Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan batu bara mencapai 16.631.048 ton selama periode Januari hingga April 2026. Khusus pada April 2026, volume angkutan batu bara tercatat sebesar 4.633.495 ton.
Sebagian besar angkutan tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik, terutama di wilayah Jawa dan Bali yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 dihuni lebih dari 163 juta penduduk atau sekitar 58 persen populasi Indonesia.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan distribusi energi membutuhkan moda transportasi dengan kapasitas besar serta pola operasi yang stabil guna menjaga kesinambungan pasokan energi nasional.
“Distribusi energi memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat dan produktivitas ekonomi. Karena itu, pola angkut yang stabil menjadi penting agar rantai pasok energi dapat berjalan dengan baik,” ujar Anne.
Dalam sistem logistik nasional, kereta api dinilai memiliki keunggulan untuk angkutan komoditas massal jarak jauh karena mampu mengangkut barang dalam kapasitas besar dan memiliki jalur rel yang terpisah dari lalu lintas jalan raya.
KAI menyebut lokomotif CC205 mampu menarik hingga 61 gerbong atau setara sekitar 3.050 ton barang dalam satu perjalanan. Kapasitas tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 120 truk kontainer ukuran 40 kaki.
Menurut Anne, kapasitas angkut besar dalam satu perjalanan turut membantu efisiensi distribusi logistik dan mengurangi pergerakan kendaraan berat di jalan raya pada lintas tertentu.
Untuk meningkatkan kapasitas angkutan batu bara, KAI terus melakukan penguatan sarana dan pengujian operasional. Salah satunya melalui uji coba satu lokomotif CC205 di lintas Sumatra Selatan pada 12 Mei 2026.
Dalam pengujian tersebut, lokomotif menarik rangkaian 60 gerbong batu bara pada lintasan menanjak. Simulasi dilakukan dengan menghentikan kereta di beberapa titik tanjakan sebelum rel disiram air guna menguji kemampuan adhesi lokomotif saat kembali dijalankan pada kondisi lintasan lebih berat.
“Hasil pengujian menunjukkan lokomotif tetap mampu menarik rangkaian dengan beban sekitar 4.000 ton di lintasan tersebut,” kata Anne.
Pengujian tersebut dilakukan untuk mengukur performa sarana dalam mendukung peningkatan volume angkutan batu bara yang terus berkembang.
Anne menambahkan penguatan kapasitas angkutan barang perlu dilakukan secara bertahap seiring meningkatnya kebutuhan distribusi logistik nasional.
“Keandalan distribusi logistik akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi nasional. Karena itu, pengembangan kapasitas dilakukan dengan pendekatan yang terukur dan berbasis kebutuhan jangka panjang,” ujarnya.
Pengembangan sarana itu merupakan bagian dari investasi KAI senilai USD 222,5 juta atau sekitar Rp3,56 triliun. Investasi tersebut diproyeksikan mendukung target angkutan batu bara sebesar 111,2 juta ton dan angkutan non-batu bara sebesar 10,9 juta ton pada 2029.
KAI juga mendorong penguatan industri nasional melalui penggunaan sarana produksi dalam negeri. Seluruh gerbong datar BM 54 ton diproduksi di dalam negeri melalui kerja sama dengan PT INKA dengan optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Selain mendukung peningkatan kapasitas logistik, pengembangan sarana tersebut dipersiapkan untuk mendukung pertumbuhan angkutan di wilayah Sumatra Selatan, termasuk proyek Tarahan II dan Kertapati yang diproyeksikan meningkatkan volume distribusi barang dalam beberapa tahun mendatang.
“Ketika distribusi energi berjalan stabil ruang belajar akan tetap terang, layanan kesehatan tetap beroperasi, dan aktivitas ekonomi dapat terus bergerak,” tutup Anne.(fahmi)






























