Wartatrans.com, JAKARTA — Perayaan ulang tahun anak dengan kue dan lilin telah menjadi tradisi yang akrab di banyak keluarga modern. Tradisi ini ternyata memiliki jejak sejarah panjang. Salah satunya dikenal melalui “Kinderfest”, perayaan ulang tahun anak yang mulai berkembang di Jerman pada abad ke-18. Dalam tradisi tersebut, anak-anak dirayakan sebagai penanda penting pertambahan usia, harapan, dan cinta keluarga.
Namun jika ditarik lebih jauh ke masa lampau, penggunaan kue dengan lilin ternyata pernah dikenal dalam peradaban Yunani Kuno. Kala itu, kue bundar dengan cahaya lilin dipersembahkan secara khusus untuk menghormati Dewi Artemis, dewi bulan dalam mitologi Yunani. Bentuk kue yang bulat dianggap menyerupai bulan, sementara nyala lilin menjadi simbol cahaya.

Karena latar sejarah itulah, sebagian ulama memandang tradisi meniup lilin ulang tahun perlu dihindari, terutama jika dianggap menyerupai ritual keagamaan tertentu di masa lalu. Pandangan tersebut kemudian melahirkan sikap kehati-hatian di sebagian masyarakat Muslim dalam merayakan ulang tahun dengan kue dan lilin.
Meski demikian, di tengah perbedaan pandangan itu, ada pula yang melihat bahwa sebuah tradisi sangat bergantung pada niat dan makna yang menyertainya. Ketika ulang tahun dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas bertambahnya usia, sarana mempererat kasih sayang keluarga, serta momentum memanjatkan doa, maka perayaan itu menjadi sesuatu yang penuh nilai kebaikan.
Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah lilin atau kuenya, melainkan cinta dan doa yang hadir di dalamnya. Sebab setiap pertambahan usia sejatinya adalah pengingat tentang waktu, harapan, dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Hari ulang tahun anak pun menjadi momen emosional bagi orang tua. Ada rasa haru melihat anak tumbuh dewasa, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan dengan segala tantangannya.
“Selamat ulang tahun anakku Dian. Semoga panjang umur dalam sehat, rezeki yang berlimpah, serta bahagia bersama suami dan anak-anak yang saleh dan salehah.”
Doa sederhana itu menjadi bukti bahwa dalam setiap ulang tahun, yang paling utama bukan kemeriahan perayaannya, melainkan kasih sayang yang tak pernah selesai dipanjatkan orang tua untuk anaknya.***
Duren Sawit – 2026
























