangkan Kuota 12 Tiket untuk Piala Dunia 2030

4 Juli 2026 - 15:19 WIB

Dilema Timnas di ASEAN Cup 2026, Berburu Gengsi Juara atau Jebakan Ranking

4 Juli 2026 - 06:35 WIB

Pegawai KSOP Utama Tanjung Priok Raih Medali Emas ISKA, Harumkan Nama Kemenhub

3 Juli 2026 - 17:24 WIB

Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

2 Juli 2026 - 21:37 WIB

Melalui Bowling Fun Games 2026, IPC TPK dan Mitra PBM Perkuat Koordinasi dan Kolaborasi Dorong Operational Excellence

1 Juli 2026 - 07:43 WIB

Karena MBG Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Club 2026.

29 Juni 2026 - 15:55 WIB

Pemanfaatan Aset DAMRI Hadirkan Fasilitas Olahraga Baru di Kawasan Wisata Yogyakarta

25 Juni 2026 - 09:11 WIB

TVRI Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026, Bayang-Bayang Paywall 2022 Belum Hilang

21 Juni 2026 - 05:24 WIB

Trending di OLAH RAGA