Wartatrans.com, JAKARTA — Ada pertandingan yang hanya menghasilkan pemenang. Ada pula pertandingan yang meninggalkan pelajaran. Duel Portugal melawan Spanyol pada Piala Dunia 2026 ini adalah yang kedua.
Saat laga baru dimulai, istri saya, Sandra, bertanya, “Ayah jagokan mana?”

Saya tersenyum lalu menjawab, “Keduanya.”
Sandra bahkan sempat menyarankan agar saya mengenakan jersey Spanyol. Namun, di sudut hati, saya tetap mengagumi penampilan Cristiano Ronaldo—seorang legenda yang terus menunjukkan dedikasi luar biasa meski usianya tak lagi muda.
Di lapangan, Portugal dan Spanyol memperlihatkan wajah sepak bola yang sesungguhnya: permainan cepat, disiplin, penuh teknik, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas. Tidak ada kebencian yang mengalahkan rasa hormat. Tidak ada kemenangan yang menghapus penghargaan kepada lawan.
Di sisi lain, dunia juga menyaksikan pertemuan dua generasi. Cristiano Ronaldo, ikon yang telah mengukir sejarah sepak bola selama lebih dari dua dekade, berhadapan dengan Lamine Yamal, bintang muda Spanyol yang sedang bersinar. Pertandingan itu bukan sekadar soal hasil, melainkan estafet kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Terima kasih, Portugal. Terima kasih, Spanyol. Kalian telah memperlihatkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi tentang keberanian, kualitas, serta penghormatan kepada lawan.
Terima kasih pula kepada Cristiano Ronaldo, yang terus membuktikan bahwa kerja keras dan kecintaan kepada negara tidak mengenal usia. Dan kepada Lamine Yamal, masa depan sepak bola dunia tampaknya berada di tangan yang tepat.
Sebagai pencinta sepak bola, saya hanya bisa berharap semoga Indonesia segera menyusul tampil di panggung Piala Dunia. Sebab, setiap bangsa berhak bermimpi, dan setiap mimpi membutuhkan kerja keras, pembinaan yang berkelanjutan, serta keyakinan bahwa suatu hari Garuda akan terbang di pentas tertinggi sepak bola dunia.***






























