Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menilai budaya tertib masyarakat di ruang publik, termasuk di stasiun dan perlintasan sebidang, menjadi bagian dari pengalaman yang membekas bagi wisatawan mancanegara selama berada di Indonesia.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengalaman wisatawan asing saat menggunakan transportasi publik sering terbentuk dari hal-hal sederhana yang mereka temui selama perjalanan.

“Wisatawan biasanya mengingat suasana yang mereka rasakan selama berada di sebuah negara. Dari cara masyarakat menunggu kereta api, suasana di stasiun, sampai bagaimana orang saling menghargai di ruang publik. Hal-hal seperti itu yang sering membekas dalam ingatan mereka,” ujar Anne.
Menurut Anne, kereta api menjadi ruang yang mempertemukan banyak orang dari berbagai latar belakang dalam satu perjalanan. Di ruang tersebut, wisatawan dapat melihat langsung bagaimana masyarakat berbagi ruang, mengantre, menjaga kenyamanan bersama, hingga menghargai keselamatan perjalanan.
KAI mencatat, selama periode Januari hingga April 2026 sebanyak 180.670 wisatawan mancanegara menggunakan layanan kereta api jarak jauh. Khusus pada April 2026, jumlah pelanggan wisatawan asing mencapai 51.565 orang dan menjadi angka tertinggi sepanjang tahun ini.
Adapun 10 stasiun dengan keberangkatan wisatawan mancanegara tertinggi selama Januari–April 2026 yakni Stasiun Gambir sebanyak 29.013 pelanggan, Yogyakarta 26.365 pelanggan, Bandung 15.780 pelanggan, Pasarsenen 10.486 pelanggan, Surabaya Gubeng 9.043 pelanggan, Semarang Tawang 6.946 pelanggan, Malang 5.435 pelanggan, Surabaya Pasar Turi 4.650 pelanggan, Cirebon 4.215 pelanggan, dan Solo Balapan 3.747 pelanggan.
Anne mengatakan meningkatnya minat wisatawan mancanegara menggunakan kereta api menunjukkan perjalanan antarkota kini menjadi bagian dari pengalaman wisata di Pulau Jawa dan Sumatra.
“Perlintasan sebidang menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga keselamatan perjalanan bersama. Saat pengguna jalan menunggu dengan tertib dan mendahulukan kereta api melintas, suasana seperti itu juga dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi banyak orang,” jelas Anne.
Ia menambahkan, kesan positif wisatawan sering muncul dari pengalaman sederhana yang mereka alami langsung selama berada di Indonesia, mulai dari suasana stasiun yang tertib hingga kepedulian masyarakat terhadap keselamatan di ruang publik.
“Ketika wisatawan merasa nyaman selama perjalanan dan melihat suasana masyarakat yang tertib, kesan positif itu biasanya akan mereka ceritakan kepada orang lain. Dari sana kepercayaan tumbuh dan pengalaman baik tentang Indonesia ikut menyebar,” tutup Anne.(fahmi)






























