Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat layanan angkutan barang berbasis rel sebagai bagian dari upaya mendukung kelancaran rantai pasok nasional.
Salah satu komoditas strategis yang diangkut adalah semen dan klinker, bahan baku utama dalam industri semen yang berperan penting bagi pembangunan infrastruktur, perumahan, kawasan industri, hingga berbagai proyek konstruksi.

Sepanjang Semester I 2026 atau periode Januari–Juni, KAI mencatat volume angkutan semen dan klinker mencapai 1.170.912 ton. Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 layanan angkutan komoditas tersebut mencapai 2.851.615 ton.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, distribusi semen dan klinker melalui kereta api merupakan salah satu bentuk kontribusi perusahaan dalam menjaga kelancaran pembangunan di berbagai wilayah.
“Setiap ton semen dan klinker yang bergerak melalui kereta api memiliki arti bagi rantai pasok pembangunan. Dari pabrik menuju titik distribusi, layanan ini membantu menjaga pasokan material agar lebih terencana, lebih stabil, dan memberi manfaat bagi dunia usaha maupun masyarakat,” ujar Anne.
Menurutnya, kereta api memiliki keunggulan dalam mengangkut barang dengan volume besar untuk jarak menengah hingga jauh. Kapasitas angkut yang tinggi serta jadwal operasional yang terukur dinilai mampu meningkatkan efisiensi distribusi, terutama bagi sektor industri yang membutuhkan kepastian pasokan bahan baku.
“Bagi pelanggan perusahaan, kepastian jadwal dan kapasitas besar membantu proses distribusi berjalan lebih baik. Bagi masyarakat, rantai pasok yang lancar dapat mendukung ketersediaan material pembangunan, menjaga aktivitas ekonomi daerah, serta membantu dunia usaha mengelola biaya distribusi,” kata Anne.
KAI menilai penguatan layanan logistik berbasis rel menjadi semakin penting mengingat biaya logistik masih menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan daya saing nasional.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, rasio biaya logistik Indonesia masih berada di angka 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan data tahun dasar 2022. Pemerintah menargetkan rasio tersebut turun menjadi 13,52 persen hingga 12,50 persen terhadap PDB.
Dengan mengacu pada PDB Indonesia tahun 2025 sebesar Rp23.821,1 triliun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan rasio biaya logistik dari 14,29 persen menjadi 12,50 persen diperkirakan membuka ruang efisiensi sekitar Rp426,40 triliun per tahun.
Menurut Anne, efisiensi logistik tidak hanya berdampak pada biaya distribusi, tetapi juga memengaruhi harga material, kelancaran pembangunan, aktivitas industri, hingga kesejahteraan masyarakat.
“Logistik menyentuh banyak hal. Di dalamnya ada biaya produksi, harga material, kelancaran pembangunan, lapangan kerja, dan daya beli masyarakat. Karena itu, penguatan layanan barang berbasis rel menjadi penting agar distribusi semakin efisien, terjadwal, dan memberi nilai tambah bagi ekonomi nasional,” ujar Anne.
Selain memberikan manfaat ekonomi, angkutan barang berbasis rel juga dinilai lebih ramah lingkungan. Mengacu pada data International Energy Agency (IEA), kereta api melayani sekitar 6 persen angkutan barang dunia berdasarkan ton-kilometer, namun hanya menyumbang sekitar 1 persen emisi sektor transportasi.
Dengan mengacu pada referensi internasional sektor freight rail, penggunaan kereta api untuk mengangkut barang berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 75 persen dibandingkan angkutan truk pada volume yang sama.
Berdasarkan estimasi KAI, volume angkutan semen dan klinker Semester I 2026 yang mencapai 1.170.912 ton setara dengan 117.091.200 ton-kilometer untuk skenario pengiriman sejauh 100 kilometer. Dengan asumsi faktor emisi jalan sebesar 62 gram CO₂e per ton-kilometer, penggunaan kereta api diperkirakan mampu menghindari sekitar 5.444 ton CO₂e untuk setiap 100 kilometer pengiriman. Estimasi tersebut dapat berubah sesuai jarak tempuh, pola operasi, jenis sarana, kapasitas muatan, kondisi lintas, serta metode perhitungan emisi yang digunakan.
Anne menambahkan, manfaat angkutan barang berbasis rel juga mencakup pengurangan kepadatan kendaraan berat di jalan raya, peningkatan keselamatan transportasi, serta dukungan terhadap target keberlanjutan perusahaan.
“Ketika barang dapat dikirim dalam volume besar, lebih terjadwal, dan lebih hemat energi, pelaku usaha memiliki ruang lebih baik untuk mengelola biaya. Dalam jangka panjang, logistik yang efisien dapat membantu daya saing industri dan mendukung harga barang yang lebih stabil di masyarakat,” kata Anne.
Ke depan, KAI akan terus meningkatkan layanan logistik melalui penguatan pola operasi, peningkatan keandalan sarana dan prasarana, perluasan kerja sama dengan pelanggan korporasi, serta memperkuat konektivitas layanan barang menuju kawasan industri, pabrik, terminal logistik, pelabuhan, dan pusat distribusi.
“Semakin baik infrastruktur perkeretaapian dan konektivitas logistiknya, semakin besar manfaat yang bisa dirasakan. Industri dapat bekerja lebih efisien, pembangunan daerah mendapat dukungan pasokan material, jalan raya menjadi lebih tertata, dan masyarakat memperoleh manfaat dari rantai pasok yang lebih sehat,” tutup Anne.(fahmi)






























