Wartatrans.com, JAKARTA – Keputusan Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) mengalokasikan dana sekitar Rp1,3 triliun atau setara US$80 juta untuk memperoleh hak siar Piala Dunia FIFA 2026 memicu perdebatan luas. Nilai tersebut dinilai sangat tinggi dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar hak siar termahal di Asia.
Besaran biaya yang dibayarkan TVRI bahkan disebut melampaui China, yang dikabarkan memperoleh hak siar dengan nilai sekitar US$60 juta. Sementara sejumlah negara Asia memilih mundur dari proses negosiasi karena menganggap harga lisensi yang ditetapkan FIFA terlalu mahal.

Di tengah tingginya harga hak siar, persaingan industri penyiaran olahraga juga semakin bergeser ke platform digital. Korporasi streaming global seperti Netflix, Disney, dan YouTube mulai memperluas langkah mereka untuk menguasai pasar hak siar olahraga internasional.
Pengamat media Universitas Indonesia, Agus Sudibyo, menilai pembelian hak siar dengan nilai sebesar itu mengandung risiko besar bagi keuangan negara apabila target pendapatan iklan tidak tercapai.
“Pembelian hak siar oleh TVRI dengan nilai jumbo ini sangat berisiko membebani keuangan negara jika proyeksi iklan meleset, terutama karena zona waktu pertandingan di Amerika Utara kurang bersahabat bagi penonton domestik,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Menurut Agus, FIFA menerapkan strategi harga yang berbeda di setiap negara berdasarkan potensi pasar dan tingkat antusiasme penggemar sepak bola. Karena itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat posisi tawarnya dalam negosiasi hak siar pada masa mendatang.
Perbandingan di kawasan Asia menunjukkan perbedaan harga yang cukup mencolok. Thailand, melalui Jasmine International, dikabarkan memperoleh paket hak siar hingga Piala Dunia 2030 dengan nilai sekitar US$70 juta, sedangkan Vietnam hanya membayar sekitar US$15 juta.
Sementara itu, di Eropa, tingginya biaya lisensi berhasil diimbangi dengan pendapatan iklan yang besar. Stasiun televisi Inggris ITV memanfaatkan momentum Piala Dunia sebagai ajang komersial bernilai tinggi.
Direktur Pelaksana Komersial ITV, Kelly Williams, menyebut turnamen tersebut sebagai “Super Bowl musim panas selama enam pekan” bagi industri periklanan televisi.
Tarif iklan premium ITV dilaporkan mencapai £300.000 atau sekitar Rp7,2 miliar untuk slot berdurasi 30 detik pada pertandingan tim nasional Inggris. Sejumlah perusahaan teknologi seperti Google, Amazon Web Services, dan Microsoft Copilot telah mengamankan slot iklan tersebut untuk mempromosikan produk berbasis kecerdasan buatan.
Keberhasilan monetisasi di Eropa dan Amerika Serikat mendorong perusahaan over-the-top (OTT) global semakin agresif memburu hak siar Piala Dunia edisi 2030 dan 2034. FIFA bahkan memproyeksikan nilai lelang gabungan hak siar berbahasa Inggris dan Spanyol di Amerika Serikat dapat mencapai US$2 miliar.
Persaingan antara platform streaming dan televisi konvensional diperkirakan akan terus mendorong kenaikan harga hak siar olahraga dunia. Bagi TVRI sebagai lembaga penyiaran publik, investasi sebesar Rp1,3 triliun menjadi pertaruhan besar antara memenuhi akses hiburan masyarakat dan menjaga efisiensi penggunaan anggaran negara.*** (Artha Tidar)






























