Menu ✖

Mode Gelap
INACA Dorong Percepatan Pembebasan Pajak Suku Cadang Pesawat AHY Menanggapi Penghentian Pembangunan Pusat Data AI oleh Gubernur Jabar KDM Ditjenpas Jabar Gandeng PWI untuk Perkuat Komunikasi Publik Alam Pedang Berkibar di Takengon, Zam Zam Mubarak: Momentum Kebangkitan Identitas Historis Gayo H. Fikri Prihatin Kenakalan Remaja Kembali Marak di Kabupaten Bogor, Semua Pihak Diminta Turun Tangan Prabowo dan El-Sisi Sepakati Empat Kerja Sama Strategis, Indonesia–Mesir Perkuat Kemitraan Ekonomi hingga Pertahanan

OLAH RAGA

Catatan Iwan Piliang: Ketika Portugal dan Spanyol Mengajarkan Arti Sepak Bola

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Ketika Portugal dan Spanyol Mengajarkan Arti Sepak Bola Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada pertandingan yang hanya menghasilkan pemenang. Ada pula pertandingan yang meninggalkan pelajaran. Duel Portugal melawan Spanyol pada Piala Dunia 2026 ini adalah yang kedua.

Saat laga baru dimulai, istri saya, Sandra, bertanya, “Ayah jagokan mana?”

Saya tersenyum lalu menjawab, “Keduanya.”

Sandra bahkan sempat menyarankan agar saya mengenakan jersey Spanyol. Namun, di sudut hati, saya tetap mengagumi penampilan Cristiano Ronaldo—seorang legenda yang terus menunjukkan dedikasi luar biasa meski usianya tak lagi muda.

Di lapangan, Portugal dan Spanyol memperlihatkan wajah sepak bola yang sesungguhnya: permainan cepat, disiplin, penuh teknik, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas. Tidak ada kebencian yang mengalahkan rasa hormat. Tidak ada kemenangan yang menghapus penghargaan kepada lawan.

Di sisi lain, dunia juga menyaksikan pertemuan dua generasi. Cristiano Ronaldo, ikon yang telah mengukir sejarah sepak bola selama lebih dari dua dekade, berhadapan dengan Lamine Yamal, bintang muda Spanyol yang sedang bersinar. Pertandingan itu bukan sekadar soal hasil, melainkan estafet kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Terima kasih, Portugal. Terima kasih, Spanyol. Kalian telah memperlihatkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi tentang keberanian, kualitas, serta penghormatan kepada lawan.

Terima kasih pula kepada Cristiano Ronaldo, yang terus membuktikan bahwa kerja keras dan kecintaan kepada negara tidak mengenal usia. Dan kepada Lamine Yamal, masa depan sepak bola dunia tampaknya berada di tangan yang tepat.

Sebagai pencinta sepak bola, saya hanya bisa berharap semoga Indonesia segera menyusul tampil di panggung Piala Dunia. Sebab, setiap bangsa berhak bermimpi, dan setiap mimpi membutuhkan kerja keras, pembinaan yang berkelanjutan, serta keyakinan bahwa suatu hari Garuda akan terbang di pentas tertinggi sepak bola dunia.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

26 UMKM Binaan PLN UID Jakarta Raup Rp200 Juta Selama FIFA ASEAN Cup

7 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Suasana Tegang Menyelimuti Nobar Final FIFA ASEAN Cup 2026 di Kantor Gubernur Jateng

6 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Timnas Juara FIFA ASEAN Cup, Presiden Siapkan Bonus Ekstra

6 Oktober 2026 - 07:54 WIB

AFC Dorong Asian Nations League, Beban Biaya Perjalanan jadi Sorotan

5 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Indonesia 9-2 Bangladesh, FIFA ASEAN Cup Turut Dorong Ekonomi Bandung

2 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi

1 Oktober 2026 - 08:21 WIB

BNI Apresiasi Pembinaan PBSI, Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali di Asian Games 2026

30 September 2026 - 10:44 WIB

Indonesia-Malaysia Imbang 0-0 di Laga Kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026

29 September 2026 - 07:21 WIB

Pelindo Group Wilayah Makassar Sambut Hari Pelindo Lewat Turnamen Padel

28 September 2026 - 21:48 WIB

Gasak Singapura 2-0, Indonesia Full Skuad 10 Starter Naturalisasi

26 September 2026 - 07:07 WIB

Trending di OLAH RAGA