Menu

Mode Gelap
ASDP Raih Penghargaan Top CSR 2026 Berkat Program Mudik Ramah Anak INACA Apresiasi Penyesuaian Fuel Surcharge dari Pemerintah Kemenhub Sesuaikan Fuel Surcharge Angkutan Udara Pendampingan Intensif PNM Dorong Kemandirian Ibu-Ibu Pelaku Usaha Mikro SBY Cup 2026 Memberi Pesan Voli Indonesia Siap Naik Kelas KAI: Ketertiban di Stasiun dan Perlintasan jadi Kesan Positif bagi Wisatawan Asing

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Merayakan Ulang Tahun, Antara Tradisi, Makna, dan Doa

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Merayakan Ulang Tahun, Antara Tradisi, Makna, dan Doa Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Perayaan ulang tahun anak dengan kue dan lilin telah menjadi tradisi yang akrab di banyak keluarga modern. Tradisi ini ternyata memiliki jejak sejarah panjang. Salah satunya dikenal melalui “Kinderfest”, perayaan ulang tahun anak yang mulai berkembang di Jerman pada abad ke-18. Dalam tradisi tersebut, anak-anak dirayakan sebagai penanda penting pertambahan usia, harapan, dan cinta keluarga.

Namun jika ditarik lebih jauh ke masa lampau, penggunaan kue dengan lilin ternyata pernah dikenal dalam peradaban Yunani Kuno. Kala itu, kue bundar dengan cahaya lilin dipersembahkan secara khusus untuk menghormati Dewi Artemis, dewi bulan dalam mitologi Yunani. Bentuk kue yang bulat dianggap menyerupai bulan, sementara nyala lilin menjadi simbol cahaya.

Karena latar sejarah itulah, sebagian ulama memandang tradisi meniup lilin ulang tahun perlu dihindari, terutama jika dianggap menyerupai ritual keagamaan tertentu di masa lalu. Pandangan tersebut kemudian melahirkan sikap kehati-hatian di sebagian masyarakat Muslim dalam merayakan ulang tahun dengan kue dan lilin.

Meski demikian, di tengah perbedaan pandangan itu, ada pula yang melihat bahwa sebuah tradisi sangat bergantung pada niat dan makna yang menyertainya. Ketika ulang tahun dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas bertambahnya usia, sarana mempererat kasih sayang keluarga, serta momentum memanjatkan doa, maka perayaan itu menjadi sesuatu yang penuh nilai kebaikan.

Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah lilin atau kuenya, melainkan cinta dan doa yang hadir di dalamnya. Sebab setiap pertambahan usia sejatinya adalah pengingat tentang waktu, harapan, dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Hari ulang tahun anak pun menjadi momen emosional bagi orang tua. Ada rasa haru melihat anak tumbuh dewasa, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan dengan segala tantangannya.

“Selamat ulang tahun anakku Dian. Semoga panjang umur dalam sehat, rezeki yang berlimpah, serta bahagia bersama suami dan anak-anak yang saleh dan salehah.”

Doa sederhana itu menjadi bukti bahwa dalam setiap ulang tahun, yang paling utama bukan kemeriahan perayaannya, melainkan kasih sayang yang tak pernah selesai dipanjatkan orang tua untuk anaknya.***

Duren Sawit – 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

MAA Jakarta Surati Menag soal Penggunaan Atribut Adat Aceh dalam Ucapan Keagamaan

14 Mei 2026 - 11:11 WIB

Catatan H. Erick Teguh M: Sarapan Pagi di Capitol Kopitiam, Kuala Lumpur

14 Mei 2026 - 10:39 WIB

BKI Pertahankan Kategori “High Performance” Pada Tokyo MoU 2025

13 Mei 2026 - 21:01 WIB

Kunjungan Mahasiswa UI ke IPC TPK, Sinkronisasi Teori Akademik dan Realita Industri Pelabuhan

13 Mei 2026 - 20:35 WIB

KSP Dudung Abdurachman Tinjau Langsung Pelindo, Dukung Penguatan Tata Kelola Pelabuhan Nasional

13 Mei 2026 - 19:41 WIB

Terminal Teluk Lamong Perkuat Kompetensi Pekerja dalam Pertolongan Pertama Kecelakaan

13 Mei 2026 - 18:51 WIB

PT Pelindo Solusi Maritim Modernisasi Crane Pelabuhan dengan Pembaruan Sistem Komputerisasi

13 Mei 2026 - 18:30 WIB

Dana Reboisasi Dinilai Perlu Masuk Skema Dana Desa untuk Penghijauan Hutan

13 Mei 2026 - 14:37 WIB

PNM Kembangkan Klaster Pala di Ngada untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan

13 Mei 2026 - 14:26 WIB

Sambut Long Weekend, DAMRI Siapkan Lebih dari 50 Ribu Kursi AKAP dan Beragam Kemudahan Pemesanan Tiket

13 Mei 2026 - 14:05 WIB

Trending di JALUR