Menu

Mode Gelap
Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Persahabatan Abadi Indonesia – Mesir, Jejak Sejarah yang Tak Sekadar Diplomasi

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Persahabatan Abadi Indonesia – Mesir, Jejak Sejarah yang Tak Sekadar Diplomasi Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Persahabatan antara Indonesia dan Mesir bukan sekadar persahabatan biasa; ia ibarat benih yang ditanam sejak awal kebangkitan bangsa Indonesia. Sejarah hubungan kedua negara telah berlangsung jauh sebelum banyak relasi internasional kita terjalin. Di antara jejak paling awal dari keterikatan ini adalah hubungan pendidikan dan dukungan politik yang tak tergoyahkan.

Paradigma hubungan ini dapat ditilik jauh ke belakang, saat para pelajar dan cendekiawan Nusantara mulai menuntut ilmu di Mesir. Sejarawan mencatat bahwa sejak pertengahan abad ke-19, sejumlah pemuda Indonesia telah menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo — salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan paling bergengsi di dunia.

Pendidikan di tanah Mesir itu bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan karakter intelektual generasi Muslim Indonesia yang kemudian menjadi pemimpin dan pemikir bangsa.

Namun hubungan Indonesia dan Mesir tidak hanya terbatas pada ranah pendidikan. Ketika Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, dunia internasional belum sepenuhnya mengakui eksistensi negara yang baru lahir ini. Di tengah tekanan kolonialisme dan diplomasi global yang rumit, Mesir tampil sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara resmi, pertama secara de facto pada 22 Maret 1946, dan kemudian secara de jure pada 10 Juni 1947 melalui penandatanganan Treaty of Friendship and Cordiality di Kairo.

Pengakuan ini bukan semata bentuk pengakuan diplomatik; itu adalah pengakuan moral yang membuka pintu dialog Indonesia dengan Liga Arab dan dunia Islam yang lebih luas. Tokoh-tokoh Indonesia seperti Haji Agus Salim memainkan peran penting dalam diplomasi awal ini, menjadikan hubungan Indonesia–Mesir sebagai tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa.

Tradisi pendidikan pun terus berlanjut hingga kini. Ribuan mahasiswa Indonesia masih memilih Al-Azhar sebagai tempat menimba ilmu agama dan budaya, dan hubungan akademik itu terus diperkaya. Pada November 2025, Indonesia dan Al-Azhar Univeristy secara resmi membuka Program Studi Bahasa Indonesia di Fakultas Bahasa dan Terjemahan sebagai simbol penghargaan terhadap bahasa dan budaya Indonesia serta sebagai sarana penguatan relasi ilmu pengetahuan kedua negara.

Seiring waktu, wujud kerjasama bilateral ini berkembang menjadi proyek nyata: pemberian hibah pembangunan asrama mahasiswa Indonesia, pertukaran beasiswa, hingga kerja sama strategis dalam berbagai forum internasional. Ini menggambarkan bahwa hubungan kedua negara bukan hanya romantisme sejarah, tetapi komitmen yang terus diperbarui.

Ketika Anda melangkahkan kaki ke sebuah museum di Mesir dan melihat mumi-mumi berusia milenium, Anda sebenarnya berdiri di atas lembaran sejarah peradaban manusia — sebuah peradaban yang selama berabad-abad menjadi magnet ilmu, budaya dan spiritual bagi dunia, termasuk Indonesia. Tempat seperti museum-museum di Kairo bukan hanya destinasi wisata, tetapi saksi bisu perjalanan panjang peradaban yang terus berinteraksi lintas zaman.

Museum-museum megah itu juga menjadi “jendela devisa” Mesir, lengkap dengan kafe, kios pernak-pernik dan cerita sejarah yang memikat jutaan pengunjung dari seluruh dunia. Pemindahan mumi-mumi melalui upacara besar yang pernah ditayangkan media adalah simbol betapa bangsa Mesir menaruh hormat pada warisannya sendiri — sebuah tradisi yang menarik jutaan wisatawan dan mencerminkan kecintaan Mesir terhadap sejarahnya sendiri.

Semoga persahabatan Indonesia–Mesir terus harmonis, tumbuh dari akar sejarah pendidikan, pengakuan kemerdekaan yang tulus, dan kolaborasi budaya yang menguat, menembus batas waktu dan generasi.***

Mesir 2026.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Trending di RAGAM