Menu

Mode Gelap
Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

PERISTIWA

Catatan Halimah Munawir: Menapaki Jejak Naguib Mahfouz, Sastrawan Nobel dari Mesir

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Menapaki Jejak Naguib Mahfouz, Sastrawan Nobel dari Mesir Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Sebagai seorang penulis, rasanya kurang afdol jika berkunjung ke Mesir tanpa menyambangi tempat-tempat yang pernah menjadi tongkrongan sastrawan dunia. Salah satu yang paling ikonik adalah ruang-ruang kultural yang lekat dengan nama Naguib Mahfouz, sastrawan Mesir peraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1988.

Naguib Mahfouz bukan sekadar penulis besar bagi dunia Arab, tetapi juga figur penting dalam sastra dunia. Ia dikenal luas atas karya-karyanya yang kaya nuansa, kuat dalam seni narasi Arab, serta relevan bagi pengalaman kemanusiaan lintas bangsa dan zaman. Melalui cerpen dan novel-novelnya, Mahfouz berhasil menghadirkan denyut kehidupan masyarakat Mesir—dari lorong-lorong sempit Kairo hingga pergulatan batin manusia modern—dengan bahasa yang jujur, subtil, dan mendalam.

Lahir di Kairo pada 11 Desember 1911, Mahfouz tumbuh di tengah perubahan sosial dan politik Mesir. Pengalaman hidup itulah yang kemudian membentuk karya-karyanya. Ia menulis lebih dari 30 novel, ratusan cerpen, serta sejumlah skenario film, menjadikannya salah satu penulis paling produktif di dunia Arab. Karya monumentalnya, Trilogi Kairo (Bayn al-Qasrayn, Qasr al-Shawq, dan Al-Sukkariyya), sering disebut sebagai potret epik masyarakat Mesir abad ke-20.

Penghargaan Nobel Sastra yang diterimanya pada tahun 1988 menandai tonggak sejarah penting: Naguib Mahfouz adalah penulis berbahasa Arab pertama yang memenangkan Nobel Sastra. Komite Nobel memuji karyanya yang mampu “membentuk seni narasi Arab yang berlaku bagi seluruh umat manusia.” Sebuah pengakuan global atas sastra Arab yang selama ini kerap berada di pinggiran wacana sastra dunia.

Menariknya, Mahfouz dikenal sebagai sosok yang sederhana. Ia gemar duduk di kafe-kafe tua Kairo, berdiskusi dengan para penulis muda, intelektual, dan mahasiswa. Kafe-kafe tersebut kini menjadi semacam situs ziarah sastra—tempat para penulis dan pecinta buku mengenang jejak pemikiran seorang maestro.

Karya-karyanya tak selalu berjalan mulus. Beberapa novel Mahfouz menuai kontroversi karena mengangkat tema filsafat, agama, dan kritik sosial secara berani. Bahkan pada tahun 1994, ia sempat mengalami percobaan pembunuhan akibat pandangan ekstrem terhadap salah satu karyanya. Namun, hal itu tidak pernah memadamkan semangatnya untuk menulis dan berpikir kritis.

Kini, mengenang Naguib Mahfouz bukan hanya soal mengingat seorang peraih Nobel, tetapi juga tentang keberanian sastra untuk berbicara jujur tentang manusia dan zamannya. Dari Kairo, Mahfouz membuktikan bahwa bahasa Arab mampu berdiri sejajar di panggung sastra dunia.

Lalu kita pun bertanya, dengan nada reflektif sekaligus penuh harap: kapan penulis dari negeri kita menyusul jejak itu?***

Mesir – 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops

16 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Trending di RAGAM