Wartatrans.com, JAKARTA — Sastra tidak hanya lahir dari rangkaian kata. Di dalamnya terdapat cara manusia membaca zaman, menyimpan ingatan, menyampaikan kegelisahan, sekaligus merawat nilai-nilai kebudayaan.
Perspektif tersebut akan menjadi bagian dari “Bincang Santai Sastra Puisi” yang digelar Muhrain, admin Jambo Budaya, bersama sastrawan, perupa, dan pimpinan media Putra Gara, Selasa (4/8/2026), melalui siaran langsung Facebook.

Dalam bincang tersebut, Putra Gara akan membicarakan bagaimana puisi dan sastra dapat mengambil peran dalam kehidupan kebangsaan, terutama di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi.
Menurut Putra Gara, kemerdekaan seharusnya tidak dimaknai sebatas peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun.
“Kemerdekaan bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga tentang kebebasan berpikir, bersuara, dan berkarya,” kata Gara.
Ia menilai sastra memiliki posisi penting dalam menjaga kebebasan tersebut. Puisi, misalnya, dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk menyampaikan pandangan dan perasaan secara kreatif, sekaligus menjadi catatan tentang kehidupan masyarakat pada suatu zaman.
“Sastra bukan sekadar kata-kata. Ia adalah cara kita membaca zaman dan merawat ingatan,” ujarnya lagi.
Menurutnya, kebudayaan juga tidak boleh dipisahkan dari kehidupan berbangsa. Ketika budaya dirawat, masyarakat tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membangun identitas untuk menghadapi masa depan.
Sementara itu, Muhrain sebagai admin Jambo Budaya mengatakan, Bincang Santai Sastra Puisi diharapkan menjadi ruang pertemuan gagasan bagi para pencinta sastra dan masyarakat luas.
Melalui dialog tersebut, sastra diharapkan tidak hanya hadir di ruang-ruang komunitas atau buku, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan publik.
“Dari puisi kita bersuara. Dari sastra kita merawat budaya. Dari budaya kita menguatkan bangsa,” menjadi semangat yang diusung dalam bincang tersebut.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk melihat kembali makna kemerdekaan melalui perspektif kebudayaan: bahwa bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang mampu mengenang sejarahnya, tetapi juga bangsa yang memberikan ruang bagi warganya untuk berpikir, berkarya, dan menyampaikan gagasan.*** (Septi)






























