Menu

Mode Gelap
Wali Kota Langsa Serahkan Seragam Sekolah Gratis bagi Anak Yatim Piatu di Langsa Lama Lelang Frekuensi 700 MHz-26 GHz: Ajukan Rp5,458 Triliun, Telkomsel Kuasai “Jalur Emas” Dari Manggarai ke Kiaracondong: 5.484 Rusun TOD PT KAI Jadi Ramah Kantong atau Jerat Lahan HPL ? IIPO 3 BUMD Jakarta: Bekal Amunisi Fiskal Atau Jadi Tumbal Pasar Modal ? HSBI Peringati Hari Sastra dengan Pentas Seni di Padepokan Mahagenta PNM Kenalkan Model Pembiayaan Syariah Berbasis Kepercayaan di Hadapan Negara-Negara D-8

PERON

Dari Manggarai ke Kiaracondong: 5.484 Rusun TOD PT KAI Jadi Ramah Kantong atau Jerat Lahan HPL ?

badge-check


 Dari Manggarai ke Kiaracondong: 5.484 Rusun TOD PT KAI Jadi Ramah Kantong atau Jerat Lahan HPL ? Perbesar

Wartarans.com, JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memulai pembangunan 5.484 unit rumah susun (rusun) berbasis Transit Oriented Development (TOD) di empat kota. Proyek terbesarnya ada di Stasiun Manggarai, Jakarta dan Stasiun Kiaracondong, Bandung, dengan target serah terima awal 2027.

Groundbreaking 2.200 unit di Manggarai dilakukan Senin, 16 Maret 2026. Di Kiaracondong, rusun akan dibangun di atas lahan 7.600 meter persegi, dengan 753 unit dalam 2 tower. Pembangunan ini bagian dari program 3 juta rumah pemerintah, untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin memastikan, jika pembangunan akan dimulai dalam waktu dekat. “Yang Manggarai, mungkin bulan depan kita mulai. Kita mulai dengan Blok G dulu. Blok G itu, nanti ada tiga tower,” kata Bobby dalam diskusi bersama wartawan saat berbincang di kereta wisata dari Yogjakarta menuju Jakarta, Rabu (8/7/2026). Ia menjelaskan, dalam jangka panjang kawasan Manggarai akan dikembangkan menjadi sebuah sub-distrik baru di Jakarta. Namun, tahap awal pembangunan difokuskan pada Blok G sebagai proyek perdana.

Pada Maret lalu, ia merinci pembagian unit. “Total ada 5.484 unit, yaitu 2.200 di Manggarai, 753 di Kiaracondong, 1.042 di Semarang, dan 1.489 di Surabaya,” jelasnya. Di Manggarai, konstruksi dimulai Agustus 2026 dan serah terima ditargetkan April 2027. Harga dipatok mulai Rp500 juta untuk tipe 45.

Bobby menambahkan, KAI memiliki lahan 320 juta meter persegi di seluruh Indonesia. “Khusus Jabodetabek, potensi rusun TOD mencapai 131 ribu unit,” kata Bobby saat groundbreaking. Kedekatan dengan transportasi publik disebut akan menghemat waktu dan biaya perjalanan warga.

Pembiayaan Manggarai digarap bersama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Sementara di Bandung, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyebut, proyek Kiaracondong akan melibatkan dana corporate social responsibility (CSR) swasta agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Namun, persoalan mendasar muncul dari status lahan. Rusun TOD dibangun di atas tanah Hak Pengelolaan (HPL) milik KAI. Pengamat Kebijakan Perumahan Universitas Trisakti, Yanto Daud, mengkritik hal ini pada Jumat (10/7/2026). “Kalau peruntukan HPL diubah, bagaimana nasib penghuni ketika kontrak habis atau lahan ditarik? Harus ada jaminan kepastian hukum 30 tahun ke depan,” tegas Yanto.

Ia menilai tanpa kepastian itu, rusun TOD hanya menjadi proyek jangka pendek. “Jangan sampai ini jadi hunian mahal yang tidak bisa diwariskan oleh MBR,” ujarnya. Kekhawatiran itu relevan. Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo sebelumnya menyatakan, pembangunan Manggarai butuh sosialisasi karena ada masyarakat yang sudah menghuni. Luas lahan Manggarai 60 hektare dan diarahkan menjadi “SCBD kedua” dengan convention hall dan hotel.

Di sisi lain, KAI menargetkan kawasan TOD sebagai pilar roadmap 2026-2030, guna mendongkrak pendapatan hingga Rp66 triliun pada 2030. Stasiun Manggarai dipilih, karena melayani hampir 300.000 penumpang per hari. Dengan harga mulai Rp500 juta dan status HPL yang belum jelas, janji “ramah kantong” patut diuji. Tanpa payung hukum yang kuat, maka 5.484 rusun ini berisiko menjadi komoditas, bukan solusi hunian.*** (Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KAI Rampungkan Perawatan 246 Kereta di Balai Yasa Manggarai pada Semester I 2026

10 Juli 2026 - 17:44 WIB

KAI Tangani 12.656 Barang Tertinggal Sepanjang Semester I 2026, Nilainya Capai Rp8,86 Miliar

10 Juli 2026 - 16:56 WIB

KAI Commuter Uji Coba Teknologi Penghilang Bau di KRL, Penumpang Jadi Lebih Nyaman

10 Juli 2026 - 15:51 WIB

KAI Siapkan Travelator Ber-AC untuk Integrasi Stasiun Karet dan BNI City

10 Juli 2026 - 14:35 WIB

Integrasi Stasiun Karet-BNI City Ditargetkan Beroperasi 28 September 2026, Penumpang KRL Akan Dialihkan

10 Juli 2026 - 14:26 WIB

KCIC Gratiskan Tiket Bayi di Bawah 3 Tahun Selama Libur Sekolah, Perjalanan Keluarga dengan Whoosh Makin Nyaman

10 Juli 2026 - 10:35 WIB

Promo tiket kereta whoosh khusus ramadan.

KA Logawa Tabrak Truk di Perlintasan Bagor-Saradan, Sejumlah Perjalanan Kereta Terlambat

9 Juli 2026 - 21:35 WIB

KAI Angkut 1,17 Juta Ton Semen dan Klinker pada Semester I 2026, Perkuat Rantai Pasok Nasional

9 Juli 2026 - 17:42 WIB

Program Waste Management KAI Services, Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

9 Juli 2026 - 16:57 WIB

Access by KAI Kuasai 76 Persen Transaksi Tiket Kereta pada Semester I 2026

9 Juli 2026 - 16:43 WIB

Trending di PERON